Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Museum Satria Mandala Jadi Saksi Sejarah Perjuangan TNI

Ilham Rachmatullah, Jurnalis · Senin 05 Oktober 2020 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 05 620 2288685 museum-satria-mandala-jadi-saksi-sejarah-perjuangan-tni-kbgy2KU86j.jpg Museum Satria Mandala. (Foto: Instagram/@museumsatriamandala)

TEPAT hari ini, Senin 5 Oktober 2020 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 TNI. Museum Satria Mandala di Jakarta menjadi saksi sejarah perjuangan angkatan bersenjata Indonesia.

Museum Satria Mandala merupakan salah satu museum dalam pusjarah TNI. Secara khusus menyajikan sejarah perjuangan TNI mulai 1945 sampai sekarang.

Dengan melihat isi museum Satria Mandala, masyarakat dapat mengetahui perjuangan TNI, dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 5 Oktober 1972, juga dijadikan sebagai sarana pembinaan mental dan pewarisan nilai-nilai juang 1945 dan nilai-nilai luhur TNI.

Dengan berkunjung ke Museum Satria Mandala ini, diharapkan masyarakat bisa menghayati kontinuitas perjuangan TNI. Terutama untuk mempertahakan dan mengamankan kemerdekaan di masa yang akan datang.

Dalam rangka memperingati HUT TNI ke-75 ini, Okezone juga akan mengulas fakta menarik dari Museum Satria Mandala ditulis, Senin (5/10/2020).

Macam-macam koleksi

tni

Museum yang dulunya merupakan rumah dari istri mantan presiden Indonesia Soekarno bernama Ratna Sari Dewi memiliki 74 diorama. Ada banyak benda bersejarah sebagai pendukungnya seperti senjata, atribut, serta berbagai panji dan lambang di lingkungan TNI.

Baca Juga: Hari TNI 5 Oktober, Jelajahi Monkasel Surabaya

Benda-benda tersebut ditempatkan di ruang-ruang spesifik. Sedangkan perlengkapan TNI lainnya terdiri dari kendaraan tempur, pesawat terbang dan meriam yang ditempatkan di halaman museum yang merupakan pameran taman.

Berbagai macam ruangan dan fungsinya

 

Ruang Diorama I

 

Ruang Panji-panji

Ruangan ini merupakan jantung museum Satria Mandala. Ruangan ini menggambarkan secara simbolik misi utama Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak awal berdirinya, mulai 1945 hingga sekarang. Dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa sejarah dan pengertian. Seperti Proklamasi Kemerdekaan RI, Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Ruang Jenderal Soedirman

Ruang ini memamerkan benda-benda peninggalan Jenderal Sudirman, panglima angkatan perang pertama. Sebagai pusat dari ruang ini adalah sebuah tandu yang dipakai selama Jenderal Sudirman bergerilya melawan Agresi Militer II Belanda.

Ruang Jenderal Oerip Soemohardjo

Tidak berbeda dengan ruang Jenderal Sudirman, di ruang ini dapat Anda temukan lukisan dan foto-foto Jenderal Oerip Soemohardjo. saat itu menjabat sebagai kepala staf angkatan perang pertama.

Ruang Jenderal Besar A.H Nasution dan Jenderal Besar H.M Soeharto

Ruangan ini memamerkan benda-benda milik Jenderal Besar Nasution dan H.M Soeharto yang terkait dengan peperangannya. Selain itu, dipamerkan pula foto-foto pada masa perjuangan, buku-buku karya keduanya.

Ruang Diorama II

Dalam ruangan ini terdapat beberapa diorama yang menggambarkan peristiwa pertempuran yang pernah terjadi dalam usaha mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia yang dilakukan TNI.

Diantaranya adalah peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang pada tanggal 14 Oktober 1945. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh pemuda-pemuda Semarang bergerak merebut gedung-gedung yang diduduki tentara Jepang khusunya di daerah Candi Baru.

Diorama yang menggambarkan pertempuran Ambarawa pada 12-15 Desember 1945. Peristiwa Bandung Lautan Api, pertempuran Bogor, pertempuran Cibadak dan masih banyak lagi diorama yang menggambarkan peristiwa lain dalan Ruang Diorama II.

Dalam ruangan ini juga terdapat ruangan senjata. Penempatan senjata di ruangan khusus ini terbagi dalam dua periode, yaitu senjata yang dipergunakan pada tahun 1945-1949 dan senjata yang dipergunakan pada 1950-an sampai sekarang.

Ruang seragam

Di ruangan ini dipamerkan seragam-seragam yang pernah digunakan oleh TNI sejak 1945 hingga sekarang. Seragam TNI semasa perang kemerdekaan antara lain seragam BKR, seragam badan-badan perjuangan dan seragam TKR serta TRI.

Balairung Pahlawan

Ruangan ini memamerkan 23 patung tokoh-tokoh TNI yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional maupun pahlawan revolusi, dengan patung Jenderal Sudirman dan Letjen Oerip Sumohardjo sebagai sentralnya.

Baca Juga: Nikmatnya Sate Bandeng, Makanan Sultan Khas Banten

Koleksi kendaraan tempur

museum

Kendaraan tempur yang dimiliki Museum Satria Mandala ini pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kendaraan tempur yang merupakan pemberian Belanda setelah pengakuan kedaulatan NKRI.

Kedua, kendaraan tempur yang dibeli pemerintah RI dari negara-negara Blok Timur dalam rangka persiapan Trikora. Selain digunakan semasa Trikora, kendaraan tempur ini juga pernah digunakan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur.

Dermaga mini

Dermaga mini merupakan bentuk miniatur dari dermaga TNI AL yang ada di Surabaya. Dalam dermaga ini terdapat lima buah miniatur kapal milik TNI AL dan juga dua jenis meriam (Vickers dan Bofors) serta sebuah peluru kendali.

Taman Dirgantara

Taman Dirgantara adalah tempat memamerkan 13 pesawat terbang yang pernah dipakai oleh TNI sejak masa perang kemerdekaan. Kendaraan yang terkenal dan dianggap berjasa adalah Curen. Yakni pesawat latih buatan Jepang 1933, yang berhasil dirampas oleh pejuang Indonesia di awal kemerdekaan semasa Agresi Militer I Belanda.

Pesawat Curen yang dikemudikan Suharnoko Harbani berhasil membom kedudukan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada tanggal 29 Juli 1947.

Lokasi, jam kunjungan dan cara menuju Museum Satria Mandala

Secara lengkap, Museum Satria Mandala berlokasi di Jalan Gatot Subroto No. 14 RT 6 RW 1, Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan.

Museum ini buka pada Selasa sampai Minggu, kecuali hari Senin libur dan mulai operasi pada pukul 09.00 pagi hingga 15.00 WIB. Untuk harga tiket masuk terbilang murah dan hanya dikenakan sebesar Rp4.000 per orang.

Jika ingin mendapatkan informasi lebih dalam mengenai koleksi di museum ini pemandu pun siap mendampingi, untuk pemandu berbahasa Indonesia pengunjung harus membayar Rp35 ribu. Sementara untuk pemandu berbahasa Inggris harus membayar Rp75 ribu.

Baca Juga: 4 Tips Wisata Bahari Aman dan Menyenangkan

Karena lokasinya yang strategis dan berada di jalan protokol ibu kota tentu mudah untuk menemukan dan menuju ke lokasi museum Satria Mandala ini. Untuk mencapai ke lokasi museum tersebut tidaklah sulit, banyak moda transportasi yang dapat dipilih untuk mengunjungi museum bersejarah ini

Salah satunya yang mudah untuk diakses adalah Bus Transjakarta rute 6B Ragunan-Monas, 9 Pinang Ranti-Pluit, 9A PGC2-Pluit, 9B Pinang Ranti-Kota, 9C Pinang Ranti-Bunderan Senayan, 9H Grogol2-TMII, B11 Sumarecon-Tosari, B21 Grogol 2-Bekasi Timur dan 6M Mangarai-Blok M. Okezoners dapat turun di halte busway Gatot Subroto LIPI, lalu diteruskan berjalan kaki menuju ke museum Satria Mandala.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini