Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Baru 10% yang Bisa Didaur Ulang, Sampah Plastik Malah Tersebar di Laut dan Sungai

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 17 Juni 2022 17:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 17 620 2613484 baru-10-yang-bisa-didaur-ulang-sampah-plastik-malah-tersebar-di-laut-dan-sungai-toiQX7aT5G.jpg Ilustrasi Sampah Plastik. (Foto: Shutterstock)

PERMASALAHAN sampah plastik memang masih menjadi momok di dunia. Pasalnya, sampai saat ini baru sekira 10 persen limbah plastik yang bisa diolah. Tidak heran jika kemudian pengurangan plastik terus digaungkan di sana-sini.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), Sigit Reliantoro, mengatakan bahwa sampah yang tidak didaur ulang (recycle) ini ada tidak hanya ada di daratan, tapi juga di laut dan sungai.

"Jadi ada dua sektor yang jadi perhatian pertama plastik dan metal. Plastik itu diciptakan sejak 1869 sampai sekarang baru 10 persen bisa didaur ulang, di mana sisanya ada di jalan, sungai di laut dan darat," ujar Sigit Reliantoro di Jakarta.

Sampah Plastik

Menurut Sigit, salah satu cara untuk menanganinya adalah dengan menerapkan ekonomi sirkular. Di mana manfaat yang dirasakan dapat memperpanjang masa penggunaan plastik, khususnya di Indonesia.

Umumnya masyarakat mengenal sebagai rescyle atau mendaur ulang, namun konsep ekonomi sirkular ini berbeda. Perbedaannya sirkular ekonomi, plastik bisa memutarkan perekonomian, hal itu bisa memberikan penghasilan kepada masyarakat, juga bisa digunakan secara lama dalam kebutuhan sehari-hari (produk/alat).

"Karena baru sampai 10 persen di rescyle karena butuh yang namanya konsep siklus ekonomi untuk memperpanjang masa plastik, untuk digunakan. Sehingga tidak menimbulkan tumpukan lagi dan sekarang digunakan kembali untuk produk atau kegiatan lain, muter terus digunakan manusia," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Sigit mengatakan perlu adanya kerjasama dan adanya fasilitas. Guna mendorong masyarakat bisa me-resycle dan menerapkan konsep ekonomi sirkular, yang bisa membangun ekonomi masyarakat.

"Nah kegiatan itu membentuk ekonomi, sehingga tidak ada pembuangan. perlu difasilitasi oleh market place dan pengusaha lain yang bisa diolah kembali," tambah Sigit

Sekadar informasi, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan, saat ini dunia memproduksi 400 miliar ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 85 persen sampah laut berasal dari sampah plastik. PBB memprediksi angka ini akan terus naik, hingga pada 2040 akan naik hampir tiga kali lipat, di mana 23-27 juta metrik ton sampah dibuang ke laut per tahun, yang berarti 50 kilogram plastik per meter di sepanjang garis pantai.

Oleh karena itu, organisasi internasional seperti PBB, Bank Dunia, dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyerukan pengendalian penggunaan plastik sekali pakai. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan pajak atau cukai.

Akhirnya banyak negara yang mulai menerapkan berbagai kebijakan pengendalian plastik, di antaranya melarang penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa negara yang melarang sampah plastik adalah China, Bangladesh, Afrika Selatan, Rwanda dan Italia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini