Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Atrial Fibrilation, Penyakit Jantung yang Sebabkan Risiko Kematian 3 Kali Lipat

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 09 Januari 2021 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 09 620 2341552 atrial-fibrilation-penyakit-jantung-yang-sebabkan-risiko-kematian-3-kali-lipat-64DHxxWJE3.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ARITMIA menjadi salah satu penyakit jantung yang mesti diwaspadai banyak kalangan. Di antara artimia, prevalensi itu atrial fibrilation paling sering dialami seseorang.

Artimia adalah gangguan irama jantung cepat lambat atau tak teratur, Sementara atrial fibrilation membuat seseorang mengalami sistem irama jantung tidak normal

Spesialis Jantung dr Sunu Budhi Raharjo SpJP(K), PhD, dari Heartology Cardiovascular Center, mengatakan, atrial fibrilation ini menjadi maslaah global karena jumlahnya banyak. Di Indonesia lebih dari 2 juta penduduk mengalaminya.

"Yang dikhawatirkan, keluhan menggangu, denyutnya cepat, tidak teratur dan jangan sampai terjadi stroke. Karena risikonya meningkat sampai 5 kali lipat," katanya dalam webinar Sabtu (9/1/2020).

Kalau tidak terkontrol, secara fungsional akan sangat mengganggu. Atrial fibrilation juga menyebabkan risiko kematian 3 kali lipat

Baca Juga: Uji Klinis Turki dan Brasil Jadi Pegangan BPOM Beri Izin Vaksin Sinovac 

jantung

Penyakit ini bisa saja terjadi pada saat jantung sehat. Pada kondisi atrial fibrilation yang terjadi adalah jantung bergetar cepat sekali dan seperti listrik korslet atau muncul trigger yang cepat.

Ada beberapa tahap diagnosis dan biasanya menanyakan keluahan pasien, dari yang simple terasa dada tidak nyaman, bergetar, denyut jantung hilang keliyengan, ini disebabkan karena aliran darah ke orak tidak cukup, lebih lanjut pingsan, dan lebih cepat lagi ada sudden cardiac atau kematian jantung mendadak.

"Tatalaksana diutamakan untuk penekanan sumber cepat tadi, obat diberikan pada lini pertama, lalu direkomendasikan dengan kateter ablasi pada atrial fibrilation atau melewati prosedur non bedah," tambahnya.

dr Sunu menjelaskan, metode menggunakan kateter ini dimasukkan melalui pembuluh darah di paha sampai di jantung. Dari situ, dokter akan melihat sumber yang jadi pemicu.

"Pemeriksaan titik yang dilakukan itu sangat detail dan kompleks. Dengan metode ini, ternyata angka kekambuhan atrial fibrilation ini kurang lebih 20-30 persen. Dari kedokteran berusaha mencari tindakan untuk meminimalisir risiko," bebernya.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah the advisor hd grid mapping catheter. Satu contoh studi, setelah dilakukan tindakan masih ada 36 persen gap,

Baca Juga: Yuk Cegah Diabetes di Masa Pandemi, Rumah Sakit Penuh Loh

"Yang menjadi benefit utama ini closing the gap, dibanding metode kateter lama. Kasus yang kita kerjakan ini seorang laki-laki 70 tahun, pasien ini ada banyak sekali komorbid, darah tinggi dan atrial fibrilation. Sejauh ini selalu menggunakan obat dengan baik, dan kena 2 kali stroke, lalu diskusi dengan baik dan dilakukan mappin," ucapnya.

Lalu studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa akurasinya tindakan ini jauh lebih banyak dan singkat. Risiko kekambuhan 3,5 kali lebih baik dibanding kateter lama.

Namun tindakan ini tergantung dari jenis aritmianya. Prosesnya juga cepat sekira 30 menit sampai 3 jam.

"Dari kasus yang pernah kita kerjakan itu secara kesuluran 3 jam. Tapi prosedur sekira 1-1,5 jam, tindakan pemetaan 1 sampai 1,5 jam. Kalau yang baru ini 1,5 kali lebih pendek, kalo aritmia yang simpel, ada denyut ekstra atau terasa hilang itu maka prosesur 30 menit selesai," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini