Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nilai Ekonomi Digital di Indonesia Tembus USD70 Miliar

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 620 2503283 nilai-ekonomi-digital-di-indonesia-tembus-usd70-miliar-TIBDhB5kPQ.jpg Perkembangan ekonomi digital di Indonesia tumbuh pesat (Foto: Reuters)

JAKARTA – Pertumbuhan sektor ekonomi digital Indonesia sangat kuat, dengan sektor e-commerce yang tumbuh 52% YoY masih menjadi pendorong utama. Hal ini terungkap dalam Laporan SEA e-Conomy tahun ini yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company.

Dalam laporan tahunan keenam yang berjudul “Roaring 20s: The SEA Digital Decade”, ekonomi internet Indonesia secara keseluruhan memiliki Gross Merchandise Value (GMV) senilai USD70 miliar pada tahun 2021 dan diperkirakan naik dua kali lipat menjadi USD146 miliar hingga tahun 2025.

Laporan dua tahunan ini, yang disusun menggunakan data dari Google Trends, insight dari Temasek, dan analisis dari Bain & Company, selain informasi dari kalangan industri dan wawancara dengan para ahli, menyoroti perekonomian enam negara di Asia Tenggara yakni Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Baca Juga: RI Jadi 'Raja' Ekonomi Internet, Ini Buktinya

Adapun pada 2021, semua negara yang tercakup dalam laporan ini mengalami pertumbuhan dua digit, dan Indonesia menyumbang 40% dari total GMV di kawasan ini sebesar USD70 miliar. Sementara, GMV e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh dari USD35 miliar pada 2020 menjadi USD53 miliar pada 2021, dan CAGR diproyeksikan naik 18% menjadi $104 miliar hingga tahun 2025.

“Penambahan 21 juta konsumen digital baru sejak awal pandemi juga mendorong pertumbuhan yang lebih besar di sektor e-commerce, dengan 72% di antaranya berasal dari wilayah non-kota besar besar,” kata Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, dalam Press Briefing: Laporan e-Conomy SEA 2021 oleh Google, Temasek dan Bain & Company secara virtual, Rabu (17/11/2021).

“Dengan volume penelusuran di Google untuk pertanyaan seputar pedagang naik 18 kali lipat sejak 2017, tertinggi di antara enam negara Asia tenggara, tidaklah mengherankan jika e-commerce merupakan segmen ekonomi digital indonesia yang terbesar dan tumbuh paling cepat,” tambah dia.

Baca Juga: Menko Airlangga: 8 Unicorn dan 1 Decacorn Harus Bisa Berintegrasi

Sektor Transportasi dan Makanan tumbuh 36% YoY, dari GMV sebesar USD5,1 miliar pada 2020 menjadi USD6,9 miliar pada 2021, dan diperkirakan mencapai USD16,8 miliar hingga 2025, dengan CAGR 25%.

Selain itu, sektor media online tumbuh 48% YoY dari USD4,3 miliar menjadi USD6,4 miliar selama periode yang sama, dan diperkirakan tumbuh menjadi USD15,8 miliar hingga 2025 dengan CAGR 26%.

“Pada 2021, 55% pengguna baru layanan transportasi online di Asia Tenggara memakai layanan ini setidaknya seminggu sekali dibanding 38% pelanggan lama. Senang rasanya melihat sektor transportasi perlahan mulai pulih dan sebagian besar didorong oleh para pengguna baru,” ujar Randy.

Di Indonesia, meskipun sektor perjalanan online cukup lambat untuk pulih, sektor ini mencatatkan pertumbuhan 29% selama 2020, dari GMV sebesar USD2,6 miliar menjadi USD3,4 miliar pada 2021. Sektor ini diperkirakan pulih dalam jangka menengah hingga panjang, dan diprediksi tumbuh mencapai USD9,7 miliar dengan CAGR 30% hingga tahun 2025.

Selain memberikan pandangan 10 tahun ke depan yakni hingga 2030, untuk pertama kalinya laporan ini juga menyoroti bahwa kawasan ini sedang bergerak menjadi perekonomian digital senilai USD1 triliun (dalam GMV), yang dipimpin oleh sektor e-commerce dan toserba online. Pada 2030, Indonesia diperkirakan tumbuh 5 kali lipat menjadi ekonomi digital senilai $330 miliar.

Peluang untuk Pedagang Digital

Untuk pertama kalinya, laporan ini juga mencantumkan bagian khusus yang membahas sektor UKM di Asia Tenggara.

Survei dilakukan dengan 3.000 pedagang digital (digital merchant) di enam negara untuk mengetahui cara mereka menggunakan platform digital dan layanan keuangan guna melewati pandemi. Dua puluh delapan persen pedagang di Indonesia mengatakan mereka tidak akan bertahan tanpa berjualan di platform digital.

“Indonesia terus menarik perhatian di Asia Tenggara sebagai rumah bagi salah satu ekosistem digital paling dinamis.” Kata Associate Partner di Bain & Company, Willy Chang, dalam kesempatan yang sama.

“Penerapan berkelanjutan dan investasi pada faktor-faktor pendukung utama seperti pembayaran digital, kredit konsumen, termasuk produk buy now pay later (BNPL), dan last mile logistic akan membantu meningkatkan penetrasi digital secara keseluruhan di kalangan konsumen dan UKM,” tambah Willy.

Maraknya Pendanaan dan Perlombaan untuk IPO

Indonesia adalah tujuan investasi terpopuler di kawasan ini dan terus menarik modal global terlepas dari kondisi pasar yang tidak menentu. Aktivitas kesepakatan investasi mengalami kebangkitan yang sangat kuat di paruh pertama 2021, dengan 300 kesepakatan senilai USD4,7 miliar di semester 1 2021, dibandingkan 437 kesepakatan senilai USD4,4 miliar di sepanjang tahun 2020.

Nilai kesepakatan di Semester 1 2021 saja telah melampaui total empat tahun terakhir. Secara regional, tahun ini ada 23 unicorn teknologi konsumen, tujuh di antaranya berasal dari Indonesia dan sudah ada beberapa yang berencana untuk IPO dalam waktu dekat.

“Kami sangat optimistis dengan potensi pertumbuhan ekonomi internet Indonesia, yang didorong oleh basis pengguna yang sangat besar, sangat antusias, dan telah mengadopsi layanan digital selama pandemi,” kata Fock Wai Hoong, Managing Director, Investment (Telecommunications, Media & Technology and South East Asia), dari Temasek.

“Kami berharap dapat meningkatkan investasi kami di berbagai perusahaan digital terbaik di Asia Tenggara, dan menggunakan modal kami untuk mengatalisasi solusi yang akan menciptakan kemakmuran berkelanjutan bagi bisnis dan komunitas,” tambah dia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini