Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Cacar Monyet Makin Meluas, WHO Minta Gay dan Biseksual Tak Gonti-Ganti Pasangan

Kevi Laras, Jurnalis · Senin 01 Agustus 2022 13:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 01 620 2639914 kasus-cacar-monyet-makin-meluas-who-minta-gay-dan-biseksual-tak-gonti-ganti-pasangan-jYVFfRhBET.jpg Ilustrasi Cacar Monyet. (Foto: Reuters)

KASUS cacar monyet atau monkey pox membuat kekhawatiran tersendiri bagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, kasus cacar monyet ini pun sudah memakan korban di berbagai negara.

Tebaru, Spanyol melaporkan kematian pertamanya pada akhir pekan kemarin, tak lama setelah Brasil melaporkan kematian terkait cacar monyet pertama di luar Afrika dalam gelombang penyakit saat ini.

Nah, salah satu penyebab meluasnya kasus cacar monyet ini pun dituding karena kebiasaan gonta-ganti pasangan yang banyak dilakukan pada kelompok pria gay dan biseksual. Karena itu, WHO pun mengimbau agar gay dan biseksual kurangi pasangan seks mereka. Ini harus dilakukan oleh kelompok tersebut demi membantu menghentikan penyebaran virus cacar monyet di masyarakat.

"Untuk pria yang berhubungan seks dengan pria, saat ini dimohon kurangi jumlah pasangan seksual Anda. Pikir lagi ketika ingin melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru yang mana itu meningkatkan risiko kena cacar monyet," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen WHO, dikutip dari Stat News.

Cacar monyet yang saat ini menyebar di banyak negara itu menyerang lebih banyak pada kelompok pria berhubungan seks dengan pria. Kelompok ini pun kebanyakan dari mereka suka bergonta-ganti pasangan yang bisa meningkatkan risiko penyebaran semakin luas.

Kesulitan terjadi di kasus ini saat para pria yang berhubungan seksual dengan pria lain tidak bisa menjelaskan secara pasti kontak dekat mereka. Upaya surveilans tidak maksimal karena kebanyakan dari mereka tidak saling mengenal dengan siapa dia berhubungan seksual.

"Karena itu vaksinasi menjadi upaya yang bisa dilakukan untuk menekan angka kasus. Edukasi pada kelompok pria yang berhubungan seksual dengan pria diperlukan agar mereka mau menerima vaksin," tambah laporan tersebut.

Di sisi lain, Keletso Makofane, ahli epidemiologi jaringan sosial di Pusat Kesehatan dan Hak Asasi Manusia FXB Harvard, mengatakan setuju dengan rekomendasi WHO agar pria berhubungan seksual dengan pria mengurangi jumlah pasangan seksual mereka.

Tapi, pejabat kesehatan perlu memastikan nada atau bahasa yang dipakai tidak merendahkan kelompok tertentu. Terkadang, ketika orang berbicara tentang menghentikan perilaku seksual tertentu, implikasinya bisa jadi ada sesuatu yang salah dengan perilaku seksual itu sendiri.

"Tapi, sebagai tindakan sementara, membatasi praktik seks tertentu adalah salah satu alat di antara banyak alat yang bisa digunakan untuk mengelola risiko," kata Makofane. "Mengurangi pasangan seksual adalah hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri mereka sendiri maupun komunitas mereka," tambahnya.

Lebih lanjut, kelompok bernama RESPND-MI yang berfokus pada komunitas LGBTQ+ mengeluarkan pernyataan bahwa ini saatnya menghentikan seks berkelompok sampai kita semua mendapatkan suntikan satu atau dua vaksin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini