Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Butuh Rp210 Triliun Kejar Target Bauran Energi 23%

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Senin 20 September 2021 19:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 620 2474234 indonesia-butuh-rp210-triliun-kejar-target-bauran-energi-23-NcgAX0PyBh.jpg Indonesia butuh investasi energi terbarukan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia membutuhkan investasi yang besar untuk mempercepat upaya peralihan dan pengembangan energi terbarukan pada 2050. Selain investasi, pemerintah harus mempersiapkan regulasi untuk energi terbarukan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, pemerintah perlu membuka kesempatan investasi untuk proyek energi terbarukan. Kajian IESR menunjukkan bahwa untuk memenuhi target 23% bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 2025, investasi yang diperlukan sekitar USD14 miliar hingga USD15 miliar, atau setara dengan Rp210 triliun.

Baca Juga:  Waspada! Investasi Bodong Berkedok Forex Robot Trading, Ini Ciri-cirinya

Sementara itu, untuk mencapai net zero emission, IESR memperkirakan nilai investasi yang diperlukan hingga 2030 menyentuh USD25 miliar sampai USD30 miliar, atau sekitar Rp420 triliun.

"Angka tersebut akan lebih tinggi pada 2030–2050, yakni mencapai USD50 miliar hingga USD60 miliar per tahun," ujarnya dalam Press Conference The 4th Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021, Senin (20/9/2021).

Baca Juga: Soal Skandal Manipulasi Data Kemudahan Berbisnis Bank Dunia, Bahlil: Ya Gitu Deh

Dia melanjutkan, nilai investasi itu termasuk untuk pengembangan di sektor kelistrikan, transportasi, dan industri. "Investasi itu juga mencakup pengembangan green hydrogen, serta sintetik fuel untuk kendaraan yang tidak dapat menggunakan listrik, seperti pesawat dan kapal," ungkapnya.

Direktur Ketenagalistrikan, Telekomunikasi, dan Informatika Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Mardiana mengatakan Bappenas sudah menyusun beberapa kajian Net Zero Emission. Kajian itu berisi pertimbangan sosial, ekonomi, lingkungan dan kebutuhan pendanaan untuk bisa mempercepat dekarbonisasi di Indonesia.

Dia menuturkan, skenario yang disusun memiliki titik optimumnya pada kajian tahun 2060, di mana skenario tahun 2060 itu membahas solusi agar pada tahun 2060 batu bara tidak digunakan lagi.

"Tentunya untuk itu kita juga perlu melihat upaya mengurangi ketergantungan batu bara melalui beberapa upaya. Misalnya melihat perkembangan teknologi ke depan, potensi energi hidrogen untuk mencukupi kebutuhan transportasi, industri, pembangkit tenaga listrik," tuturnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini