Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakai Masker Ampuh Kurangi Penyebaran Virus Corona? Ini Lho Kata Pakar

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2020 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 04 620 2224638 pakai-masker-ampuh-kurangi-penyebaran-virus-corona-ini-lho-kata-pakar-q3JEBWXJx4.jpg Ilustrasi. (Freepik)

SELAMA pandemi Covid-19, masker jadi salah satu benda penting yang wajib dipakai semua orang, baik itu dalam kondisi sehat ataupun sakit. Ini demi mencegah penularan virus Corona.

Pakar kesehatan mengimbau agar orang awam cukup memakai masker kain. Sedangkan pemakaian masker medis diutamakan untuk tenaga kesehatan. Maka, kini kita dengan mudah mendapatkan masker kain, bahkan bisa membuat sendiri.

Tapi terkait dengan penggunaan masker kain ini, ternyata masih ada perdebatan seputar manfaat pemakaian masker. Benarkah masker kain yang direkomendasikan dipakai khalayak umum bisa membantu memperlambat penyebaran virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19?

Para peneliti menulis dua makalah seputar tingkat efektivitas beragam jenis masker (masker kain, masker medis, masker N95, dan lain-lain). Kedua penelitian ini mendapatkan kesimpulan yang berbeda. Satu studi meneliti manfaat penggunaan masker untuk mengurangi penyebaran virus Corona musiman (penyebab banyak kasus flu-common cold). Hasilnya, studi ini menemukan bahwa masker medis sangat membantu mengurangi jumlah virus yang disebarkan orang sakit.

Studi lain menemukan fakta bahwa baik masker medis maupun kain tidak mampu mengurangi penyebaran Covid-19 dengan optimal. Namun perlu dicatat, studi ini hanya memiliki empat responden dan menggunakan ukuran kasar penyebaran virus.

masker

Baca Juga: Pulang ke Malaysia, Ini Protokol Kesehatan yang Wajib Diikuti Mertua BCL

Pendek kata, para ahli mengatakan penggunaan masker memang dapat membantu orang yang terinfeksi Covid-19 namun belum tahu kondisinya, agar tidak menularkan virus tersebut kepada orang lain. Tapi efektivitas masker medis, masker kain maupun masker lain untuk menangkal penyebaran virus Corona, ternyata sangat kecil. Pemakaian masker tidak menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

May Chu, pakar Epidemiologi di Colorado School of Public Health, Anschutz Medical Campus mengatakan hanya karena selalu patuh pakai masker bukan berarti kita bisa mengabaikan perilaku hidup bersih dan sehat lainnya.

“Pakai masker bukan berarti Anda bisa berhenti melakukan upaya protokol kesehatan lain. Hanya karena pakai masker, lalu Anda merasa tidak perlu jaga jarak, tidak perlu rajin cuci tangan serta bebas menyentuh wajah dengan tangan yang kotor. Ini cara berpikir yang salah,” ujar Mary.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, CDC diketahui tidak merekomendasikan pemakaian masker medis untuk awam. Masker jenis ini disebutkan tidak menutupi wajah, tapi memang di masker medis terdapat lapisan polypropylene non-anyaman yang tahan kelembapan.

May menjelaskan, di dalam masker medis, sekitar 70 persen dari udara luar bergerak melalui masker dan sekitar 30 persen bergerak di kanan kiri masker. Maka, masker medis tidak menawarkan perlindungan sebaik masker N95.

Lalu bagaimana dengan masker kain, yang direkomendasikan pemerintah bahkan CDC untuk dipakai oleh masyarakat umum. Well, ketika dipakai masker kain tetap memungkinkan udara bebas keluar masuk di kedua sisi kanan kiri. Tetapi masker kain tidak memiliki lapisan yang tidak non-woven dan tahan kelembapan. Kemampuan masker kain untuk menghambat aliran udara masuk hanya sekitar 2 persen.

Semua potensi kebocoran pada masker medis dan kain inilah yang jadi alasan petugas medis kurang percaya bahwa memakai masker bisa mencegah siapa pun dari paparan Covid-19.

Rachael Jones, dokter di Utah University menyatakan, aliran udara itu mengikuti jalur yang paling tidak resistan. Nah, jika partikel virus ada di dekatnya, virus jadi punya jalur masuk yang mudah di sekitar masker medis maupun kain. Bahkan, partikel virus yang kecil bisa menembus masker kain dengan mudah.

Satu studi, yang diterbitkan pada 6 April lalu dalam jurnal Annals of Internal Medicine, menemukan fakta masker kain tidak bisa bekerja maksimal untuk mencegah penularan virus Corona. Studi ini, dipimpin para peneliti Korea Selatan, dan melibatkan empat pasien Covid-19. Mereka diminta batuk hingga droplet-nya masuk ke cawan petri yang diberi jarak sekitar 20cm. Para pasien diminta batuk tanpa masker, batuk sambil mengenakan masker medis, dan batuk dengan pakai masker kain. Hasilnya, tidak ada masker yang signifikan bisa mengurangi lontaran droplet ke cawan petri.

Penelitian ini juga menemukan fakta, bahwa sebagian besar tes seka bagian luar masker yang dipakai para pasien Covid-19 menunjukkan hasil positif dan bagian dalamnya negatif. Para peneliti menduga tekanan udara yang terjadi dari dari batuk membawa virus ke bagian luar masker.

Sementara itu, penelitian lain yang diterbitkan 3 April dalam jurnal Nature Medicine, menggunakan metode yang lebih canggih untuk mengumpulkan partikel virus yang dikeluarkan orang sakit. Para peneliti meminta 426 responden untuk bernapas selama 30 menit ke dalam alat mirip kerucut yang menangkap semua partikel yang dihembuskan.

Dari jumlah tersebut, 43 pasien menderita influenza, 54 pasien memiliki rhinovirus dan 17 pasien memiliki virus corona musiman (virus yang menyebabkan pilek, bukan penyebab Covid-19).

Dengan metode ini memungkinkan para peneliti menghitung jumlah virus yang ditemukan dalam partikel tetesan (droplet), yang berdiameter lebih dari 0,0002 inci alias 5 mikron, dibandingkan dengan partikel aerosol, yaitu 5 mikron atau lebih kecil. Selama penelitian, para peserta diacak untuk memakai masker medis atau tidak memakai masker selama penelitian.

Temuan pertama dari penelitian ini, adalah para peneliti mendeteksi virus dalam partikel aerosol kecil dalam semua kasus, baik itu influenza, rhinovirus dan virus corona. Dalam kasus influenza, mereka membiakkan partikel yang ditangkap dan menemukan bahwa virus itu menular.

Hal ini diungkap Ben Cowling, Kepala Divisi Epidemiologi dan Biostatistik di Hong Kong University. Selama ini ada perdebatan di antara para pakar kesehatan tentang apakah virus influenza dapat menyebar melalui aerosol. Dengan studi ini menunjukkan bahwa influenza dapat menyebar melalui aerosol, dan bahkan juga pilek.

“Untuk virus corona musiman dan rhinovirus, kami tidak berusaha membiakkan virus di aerosol, tetapi tidak ada alasan untuk percaya bahwa virus itu tidak akan menular," kata Ben.

Masker medis mengurangi jumlah virus yang dilepaskan dari orang sakit dalam bentuk tetesan tetapi bukan aerosol, seperti pada influenza. Masker medis mampu mengurangi jumlah virus corona baik di droplets dan aerosol. Untuk virus corona musiman, para peneliti menemukan virus ada di dalam droplet pada 3 dari 10 responden yang tidak memakai masker dan aerosol dalam 4 dari 10 responden yang diambil tanpa masker. Dalam sampel responden yang pakai masker, tidak ada virus yang terdeteksi di tetesan atau aerosol.

Baca Juga: Sambut New Normal, Yuk Bikin Tas untuk Starter Kit

Ben Cowling menilai, hasil penelitian dari influenza dan virus corona musiman menunjukkan bahwa penggunaan masker medis dapat membantu menjaga orang dengan Covid-19 agar tidak menyebarkan virus. Menurutnya, virus SARS-CoV-2 mungkin berperilaku serupa dengan virus yang dia dan timnya pelajari. Ditambah lagi, Fakta menunjukkan bahwa orang tanpa gejalan bisa menyebarkan Covid-19. Hal inilah yang jadi alasan utama mengimbau semua orang wajib pakai masker.

Namun sisi lain, para ahli juga masih bingung tentang fungsi masker non-N95. Meski demikian, Profesor Rachael menganggap tidak ada salahnya tetap memakai masker, apalagi memakai masker juga tidak membahayakan, meski ia melihat dari penelitian tidak terlihat banyak manfaatnya. “Buat saya, pakai masker tidak membahayakan,” tambah Rachael.

Disebutkan lebih lanjut, terlepas dari banyak perbedaan, satu hal yang disetujui adalah masker kain buatan rumah adalah yang paling tidak efektif. Namun, tetap disarankan pakai masker kain karena masih lebih baik pakai masker daripada tidak menggunakannya sama sekali.

Tentu, perlindungan yang diberikan masker kain tidak seoptimal masker medis. Itu sebabnya, para pakar kesehatan selalu mengimbau agar kita juga tetap jaga jarak (physical distancing) dengan orang lain, minimal sejauh 1,8meter meski semua orang telah mengenakan masker. Demikian ditulis Foxnews, Rabu (3/6/2020).

Baca Juga: Gaya Keren Syahrini dan Reino Barack Pakai Masker, Tas Hermes Rp2 Miliar Enggak Ketinggalan

Namun, ada satu makalah yang dibahas dalam artikel ini telah ditarik kembali oleh jurnal Annals of Internal Medicine. Ini berarti bahwa makalah tersebut tidak valid.

Para peneliti mengakui metode statistik yang digunakan tidak dapat menentukan hasil akurat. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pemakaian masker adalah metode yang efektif untuk menahan penyebaran Covid-19 bila dibarengi dengan praktik menjaga jarak setidaknya 1,8meter dengan orang lain, serta rutin cuci tangan.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini