Kumpulan Berita
CEO Danantara Indonesia yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani menyatakan pasar modal Indonesia mencatat pertumbuhan yang sangat pesat dan kini menjadi yang terbesar di kawasan ASEAN.
Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyatakan dukungannya terhadap langkah besar pemerintah dalam mereformasi struktur pasar modal nasional. AEI memandang komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola dan transparansi sebagai sinyal positif untuk memulihkan kepercayaan investor domestik maupun global.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama sekaligus Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik memaparkan langkah-langkah konkret bursa dalam melakukan pendalaman pasar (market deepening) guna menarik minat investor global. Fokus utama BEI saat ini adalah meningkatkan transparansi data kepemilikan saham agar setara dengan standar bursa-bursa maju di dunia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama seluruh jajaran Self-Regulatory Organization (SRO) mengumumkan komitmen besar untuk melakukan reformasi struktural yang ambisius di pasar modal nasional. Langkah ini diambil guna memenuhi ekspektasi investor global serta meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi (investability) Indonesia di mata penyedia indeks internasional seperti MSCI.
Danantara Indonesia membuka peluang untuk masuk sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan rencana demutualisasi bursa. Namun hingga saat ini, besaran modal dan porsi kepemilikan yang akan diambil Danantara masih belum ditetapkan.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui lini Investment Management-nya menegaskan peran aktifnya sebagai pemain besar di pasar modal Indonesia.
Danantara Indonesia membuka peluang untuk masuk sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal tersebut disampaikan CEO Danantara Indonesia yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan adanya hambatan psikologis yang membuat perusahaan asuransi dan dana pensiun (Dapen) ragu untuk memperbesar porsi investasi mereka di pasar saham. Purbaya mensinyalir adanya ketakutan terhadap "perintah tidak tertulis" yang selama ini membayangi kebijakan investasi institusi-institusi besar tersebut.