Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dolar Melemah karena Imbal Hasil Obligasi AS Turun

Antara, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 07:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 620 2616505 dolar-melemah-karena-imbal-hasil-obligasi-as-turun-13v9zhrbBp.jpg Dolar AS Melemah Hari Ini. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS melemah pada akhir perdagangan Rabu, karena imbal hasil obligasi pemerintah AS turun di tengah kekhawatiran ekonomi AS dapat meluncur ke dalam resesi. Ketua Federal Reserve Jerome Powell pun menyatakan suku bunga yang lebih tinggi menyakitkan tetapi cara bank sentral memperlambat inflasi.

Dalam sidang Komite Perbankan Senat AS, Powell mengatakan, The Fed tidak mencoba merekayasa resesi untuk menekan inflasi tetapi berkomitmen penuh untuk mengendalikan harga-harga sekalipun hal itu berisiko terhadap penurunan ekonomi.

"Suku bunga yang lebih tinggi memang menyakitkan, tetapi itu adalah alat yang kita miliki untuk menurunkan inflasi," kata Powell, dikutip dari Antara, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Euro Anjlok Sikapi Kebijakan Bank Sentral Eropa

Investor pun khawatir kenaikan suku bunga agresif bank sentral untuk menjinakkan risiko inflasi menyebabkan perlambatan atau resesi global yang tajam. Suku bunga lebih tinggi telah memperkuat dolar tetapi euro telah naik dalam beberapa hari terakhir karena rencana Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi.

"Keputusan Federal Reserve menyiapkan panggung untuk langkah yang lebih besar oleh bank sentral lain dan itu memimpin euro lebih tinggi, misalnya, dan dolar Kanada lebih tinggi," kata Direktur Pelaksana BK Asset Management, Kathy Lien.

Baca Juga: Dolar AS Kian Tertekan Penyataan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde

"Penjualan obligasi pemerintah AS memberi tahu kita bahwa pasar tidak terkejut dengan apa pun yang dikatakan Powell. Saya akan mengaitkan pelemahan dolar lebih banyak dengan pergerakan greenback sejalan dengan imbal hasil obligasi pemerintah," kata Lien.

Inflasi harga konsumen Inggris mencapai tertinggi 40 tahun di 9,1% pada Mei. Sementara inflasi tahunan Kanada melonjak menjadi 7,7% bulan lalu ke tingkat tertinggi sejak Januari 1983.

Data terbaru menunjukkan harga-harga konsumen berjalan lebih panas dari yang diharapkan.

Sementara itu, Sterling awalnya kehilangan hampir 1,0% karena jatuh ke level terendah satu minggu di USD1,2162, tetapi telah mengurangi sebagian besar kerugian. Dolar Kanada naik terhadap mata uang AS, bergerak lebih jauh dari level 1,30 yang ditutup pada Jumat lalu (17/6/2022) dan pada Senin (20/6/2022).

"Powell memberikan lampu hijau untuk penguatan dolar lebih lanjut terhadap yen Jepang," kata Lien.

Menurut Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, pelaku pasar terbelah antara mengakui bahwa bank sentral memperketat kondisi keuangan lebih agresif dari yang diharapkan satu atau dua bulan lalu dan kekhawatiran tentang apa dampak ekonomi yang akan terjadi.

"Sentimen berubah-ubah sebagian karena kami tidak yakin kapan inflasi akan mencapai puncaknya. Semuanya didorong oleh inflasi, ekspektasi inflasi dan kebijakan bank sentral," kata Chandler.

Indeks dolar turun 0,31%, dengan euro naik 0,47% pada 1,0574 dolar. Yen menguat 0,36% menjadi 136,14 per dolar, sementara sterling turun 0,04 persen menjadi 1,2267 dolar.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini