Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lonjakan Komoditas Dorong Kenaikan Harga Pupuk

Antara, Jurnalis · Senin 08 November 2021 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 08 620 2498613 lonjakan-komoditas-dorong-kenaikan-harga-pupuk-o9Q5Ahxya5.jpg Harga Pupuk Meningkat Didorong Kenaikan Harga Komoditas. (Foto: Okezone.com/Pupuk Indonesia)

JAKARTA - Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menyoroti harga pupuk komersil yang dianggap tinggi. Sekjen APPI Achmad Tossin Sutawikara mengatakan, tren harga pupuk memang sedang mengalami kenaikan, yang disebabkan pandemi global dan melonjaknya harga komoditas di pasar Internasional yang turut mempengaruhi harga pokok produksi pupuk di Indonesia.

Komoditas dimaksud yakni amoniak, phosphate rock, dan KCl (bahan baku NPK), gas hingga minyak bumi.

Selain dipicu adanya konflik pasokan gas antara Rusia, Eropa dan Amerika Serikat, harga komoditas naik lantaran pandemi Covid-19 menyebabkan negara-negara eksportir pupuk seperti Rusia dan China mengambil kebijakan untuk menahan ekspornya demi mengutamakan kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga: Kejaksaan Tangkap Buronan Maling Pupuk Senilai Rp7,2 Miliar

Di samping itu, faktor lain yang turut mempengaruhi HPP pupuk yakni biaya freight atau angkutan kapal yang melonjak.

Kendati demikian, Tossin menyebut bahwa harga pupuk komersil yang dijual Pupuk Indonesia Grup saat ini masih dijual sesuai dengan harga pokok produksi dan mempertimbangkan kondisi pasar.

“Harga ini ditetapkan Pupuk Indonesia Grup dalam upaya membantu pertumbuhan ekonomi nasional serta petani di Indonesia. Sementara untuk NPK dikarenakan saat ini harga bahan baku Impor cukup tinggi, maka berpengaruh ke harga jual juga,” kata Tossin, dikutip dari Antara, Senin (8/11/2021).

Baca Juga: Wujudkan Swasembada, Mentan SYL Pastikan Stok dan Tingkatkan Kapasitas Produksi Pupuk

Tossin memproyeksikan, berdasarkan perkembangan global, tren harga jual pupuk komersial jenis NPK diproyeksikan ke depan relatif akan terus meningkat seiring dengan perkembangan harga internasional khususnya harga bahan baku.

Di sisi lain, di Indonesia pangsa pasar NPK masih terbilang besar, sebab saat ini potensi kebutuhan nasional pupuk jenis NPK sebesar 13.549.645 ton. Di mana dari total potensi tersebut Pupuk Indonesia Grup sudah mensuplai 3.187.000 ton atau setara 23,5% terdiri dari kebutuhan subsidi 2.700.000 ton atau 19,9% dan non subsidi 487.000 ton atau 3,6%.

Selain Pupuk Indonesia Grup, produsen pupuk swasta, berkontribusi memproduksi 3.594.000 ton atau 26,52 persen dan produk impor 387.879 ton atau setara 2,8 persen. Jika di total, suplai pupuk NPK di dalam negeri baru sebesar 7.168.879 ton dari total kebutuhan yang mencapai 13,5 juta ton lebih.

"Secara teoritis terdapat potensi kebutuhan yang belum tergarap sebesar 6.380.766 ton atau setara dengan 47,09 persen dari kebutuhan nasional," ungkapnya.

Namun begitu, perlu dicatat bahwa angka kebutuhan nasional merupakan perhitungan dari luas lahan dikalikan dosis optimal.

“Terdapat praktek di lapangan, yaitu tidak melakukan pemupukan/pemupukan tidak sesuai dosis. Angka-angka tersebut, saya asumsikan jika pupuk indonesia menggunakan angka produksi dan swasta menggunakan asumsi kapasitas produksi," ujarnya.

Sementara itu, APPI mencatat pengguna pupuk komersil NPK dalam negeri didominasi produsen pupuk swasta yang mencapai 80,42% atau 3.594.000 ton dari total produksi pupuk komersial (non subsidi). Selebihnya diproduksi Pupuk Indonesia Grup sebesar 10,89% atau setara 487.000 ton, dan 8,67% atau 387.879 ton berasal dari impor.

“Produsen pupuk di Indonesia saat ini tidak hanya Pupuk Indonesia Grup, ada juga perusahaan swasta yang memproduksi pupuk seperti Wilmar Grup, Saraswanti Anugerah Makmur, Saprotan Utama, Polowijo dan lainnya," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini