Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berkat Ekspor, Bisnis Budidaya Perikanan Tetap Cuan di Tengah Pandemi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Jum'at 08 Oktober 2021 18:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 08 620 2483519 berkat-ekspor-bisnis-budidaya-perikanan-tetap-cuan-di-tengah-pandemi-H4zElrEiCN.jpg Industri Akuakultur (Foto: KKP)

JAKARTA - Industri akuakultur atau budidaya perikanan tetap cuan di tengah pandemi Covid-19. Berkat ekspor, bisnis ini menggeliat dan memberi keuntungan.

VP of eFisheryFresh I Made Yusdi Prawira menjelaskan, bisnis budidaya perikanan tidak terlalu berdampak signifikan di tengah pandemi Covid-19 karena ditopang oleh ekspor. Meski sempat terganggu di awal pandemi karena banyak hotel dan pasar yang tutup, namun perlahan-lahan bisnis budidaya perikanan kembali pulih setelah adanya pelonggaran PPKM.

"Pada dasarnya impact-nya kurang lebih 3 minggu sampai 1 bulan tapi kini sudah mulai terbuka, PPKM dijalankan efeknya sudah mulai jalan dari sisi untuk distribusi ke agen yang diberikan ke pasar dan distribusi ke restoran sudah mulai naik lagi," kata pria yang akrab disapa Imed kepada Okezone, Jakarta, Jumat (8/10/2021).

 

Baca Juga: Tips Sukses Budidaya Ikan Anti Gagal

Hingga saat ini, sudah lebih dari 17.000 pembudidaya dari 250 kota/kabupaten di Indonesia yang bergabung ke dalam ekosistem eFishery. Untuk eFishery Fresh sendiri telah bekerjasama dengan ratusan pembudidaya di Indonesia.

"Kami memasok ke agen dan processing, rasionya hampir 50:50 dan sisanya kami pasok ke distributor dan horeka (hotel, restoran dan kafe)," katanya.

Saat ini, tiga komoditas dengan volume produksi terbesar di Indonesia yaitu nila, lele, dan udang yang masing-masing memberi andil sebesar 22,94%, 16,28%, dan, 15,33%. Yang menarik adalah meskipun secara volume produksi udang menempati posisi ke-tiga, namun secara value, udang menempati posisi pertama dengan nilai produksi yaitu sebesar Rp397 triliun atau 31% dari keseluruhan nilai budidaya non-rumput laut.

Nilai tersebut diprediksi akan terus meningkat mengingat ambisi Indonesia untuk menjadi produsen udang terbesar di dunia di mana Indonesia saat ini berada pada posisi keempat setelah Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.

Sementara itu, Imed menjelaskan, pembudidaya yang bekerja sama dengan eFishery memperoleh akses terhadap market yang lebih besar. eFisheryFresh mengusung konsep fair trade.

"Kami mengefisienkan rantai pasok dan distribusi sehingga pembudidaya dapat memperoleh harga yang baik dan pembeli pun dapat memperoleh ikan dengan kualitas yang terjamin," katanya.

Imed melanjutkan, dalam bisnis ini pihaknya yang bekerjasama dengan pembudidaya juga melakukan ekspor, terutama ekspor udang. Dari sisi ekspor tidak terdampak, namun hanya saja bermasalah dari sisi resource atau suplai udang dari pembudidaya.

"Itu yang kita kembangkan bersama, jadi secara demand ekspor tidak ada masalah sama sekali, ekspor kita signifikan naik untuk penjualan ke agen itu agak sedikit tertahan tapi mulai recover, itu kurang lebih hanya 1 bulan penyesuaian setelah itu sudah mulai recover lagi," katanya.

Pihaknya juga melakukan mitigasi risiko dengan melihat daerah mana saja yang terdampak PPKM akibat pandemi Covid-19. Sebab, tidak semua daerah mengalami penurunan produksi budidaya ikan.

"Karena eFishery cukup banyak dengan kerjasama dengan 17 ribu petani di 250 kota. sehingga area coverage kita mix and match, sehingga secara total bisnis tetap bisa tumbuh selama pandemi," katanya.

Targetkan 1 Juta Pembudidaya

 

Pada pada tahun 2025, pihaknya menargetkan dapat menjangkau 1 juta pembudidaya untuk bergabung dalam ekosistem eFishery.

"Selain itu, kami juga menargetkan untuk melakukan ekspansi bisnis ke beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Vietnam," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini