Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Lafal Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Berniat yang Tepat

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Selasa 28 April 2020 11:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 28 620 2205952 6-lafal-niat-puasa-ramadhan-dan-waktu-berniat-yang-tepat-DnIH87PDY1.jpg

Salah satu rukun puasa Ramadhan adalah niat puasa. Menurut Mazhab Syafi’i, pelafalan niat puasa sangat dianjurkan. Waktu berniat pun diwajibkan pada malam hari, sebelum terbitnya matahari. Tidak sah puasa Ramadhan seseorang yang berniat puasa pada pagi hari.

Dilansir dari website nu.or.id, terdapat beberapa redaksi lafal niat puasa Ramadhan.

1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kata “Ramadhana” dianggap sebagai mudhaf ilaihi sehingga diakhiri dengan fathah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya. Sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan lil mujawarah.

2. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta‘ālā

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

(Baca Juga : Jawaban Gus Miftah Atas Isu Kiamat 15 Ramadhan)

Kata “Ramadhana” dianggap sebagai mudhaf ilaihi sehingga diakhiri dengan fathah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya. Sedangkan kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.

3. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya. Sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan mudhaf ilaihi dari "Ramadhani".

4. نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ

Nawaitu shauma Ramadhāna

Artinya, “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”

5. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ

Nawaitu shauma ghadin min/'an Ramadhāna

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.”

6. نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ

Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.”

Perbedaan redaksi pelafalan ini tidak mengubah substansi lafal niat puasa Ramadhan. Manakah niat puasa yang tepat? Semua lafal niat puasa tadi dapat dipraktikkan. Yang berbeda karena sumber referensinya. Lafal niat pertama dikutip dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu.

Niat kedua dan keenam dinukil dari Kitab Asnal Mathalib. Redaksi ketiga dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam. Sedangkan redaksi keempat dan kelima diambil dari dari Kitab I’anatut Thalibin.

(Baca Juga :Bintang Tsurayya Muncul, Tanda-Tanda Wabah Corona Berakhir?)

Sementara waktu yang tepat untuk berniat puasa Ramadhan berdasarkan argumentasi madzhab Syafi’i, yakni pada malam hari atau usai sholat Tarawih. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’-nya sebagai berikut:

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر

Artinya, “Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.”

Bolehkah niat sekali untuk puasa Ramadhan sebulan penuh?

Niat adalah perkara paling fundamental dalam setiap ibadah. Menurut madzhab Syafi’i, selama puasa Ramadhan niat harus dilakukan setiap malam. Namun ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu, seringkali Anda lupa untuk mengawali niat puasa di malam hari. Maka para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan.

Sehingga bila suatu hari Anda lupa untuk niat puasa, maka ibadah puasa yang Anda jalani tetap sah. Cukup dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki.

Dikutip dari website Pesantren Lirboyo, Kediri, Imam al-Qulyubi menjelaskan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

“Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66) 

Dalam madzhab Syafi’i (Hasyiyah Al-Jamal, II/31), pada dasarnya memulai niat puasa satu bulan penuh ini hanya sebatas antisipasi, apabila lupa tidak niat puasa setiap malam. Namun umat Muslim tetap harus memulai niat puasa setiap malam, baiknya setelah sholat tarawih.

Berikut lafadz doa niat puasa Ramadhan untuk harian dan niat sebulan penuh;

Bacaan doa niat puasa Ramadhan sebulan penuh:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كِلِّهِ لِلَّهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma syahri ramadhona kul’lihi lil’lahi ta’ala."

Artinya: “Aku niat berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan tahun ini karena Allah Taala”.

Bacaan doa niat puasa Ramadan harian:

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ

"Nawaitu saumagadin an’adai fardi syahri ramadhana hadzihissanati lillahita’ala"

Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa pada bulan Ramadan tahun ini karena Allah Taala”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini