Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Efek Samping Karantina Corona COVID-19, Depresi hingga Penyakit Jantung

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Jum'at 03 April 2020 20:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 03 620 2193849 efek-samping-karantina-corona-covid-19-depresi-hingga-penyakit-jantung-ygFsSyW2Y0.jpg Depresi Efek Samping Karantina Corona (Foto: Shutterstock)

Jumlah pasien positif virus corona COVID-19 terus meningkat setiap hari. Oleh karena itu, pemerintah terus menggaungkan physical distancing untuk memutus mata rantai penularan virus corona.

Hal ini dilakukan lantaran pemerintah tidak mau mengambil opsi lockdown, meskipun sudah banyak pihak yang meminta Indonesia menerapkan lockdown. Memang, Direktur Darurat Kesehatan WHO, Michael Ryan mengatakan melakukan lockdown di sebagian kota bukanlah cara efektif yang bisa dilakukan.

Jumlah korban positif corona

Dalam wawancara dengan BBC, WHO mengatakan setelah melakukan lockdown di beberapa kota yang terindikasi, pihak berwenang harus secara aktif mencari orang-orang yang terinfeksi. Menurutnya, upaya physical distancing harus lebih diperhatikan. Pemerintah pun wajib melakukan isolasi dan mencari siapa saja orang yang terlibat kontak dengan mereka yang positif.

Awalnya, physical distancing disebut sebagai social distancing, yakni menjaga jarak fisik setidaknya 1,5 meter dari orang lain, dan diklaim sebagai cara yang paling ampuh memutus persebaran penyakit COVID-19.

(Baca Juga : 10 Tanda Anda Mengalami Depresi)

Tips menghindari corona

Meski demikian, dengan sifat dasar manusia sebagai mahluk sosial membuat mereka kesulitan hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, WHO pun menggunakan istilah Physical Distancing, karena ingin orang-orang tetap terhubung.

"Bisa melalui berbagai media sosial agar tetap terhubung dengan orang lain karena kesehatan mental Anda sama pentingnya dengan kesehatan fisik Anda," ucap Dr Maria Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO.

(Baca Juga : 7 Cara Mengatasi Depresi Secara Islam)

Gubernur New York, Andrew Cuomo, menyebut isolasi di rumah dan menerapkan jarak dari sesamanya akan membuat tekanan psikologis. Apalagi, bagi mereka yang memiliki trauma. "Ini bukan kondisi alami manusia untuk tidak terhibur, punya kedekatan, merasa takut dan tidak bisa merangkul seseorang. Ini semua hal yang tidak wajar dan membingungkan,” sambungnya.

Sejumlah ahli sudah lama mengetahui kesepian atau perasaan terisolasi dapat menyebabkan kecemasan, depresi dan demensia pada orang dewasa. Respons sistem kekebalan tubuh yang melemah, tingginya tingkat obesitas, tekanan darah, penyakit jantung, dan harapan hidup yang lebih pendek juga dapat menjadi faktor berpengaruh.

Sedangkan pada anak-anak yang punya sedikit teman, terintimidasi atau terisolasi di sekolah cenderung mengalami tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, dan beberapa kelambanan dalam perkembangan.

(Baca Juga : Ini Alasan Mengapa Masyarakat Sukar Melakukan Physical Distancing)

Meski begitu, Kepala Bagian Psikologi di Rumah Sakit Anak San Antonio, Elena Mikalsen, mengatakan belum ada catatan yang bisa digunakan, terkait pandemi global seperti COVID-19. "Studi yang dilakukan lebih mengarah pada isolasi secara paksa tanpa adanya dukungan," papar Elena Mikalsen.

Elena menambahkan, suatu hal yang sangat membantu ketika seluruh dunia berada dalam situasi yang sama, yang mengarah pada perkembangan strategi penanganan yang cepat dari berbagai sumber, termasuk teman, sekolah, dan bisnis.

(Baca Juga : Benda-Benda di Rumah yang Perlu Disemprot Disinfektan)

"Situasi yang kita hadapi sekarang, begitu banyak dukungan sosial yang merupakan salah satu indikator besar tentang baiknya kesehatan seseorang termasuk kesehatan mental,"pungkasnya.

Hubungan sosial memang sangat diperlukan tidak hanya untuk memerangi pandemi, tetapi untuk membangun kembali dan memulihkan diri. Namun, apapun istilah kata yang dipakai, yang paling terpenting adalah Pandemi Corona ini segera berakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini