Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

7.222 Anak Yatim Piatu Korban Covid-19 di Jabar Terima Jaminan Pendidikan-Kesehatan

Agung Bakti Sarasa, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 620 2478586 7-222-anak-yatim-piatu-korban-covid-19-di-jabar-terima-jaminan-pendidikan-kesehatan-D6z2jptAXc.jpg Ribuan yatim piatu korban Covid-19 mendapat bantuan pendidikan dan kesehatan. (Foto: Freepik)

BANDUNG - Ribuan anak yatim piatu akibat orangtuanya meninggal dunia korban Covid-19 di Provinsi Jawa Barat resmi menerima jaminan kebutuhan dasar.

Mereka akan menerima fasilitas pendidikan dan kesehatan hingga dapat hidup mandiri. Hal itu ditandai dengan peluncuran program Perlindungan dan Pemberdayaan Anak Yatim, Piatu, dan Yatim Piatu korban Covid-19.

Selain didukung APBD Provinsi Jabar, program ini juga didukung dana bantuan dari berbagai lembaga dan individu filantropi.

Peluncuran program dilakukan dalam acara Temu Pimpinan Aspirasi Masyarakat (Tepas): Kick Off Perlindungan dan Jaminan Sosial Anak Yatim, Piatu dan Yatim Piatu Akibat COVID-19, di Plaza Gedung Sate, Kota Bandung pada Selasa 28 September 2021.

Baca juga: 22 Anak di Sumba Timur Jadi Yatim Piatu Akibat Covid-19


Baca juga: Beri Beasiswa Yatim Piatu Akibat Covid-19, Anies: Membantu Mereka Ladang Pahala

Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum menegaskan, Pemprov Jabar menaruh perhatian besar terhadap anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena terpapar COVID-19. Data terbaru, jumlah anak yang perlu ditolong karena orang tuanya meninggal akibat COVID-19 sebanyak 7.222 anak yang tersebar di 27 kabupaten/kota.

Wagub menyebut bahwa anak yang kehilangan orang tuanya mempunyai tempat istimewa, sehingga harus disantuni, dikasihi, dihormati, dan diakui eksistensinya secara khusus. Visi Jabar Juara Lahir Batin, kata Uu, bisa terwujud salah satunya dengan mengharap berkah dari anak-anak yatim piatu.

"Ini membuktikan Pemda Provinsi Jawa Barat peduli terhadap anak yatim, piatu, dan yatim piatu sebagai amanat undang- undang," tegas Uu.

Sejumlah lembaga filantropi turut serta pada program ini di antaranya Forum Zakat (FoZ), Bank bjb, Bank BRI, Yayasan Rumah Yatim Piatu, ASN Peduli Jabar, Yayasan Pikiran Rakyat, Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI), Baznas Provinsi Jabar, dan Kita Bisa Indonesia.

Kemudian, Forum CSR Jabar, Yayasan Kawal Masa Depan, PT Taspen, Forum BUMD, Ikatan Alumni ITB, Ikatan Alumni Unpad, Himpunan Pengusaha Muda, dan PT Pos Indonesia. Pemprov Jabar pun masih membuka lembaga maupun individu yang hendak berpartisipasi dalam program ini.

"Harapan kami agnia atau lembaga lainnya juga memberi perhatian serupa. Kami pun berterima kasih kepada lembaga-lembaga yang sudah peduli," ucap Uu.

Uu juga mengajak warga Jabar yang memiliki kemampuan dan harta berlebih mau menjadi orang tua angkat anak-anak tanpa orang tua ini.

"Saya berharap (warga) jadilah bapak ibu angkat, jadilah orang tua angkat bagi anak yang membutuhkan perhatian, biaya, dan lainnya," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jabar, Dodo Suhendar mengatakan, program ini berupaya menjamin kebutuhan dasar anak seperti pendidikan, kesehatan, termasuk santunan yang sifatnya jangka pendek. Pemberdayaan akan disesuaikan dengan rentang usia anak mulai dari SD, SMP, SMA.

Bagi yang sudah di berusia 18 tahun ke atas, anak tersebut akan diupayakan melanjutkan kuliah atau jika tidak kuliah akan diberi keterampilan. Program ini juga menjangkau istri yang suaminya meninggal COVID-19 dan harus menghidupi anaknya seorang diri.

"Termasuk ibunya akan diberdayakan, namanya program Perempuan Rawan Sosial Ekonomi. Mereka akan diberdayakan, dilatih. Kalau mereka punya kemampuan akan diberikan alat dan modal," jelas Dodo.

Salah satu lembaga filantropi yang terlibat dalam program ini adalah Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI). Menurut Ketua APSAI, Feny Mustafa, organisasinya antusias menolong anak-anak kurang beruntung ini dan bertekad menjadikannya generasi andalan di masa depan.

"Ibu ingin jadi ibu kalian. Kalian bisa bermain dengan ibu, bisa ke rumah ibu. Di sini banyak bapak/ibu yang siap membantu kalian. Semangat sekolah, berjuang, dan kita semua di sini peduli dan sayang," ungkapnya.

Sebagai perkumpulan pengusaha yang cinta anak-anak, pihaknya berjanji akan menghimpun bantuan dari pengusaha yang lain yang sifatnya jangka panjang.

"Kami akan menghimpun pengusaha-pengusaha untuk berkontribusi memberikan beasiswa. Kami juga akan membuat program seperti lomba-lomba untuk anak- anak untuk membangkitkan motivasi," katanya.

Septiana masih duduk di bangku kelas 5 SD ketika ibunya meninggal karena COVID-19. Septiana adalah salah satu di antara anak-anak kurang beruntung yang hadir dalam peluncuran program ini. Bocah lelaki tersebut merasa senang dapat bantuan.

"Saya anak terakhir dari dua bersaudara, ibu saya yang meninggal," katanya.

Anak lainnya, Ayla Putri juga turut merasa gembira. Perhatian yang dia terima dari banyak pihak menjadi energi dan harapan baru dalam mengejar mimpinya menjadi seorang dokter. Bantuan materi yang diterimanya akan dipakai untuk keperluan sekolah.

"Bantuan untuk keperluan sekolah. Cita-cita ingin jadi dokter," ungkapnya.  

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini