Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenparekraf Bangkitkan Kembali Wisata Golf di Tengah Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 04 Oktober 2020 02:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 03 620 2287835 kemenparekraf-bangkitkan-kembali-wisata-golf-di-tengah-covid-19-s9Z3G6YSQN.jpg Ilustrasi golf (Jointventure)

DAMPAK dari pandemi Covid-19 mengakibatkan sektor pariwisata di seluruh dunia, termasuk wisata golf, terpuruk. Gangguan terhadap sektor wisata ini tentunya berdampak pada devisa negara.

Indonesia pun mengalami hal yang sama. Pariwisata merupakan sektor ekonomi andalan Indonesia dan penghasil devisa utama dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu diantaranya adalah wisata golf.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rizki Handayani mengatakan, wisata golf termasuk dalam kategori pariwisata berkualitas tinggi (high quality tourism).

Baca juga:  Liburan Akhir Pekan, Ini 5 Tempat Wisata Hits di Tangerang

Selain memberikan devisa yang besar karena pengeluaran wisatawan golf enam kali lebih besar dibandingkan jenis pengeluaran wisatawan biasa, jenis wisata ini juga memberi dampak berganda yang besar pula.

"Namun kini, langkah wisata golf Indonesia tersendat karena pandemi ini. Padahal potensi wisata golf Indonesia itu sangat besar dan tersebar di sejumlah daerah seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Bintan, Belitung Island (baru) sudah siap untuk dikunjungi," tutur Rizki Handayani dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2020).

 ilustrasi

Nia Ramadhani bermain golf (Instagram)

Saat berbicara dalam webinar Indonesia Golf Tourism Market Update, Kamis 1 Oktober 2020, Rizki mengatakan, setiap daerah tersebut memiliki kualitas yang baik, bahkan sudah sering mengadakan turnamen berskala internasional.

Namun dengan adanya pandemi Covid-19, praktis seluruh aktivitas wisata minat khusus seperti golf juga turut terkena imbasnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI berinisiatif untuk menggelar sebuah pertemuan (hybrid meeting) bersama para pelaku industri golf di Indonesia bertajuk "Indonesia Golf Market Update with IAGTO”.

Baca juga: Mengenal Wisata Wellness yang Sedang Dikembangkan Pemerintah di Tengah Covid-19

Pertemuan ini juga dihadiri para pelaku usaha/industri di Indonesia untuk membicarakan kondisi industri wisata golf di Tanah Air, dan melibatkan IAGTO (International Association of Golf Tour Operator).

Kehadiran IAGTO diharapkan dapat membantu para pelaku industri golf agar mendapatkan informasi, serta pengetahuan yang dibutuhkan sehingga dapat menyusun strategi yang lebih baik dalam promosi wisata setelah pandemi berakhir.

 

President & Chief Executive IAGTO, Peter Walton menjelaskan, meski saat ini pandemi Covid-19 masih melanda dunia, sangat penting untuk bersiap menyiapkan peluang-peluang di masa depan. Terlebih setelah vaksin corona ditemukan.

"Golf itu merupakan salah satu aktivitas yang bisa dilakukan dengan rasa aman selama pandemi Covid-19. Ini adalah peluang yang bisa kita manfaatkan, namun tentu diiringi dengan pengamanan (protokol kesehatan) yang ketat," ujar Peter.

Namun di samping itu, lanjut Peter, para pelaku usaha di industri ini juga harus membuka mata tentang kendala dan tantangan yang harus mereka hadapi dalam membangkitkan wisata golf. Setidaknya ada lima tantangan (fear factor) yang dijabarkan oleh Peter secara komprehensif.

Pertama, terkait financial assurance (jaminan keuangan). Mengingat golf termasuk ke dalam kategori olahraga premium, tentu hanya orang-orang yang memiliki jaminan keuangan saja yang dapat menikmatinya di masa pandemi Covid-19.

Artinya, harus ada strategi khusus untuk menyiasati hal tersebut. Contoh paling mudah, setiap golf course bisa menyediakan promo-promo menarik untuk ditawarkan kepada calon tamu mereka.

Kedua, berkaitan erat dengan peraturan atau kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan sejumlah negara, guna mencegah penyebaran Covid-19.

"Di masa pandemi ini, banyak peraturan yang memberatkan wisatawan ketika hendak mengunjungi suatu negara. Seperti kewajiban melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri golf," papar Peter.

Tantangan selanjutnya adalah menciptakan rasa aman bagi wisatawan. Dalam hal ini, dibutuhkan komitmen yang kuat agar protokol kesehatan berjalan dengan baik. Kebetulan, Kemenparekraf telah meluncurkan program Indonesia Care.

Tujuan utama dari Indonesia Care adalah mempromosikan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment). Protokol inilah yang menjadi acuan Kemenparekraf dalam mencegah penyebaran wabah Covid-19 di daerah-daerah wisata, sekaligus untuk menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

"Sisanya tinggal bagaimana kita berupaya menyediakan akses yang mudah dan murah, serta menunggu kepasian dari efektifitas vaksin Covid-19 itu sendiri. Bila semuanya bisa disiapkan dengan baik, saya yakin wisata golf dapat bangkit kembali," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini