Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Covid-19 Masih Mengancam, Jokowi Ajak Dunia Bangun Arsitektur Kesehatan Lebih Kuat

Raka Dwi Novianto, Jurnalis · Jum'at 13 Mei 2022 08:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 620 2593427 covid-19-masih-mengancam-jokowi-ajak-dunia-bangun-arsitektur-kesehatan-lebih-kuat-CLGMltltu5.jpg Presiden Jokowi ajak dunia bangun arsitektur kesehatan yang lebih kuat. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong semua negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi Covid-19 serta membangun arsitektur kesehatan yang lebih kuat.

Hal itu disampaikanya saat berpidato secara virtual pada Global Covid-19 Summit yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat pada Kamis (12/5/2022).

Menurutnya, pandemi Covid-19 memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi dunia, yakni ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan dunia terhadap pandemi ternyata tidak cukup kuat.

 BACA JUGA:Di Depan Anggota Kongres AS, Jokowi Singgung Dampak Perang Rusia-Ukraina

"Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70% penduduk setiap negara. Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap Covid-19. Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi. Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menjelaskan bahwa setidaknya diperlukan tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

Pertama, akses kesehatan yang inklusif. Menurutnya, seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.

"Infrastruktur kesehatan dasar harus memadai dan siap menghadapi pandemi. Di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan," imbuhnya.

Kedua, akses pembiayaan yang memadai. Terkait hal itu, Presiden Jokowi mendorong perlunya mekanisme pembiayaan kesehatan baru yang melibatkan negara donor dan bank pembiayaan multilateral karena tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya.

"Dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi," lanjutnya.

Ketiga, pemberdayaan. Presiden Jokowi memandang bahwa kapasitas kolektif harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kuncinya. Menurutnya, kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi, dan akses ke bahan mentah harus diperkuat.

 BACA JUGA:Jokowi : Sejak 2019 ASEAN Memastikan Keberlangsungan Perdamaian

"Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan. Diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan. Dengan kapasitasnya, Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan," tegasnya.

Di akhir pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa presidensi Indonesia di G20 memberikan perhatian besar terhadap kerja sama kesehatan secara inklusif. Untuk itu diperlukan peran dan keterlibatan semua negara, serta penguatan peran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan multilateralisme.

"Tidak boleh ada yang tertinggal dalam upaya kita membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Recover together, recover stronger," tutupnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini