Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Menuju 2 Juta Covid-19, Kasus Harian Tembus 12 Ribu

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 18 Juni 2021 09:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 620 2427064 indonesia-menuju-2-juta-covid-19-kasus-harian-tembus-12-ribu-HGjY0KvLJM.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

LIBUR panjang Lebaran kemarin memang menimbulkan banyak kasus positif baru Covid-19. Kenaikan kasus positif inipun membuat pemerintah harus menunda sejumlah kebijakan, seperti sekolah tatap muka.

Pasalnya, kasus positif Covid-19 di Indonesia telah menca 1.950.276 kasus, dan diperkirakan akan mencapai 2 juta kasus pada akhir Juni 2021. Lebih dari 12.000 orang terinfeksi Covid-19 dalam sehari, tepatnya 12.624 orang per Kamis, 17 Juni 2201.

Seperti yang pernah disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Ia memprediksi bahwa puncak kenaikan kasus Covid-19 akan berlangsung pada akhir Juni 2021.

Perkiraan itu, kata dia, berdasarkan pengalaman empiris di setiap libur panjang sebelumnya, yaitu libur Natal dan Tahun Baru, libur panjang Idul Fitri, dan libur panjang lainnya biasanya kenaikan kasus Covid-19 itu akan mencapai puncaknya sekitar 5 sampai 7 pekan.

"Jadi kemungkinan kenaikan kasus (Covid-19) diperkirakan akan sampai puncaknya di akhir bulan Juni. Sehingga arahan Bapak Presiden atau lebih pastikan bahwa seluruh daerah tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan 3 M," kata Menkes Budi di awal Juni.

Dengan demikian kesiapan rumah sakit perlu dipastikan, terutama ketersediaan tempat tidur. Kapasitas tempat tidur di Indonesia saat ini sebanyak 72 ribu.

Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi pun mengungkapkan bahwa kenaikan puncak kasus akan terjadi pada awal Juli 2021. "Kita memprediksi peningkatan kasus atau akan sampai dengan 5 sampai 7 minggu ke depan. Artinya, sampai akhir Juni, dan awal Juli itu kita akan mendapatkan puncak kasus," ujarnya belum lama ini.

Pasalnya, kata Nadia, meskipun ada pelarangan mudik, masih ada 5-6 juta orang yang nekat mudik pada saat libur Lebaran kemarin.

"Itu adalah estimasi bahwa mengapa mobilitas itu terjadi, ya. Jadi, sekitar 5 sampai 6 juta orang melakukan perpindahan dari Kota satu ke Kota lainnya ya, yang sangat berkontribusi (lonjakan kasus)," sambungnya Nadia.

Tapi, apakah lonjakan kasus yang sekarang sedang terjadi hanya karena mudik Lebaran?

Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa mudik Lebaran dan arus baliknya hanya penyumbang. Namun, ada faktor lain yang membuat lonjakan kasus Covid-19 terjadi saat ini.

"Terjadinya lonjakan kasus Covid-19 ini bukan semata-mata karena meningkatnya mobilitas masyarakat saat arus mudik dan arus balik, tetapi akumulasi dari perjalanan setahun pandemi Covid-19 di Indonesia mulai dari libur tahun baru, Pemilu, atau juga momen liburan lainnya," papar Dicky.

Oleh karenanya, Dicky mengharapkan adanya upaya serius dari pemerintah dan juga masyarakat supaya penyebaran Covid-19 tidak semakin meluas di masyarakat. Harapannya jelas agar potensi tersebut tidak terjadi.

"Terjadinya lonjakan kasus Covid-19 ini mesti segera diantisipasi baik oleh pemerintah maupun masyarakat supaya kemungkinan lonjakan kasus yang parah tidak terjadi. Tentu, dengan memperkuat 3T oleh pemerintah dan juga vaksinasi yang lebih kuat, dan untuk masyarakat semakin disiplin menjalankan 5M," sarannya.

Siti Nadia pun yakin bahwa lonjakan kasus yang semakin parah bisa ditekan dengan menerapkan PPKM Mikro, mengevaluasi kapan daerah harus melakukan mikro lockdown.

"Jadi memang betul-betul apa yang artinya melakukan PPKM mikro, melakukan evaluasi, kapan harus melakukan mikro lockdown atau pengetatan tertentu ini harus dilakukan berdasarkan analisa daerah per daerah," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini