Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dokter Spesialis Anak Disiagakan Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 07 Desember 2021 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 620 2513234 dokter-spesialis-anak-disiagakan-bantu-korban-erupsi-gunung-semeru-n6BMwcuZJR.jpg Erupsi Semeru. (Foto: Twitter)

GUNUNG Semeru meluapkan lahar panas pada Sabtu 4 Desember 2021 sekira pukul 14:50 WIB. Erupsi ini pun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5.160 detik.

Tercatat, akibat letusan Gunung Semeru ini ada 22 orang meninggal, 22 hilang dan 56 orang luka-luka. Ada sebanyak 2.004 warga berada di 19 titik pengungsian yang tersebar di 3 kecamatan, antara lain Kecamatan Pronojiwo, Candipuro dan Pasirian. Tapi, yang menjadi perhatian adalah bagaimana nasib anak-anak korban letusan tersebut.

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengirimkan sejumlah dokter spesialis anak yang tergabung dalam Satgas Bencana IDAI untuk membantu para tenaga kesehatan di wilayah bencana erupsi Gunung Semeru Jawa Timur.

Ketua Umum IDAI, Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengatakan, Tim Relawan Satgas Bencana IDAI dan anggota IDAI di wilayah terdekat sudah melakukan penyisiran awal untuk memetakan kondisi kesehatan serta melakukan pelayanan kesehatan bagi korban bencana erupsi Gunung Semeru, khususnya anak-anak.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat, fasilitas kesehatan setempat, serta IDI Cabang dan badan penanganan bencana di wilayah tersebut agar dapat memaksimalkan potensi bantuan dari Relawan Satgas Bencana IDAI," ujar Dr. Piprim dalam siaran resminya dikutip dari Antara.

Tim Satgas bencana IDAI dibagi menjadi dua ke area terdampak di Lumajang yaitu di wilayah Kecamatan Pronojiwo dan kecamatan Candipuro. Dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, SpA(K), Ketua Satgas Bencana IDAI yang memimpin penyisiran di Kecamatan Pronojiwo memaparkan bahwa alur rujukan korban bencana di wilayah tersebut akan dibantu oleh Pemerintah Kabupaten dan pemerintah Kota Malang.

Pada saat penyisiran di wilayah tersebut melalui empat titik pengungsian yaitu Kantor desa Oro-Oro Ombo, SDN 2 dan SDN 4 Oro-Oro Ombo, serta Masjid Oro-Oro Ombo belum ditemukan korban dewasa dan anak yang mengalami luka bakar. Keempat titik pengungsian tersebut menampung pengungsi dari desa terdampak yaitu desa Supit Urang.

dr. Muhammad Reza, M. Biomed, SpA(K) dari Satgas Bencana IDAI yang juga anggota IDAI Probolinggo bertugas menyusur wilayah Kecamatan Candipuro Lumajang dan berkoordinasi dengan IDI Lumajang untuk melakukan pelayanan kesehatan segera bagi korban bencana.

Meski demikian, dr. Kadafi dan dr. Reza sepakat mengatakan bahwa umumnya kasus ISAP, diare dan Pneumonia pada anak di wilayah bencana biasanya baru akan terlihat diantara hari ketiga atau hari kelima.

Hingga saat ini, tim Satgas bencana IDAI masih bertugas memantau dan membantu pelayanan kesehatan di kedua wilayah tersebut seraya melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

IDAI pun merekomendasikan panduan kepada orangtua untuk anak ketika terjadi bencana gunung meletus. Hal pertama yang harus dilakukan adalah orangtua harus tetap memantau dan mematuhi peringatan dari pemerintah eelama terjadi bencana.

Bila dianjurkan oleh pemerintah untuk segera mengungsi, maka lakukan segera dan lebih awal. Orangtua sebaiknya memantau kualitas udara di lingkungannya terutama yang berhubungan dengan abu vulkanik.

Anak sebaiknya bermain dan beraktifitas di dalam ruangan, dan cegah anak beraktifitas di luar ruangan untuk menghindari hirupan udara abu secara berlebihan. Agar anak tidak bosan maka sebaiknya orangtua atau anggota keluarga membuat dan mengajak anak membuat permainan di dalam ruangan.

Orangtua sebaiknya rutin membersihkan ruangan untuk mencegah paparan abu di dalam ruangan. Jika ada anggota keluarga harus keluar rumah maka wajib mengenakan masker. Abu letusan gunung berapi dapat menimbulkan iritasi kulit, maka sebaiknya anak menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk meminimalisasi kontak dengan abu vulkanik.

Selain melindungi tubuh anak dari debu dengan baju tertutup, pakaikan masker pada anak yang sudah bisa menggunakan masker, karena selain untuk mencegah debu terhirup juga mencegah penularan covid 19 selama di pengungsian.

Untuk menghindari iritasi mata akibat abu letusan yang pekat, maka anak bisa menggunakan kacamata. Sebelum mengungsi, orangtua sebaiknya menyiapkan obat-obatan emergensi, dan perlengkapan emergensi dalam satu tas darurat.

Hindari mengungsi di daerah hilir letusan, dan sebaiknya mengungsi di posko yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetap disiplin menjaga protokol kesehatan selama di pengungsian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini