Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cek Fakta, Covid-19 Bisa Tersebar Lewat Udara? Ini Jawaban Jubir Achmad Yurianto

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 09 Juli 2020 19:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 620 2243914 cek-fakta-covid-19-bisa-tersebar-lewat-udara-ini-jawaban-jubir-achmad-yurianto-p9VsMXjtTK.jpg Patuhi protokol kesehatan cegah penularan Covid-19 (Foto : Okezone)

Belum lama ini, beredar sebuah pesan berantai di aplikasi WhatsApp yang menyebutkan bahwa virus corona penyebab Covid-19 bisa menyebar lewat udara. Kabar tersebut sontak menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat Indonesia.

Bagaimana tidak, salah satu kutipan dalam pesan itu menjelaskan bahwa virus corona bisa bertahan di udara dan melayang-layang sampai 8 jam setelah keluar dari tubuh penderita saat bersin atau batuk, dan tidak lagi membutuhkan medium cairan untuk bertahan.

Pesan berantai ini juga mengklaim virus corona bisa bertahan lebih lama di ruangan tertutup. Bahkan cenderung lebih cepat mendarat di tubuh orang yang berada di dalamnya, karena udara berputar-putar di situ-situ saja.

“Maka, bapak dan ibu tolong kita ikuti prtokol yang semakin ketat ini yaitu bahwa kalau kita keluar, biarpun tidak ke kerumunan massa, wajib pakai masker untuk saling melindungi satu sama lain. Karena menurut WHO ada satu golongan baru dalam proses penularan wabah ini yaitu, OTG (orang tanpa gejala). Di mana mereka memiliki suhu tubuh normal, tidka batuk tapi sudah membawa virus karena daya tahan tubuhnya cukup kuat,” tulis pesan tersebut yang mengatasnamakan Juru Bicara Covid-19 Achmad Yurianto.

PSBB

Isu ini kembali mencuat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis sebuah pernyataan baru. Dalam briefing media di Jenewa, Selasa 7 Juli 2020, Pemipin teknis pandemic Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan memang ada pembicaraan mengenai kemungkinan transmisi melalui udara dan transmisi aerosol sebagai bentuk dari transmisi Covid-19.

Baca Juga : WHO Akui Virus Covid-19 Airborne, Dokter Penyakit Dalam: Bukan Sumber Penularan Utama

Hal senada juga disampaikan oleh Benedetta Allegranzi, selaku pemimpin teknis untuk pencegahan dan pengendalian infeksi WHO. Dilaporkan oleh Reuters, Rabu 7 Juli 2020, Allegranzi mengatakan ada bukti kuat terkait transmisi virus corona lewat udara. Hanya saja sampai saat ini belum dapat diidentifikasi atau tidak definitif.

“Buktinya masih tetap harus dikumpulkan dan diinteprentasikan, dan kami akan terus melakukan penelitian. Tapi kemungkinan terjadinya transmisi lewat udara di lungkungan publik memang tidak dapat dikesampingkan,” ujar Allegranzi.

Namun saat dikonfirmasi Okezone, Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan kabar penyebaran virus corona melalui udara sejatinya sudah dirilis oleh pejabat WHO pada 5 April lalu.

“Tapi perlu diingat, rilis tentang airborne itu bukan official statement. Saya tetap mengatakan sesuai penelitian ahli Jepang penyebarannya adalah mikro droplet, bukan udara,” tegas Yuri saat dihubungi via pesan singkat kepada Okezone, Kamis (9/7/2020).

Bukan sumber penularan utama

Sementara itu, Ramainya pemberitaan penyebaran virus corona lewat udara (airborne), ditanggapi oleh beberapa dokter, salah satunya dr Aditya Susilo, SpPD-KPTI. Dia juga merupakan dokter garda depan Covid-19.

Dokter Aditya menjelaskan, setelah WHO mengeluarkan rilis virus corona bisa menular lewat udara (airborne), langkah selanjutnya harus dilakukan penelitian lebih lanjut. Pasalnya, Covid-19 merupakan jenis penyakit baru disebabkan oleh virus, ini berbeda dengan TBC, influenza, hingga varisella yang umurnya sudah ratusan tahun.

"Untuk Covid-19, medis selalu coba untuk mempelajari kenyataan dan fakta. Fakta selalu berubah dalam kondisi di lapangan. Di awal WHO klaim droplet dan intubasi bisa berpotensi airborne. Pada saat itu, ada juga studi dikatakan bahwa virus ini mampu bertahan di udara. Nah WHO bilang itu bisa, tapi pada pasien intubasi," terangnya.

PSBB

Bila benar Covid-19 bisa menular lewat airborne, Dokter Aditya yakin hal itu bukan menjadi sumber penularan utama. Semua butuh proses penelitian lebih lanjut dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

"Pada saat diklaim bisa menular dengan cara airborne, kalau betul, saya sendiri bilang ini bukan penularan utama. Informasi baru ini kita harus pelajari lagi," tuturnya.

Dokter Aditya yakin untuk saat ini penularan lewat airborne bisa terjadi dengan kondisi medis. Tapi jika bicara logika penularan virus corona bisa menular lewat airborne, sebenarnya ukuran droplets yang keluar dari hidung atau mulut sangat kecil, di bawah lima milimeter.

Alhasil, tidak mungkin droplets tersebut melayang-layang di udara terbuka, terlebih jika manusia saling jaga jarak. Masyarakat harus hati-hati dan dokter pun selalu mengikuti perkembangannya.

"Kalau dikatakan airborne, logikanya droplets kecil sekali di bawah 5 mm. Nah faktor gravitasi tentu tidak bisa melayang-layang di udara. Tapi ini harus hati-hati, saya harus mengecek perkembangannya," bebernya.

"Kita menunggu informasi yang lebih akurat, detil, tegas terkait hal ini. Karena ini jadi isu yang tidak kecil ke depannya," sambungnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dokter Aditya pun menegaskan bahwa jaga jarak dan penggunaan masker tidak boleh dilewatkan. "Kalau betul airborne, masker itu sudah tidak bisa dinegosiasi, jaga jarak 2 meter bila berada satu ruangan dengan banyak orang," imbuhnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini