Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serunya Menjelajah Tambrauw, Sepotong Surga di Ujung Timur Indonesia

Salman Mardira, Jurnalis · Minggu 23 Agustus 2020 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 620 2265990 serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia-9ZVU4n4wP2.jpg Wisata di Tambrauw (Foto: Salman Mardira/Okezone)

Tambrauw, kabupaten di Papua Barat memiliki keindahan alam yang memukau. Terletak di 'kepala burung' Pulau Papua, daerah pemekaran ini banyak spot wisata alam, pengamatan burung (birdwatching) dan pesona bahari yang tersembunyi serta belum tereksplore dengan baik.

Hutan tropis masih sangat lebat di Tambrauw, dijaga baik oleh masyarakat adat setempat. Wilayah ini sudah masuk kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Sangat cocok jadi tempat studi flora, fauna dan tempat menikmati alam.

 Hutan

Okezone berkesempatan berkunjung ke Tambrauw bersama tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 18-20 Agustus 2020. Perjalanan darat ke Tambrauw dimulai dari Kota Sorong, membelah hutan hingga ke Sausapor sejauh 120 kilometer.

Melewati Jalan Trans Papua Barat yang baru teraspal sekitar 20-an kilometer dengan mobil jenis dooble cabyn bermesin 2 gardan. Jalanan berliku, penuh tanjakan dan turunan. Menapaki wilayah Malaumkarta, jalanan tak lagi beraspal dan di beberapa titik berkubang. Begitu memasuki Distrik Semlekai jalanan persis arena off road.

Kubangan di sana-sini, mobil berjalan terseok-seok di lumpur. "Kalau sopir tidak tidak pengalaman jangan coba-coba," kata Jeilan, sopir yang membawa kami. Ya, jalanan Tambrauw yang kayak bubur butuh keahlian dalam menyetir mobil, jika tidak, maka risikonya bisa terjebak di jalan.

Sekitar 76 kilometer perjalanan, rombongan berhenti di Klabili. Hutan di kampung ini sangat asri dan habitat aneka burung endemik seperti cenderawasih, raja udang, kasuari, mino, rangkong, dan lainnya.

Kami disambut tarian asem khas masyarakat Moi. Kemudian dilanjutkan ritual memanggil roh leluhur, meminta izin masuk hutan.

Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa menyerahkan bantuan untuk pemandu wisata pemantauan burung seperti tas keril, rompi, kemeja PDL, sepatu gunung, dan monocular.

"Ini sebagai bentuk perhatian kami," kata Rizki. Menurutnya perlengkapan itu bisa digunakan warga sekitar yang jadi pemandu dalam mendampingi wisatawan.

Warga Klabili sangat ramah. Mereka terbuka menerima siapa saja yang datang termasuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alamnya.

"Siapapun yang masuk di wilayah kami, wilayah moi, kami terima dengan terbuka. Tapi yang penting tetap menghormati adat dari leluhur kami," kata Kepala Kampung Klabili, Melkior Kalami.

Mereka percaya Hutan Klabili dijaga oleh roh leluhur. "Kalau mau masuk hutan silakan minta izin dulu ke kami, kalau sudah minta izin itu dia akan selamat di hutan."

 Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online

Dari Klabili, perjalanan berlanjut ke Sausapor. Meski jalanan penuh kubangan, pemandangan kiri-kanan jalan cukup memanjakan mata. Hutan dengan diselimuti kabut, burung-burung beterbangan. Rumah penduduk bisa dihitung dengan jari, bentuknya sangat sederhana. Selebihnya hutan.

Memasuki Distrik Sausapor, pemandangan hutan berpadu Samudera Pasifik tersaji sepanjang jalan. Kami sempat berhenti, mengabadikan keindahan alam yang luar biasa.

Semalam menginap di Sausapor, esok paginya, kami ke Pantai Sausapor dengan laut beriak landai dan pepohonan rendah di pinggir pantai yang sepi.

 pantai

Di Sausapor ada dua pelabuhan, satu untuk kapal pengangkut barang. Kapal ini tiap minggu membawa hasil bumi Tambrauw seperti buah-buahan dan sayur mayur ke Sorong. Satu lagi sudah vakum, karena sejak ibu kota Tambrauw pindah ke Fef, speedboat tak pernah lagi bersandar di sini.

Dari Sausapor kami bergerak ke Bandara Werur di Distrik Bikar, melewati jalan yang kiri kanan hutan rawa. Bandara peninggalan Jepang ini sekarang tak beroperasi lagi. Bangunan kantor di sampingnya kosong, bagian luar ditumbuhi semak.

Perjalanan berlanjut ke Kampung Nombrak. Disambut tarian dan atraksi seni tradisi warga setempat. Kami makan dan menikmati pemandangan Pantai Werbes sejenak. Pantai ini eksotik, laut biru berpadu pasir kecoklatan, melengkung mengikuti garis daratan. Di seberangnya ada pulau dua yang memiliki spot diving menarik.

Dari sana, tim bergerak ke Nanggou Dua melewati medan terjal yang kiri kanan hutan dan jurang. Hutan Nanggou Dua juga salah satu spot pengamatan burung. Ada berbagai jenis burung endemik hidup di sini. Untuk menikmatinya harus melewati sungai kecil yang ada bebatuan, terus mendaki.

Namun, sekira 40 menit mendaki hujan turun deras, sehingga tak leluasa melihat burung. Sempat terlihat cenderawasih ekor kuning di pepohonan, hanya sebentar, terus terbang lagi.

Turun dari Nanggou Dua, kami melanjutkan perjalanan darat ke Klabili, dijamu makan di rumah warga dan menginap di Kantor Distrik Semlekai. Kamis jam 4 subuh buta, kami masuk ke Hutan Klabili. Jalurnya becek, licin, karena semalam diguyur hujan. Berjalan sekira 3,5 kilometer, kami berhenti di satu titik ketika hutan sudah terang.

Beberapa orang yang punya kamera lensa tele membidik burung yang berdiri di pohon. Mereka sabar menunggu. Nico Yohanes dan Yoram Kalami yang memandu kami terus menjelaskan soal hutan dan burung. Begitu kicauan mendekat, dia memberi isyarat agar kami tak bicara. Tujuannya supaya burung mendekat, sehingga leluasa bisa diamati.

David John Schaap, host sebuah acara petualangan yang ikut bersama tim, takjub dengan wisata alam di hutan Klabili. "Perjalanan yang melelahkan terbayar dengan keindahan alam, puas banget," katanya.

Selain wisata birdwatching, Tambrauw juga ada destinasi sejarah di Distrik Bikar yakni peninggalan Perang Dunia II. Ada tank amphibi teronggok tak bertuan di dalam hutan. Jejak perang Amerika Serikat dan Jepang ini bahkan sudah di filmkan.

Kemudian ada juga Bukit Sontiri di Distrik Kebar dengan hamparan rumput hijau yang luas dan pegunungan. Lokasi ini disebut juga bukit Teletubbies karena mirip pemandangan dalam film serial anak-anak itu. Di Distrik Miyah, ada air terjun bertingkat yang elok.

Bupati Tambrauw Gabriel Asem berjanji mengembangkan pariwisata di daerahnya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia mengakui daerahnya sangat potensial. "Kami minta pemerintah pusat membantu menyelesaikan infrastruktur transportasi," ujarnya.

Gabriel juga meminta Kemenparekraf memberi arahan kepada Pemkab Tambrauw bagaimana mengembangkan pariwisata. "Kami mohon diberikan arahan apa saja yang harus kami lakukan."

Rizki juga meminta Pemkab Tambrauw membangun pariwisata sejalan dengan semangat konservasi.

"Pengembangan produk wisata di masa mendatang berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat, pengembangan masyarakat lokal, termasuk di dalamnya memberi nilai manfaat yang besar bagi masyarakat," jelas Rizki.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini