Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Industri Cokelat Bisa Jadi Potensi Wisata Baru

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 08 620 2290691 industri-cokelat-bisa-jadi-potensi-wisata-baru-c6n53ixO5V.jpg Ilustrasi. (Foto: Medicalnewstoday)

COKELAT punya banyak jenis yang bisa dicicipi traveler saat liburan. Di Indonesia pun banyak kebun cokelat yang bisa didatangi sebagai destinasi wisata.

Cokelat merupakan produk yang dihasilkan melalui resep, diturunkan dari tradisi serta memiliki cita rasa yang berkembang di berbagai negara. Tempat asal biji kakao akan menghasilkan profil rasa yang berbeda pula.

Cokelat hitam (dark chocolate) memiliki tingkat cokelat padat yang lebih tinggi, memberikan rasa yang jauh lebih kuat. Sementara cokelat susu (milk chocholate) tersusun atas bahan utama susu segar atau susu bubuk.

Sebelum cokelat diolah menjadi makanan enak, tentu butuh proses panjang pengolaan cokelat dari biji kakao. Seperti apa?

Baca Juga: Bangun Labuan Bajo, Pembangunan Infrastruktur Premium Jadi Prioritas

cokelat

Dilansir Okezone dari Mondelez International, terdapat banyak varian utama kakao yang digunakan, yaitu Criollo Forestero dan Trinitario. kakao padat (Cocoa Solids) paling sering digunakan ke dalam beragam resep karena memiliki karakter rasa yang sangat melekat.

Kakao tersebut kemudian diolah menjadi pasta kakao, bubuk kakao, hingga lemak kakao yang bermanfaat untuk industri bakery dan biskuit. Kemudian produsen menggunakan resep mereka sendiri untuk menghasilkan cokelat andalannya dengan menggunakan serangkaian bahan.

Secara luas, proses ini mencakup proses mixing, pasting, refining and conching. Lalu diterapkan proses tampering melalui tiga tahap, yaitu pemanasan, pendinginan, dan pemanasan ulang.

 

Proses ini penting untuk menghasilkan cokelat yang mengkilap terang serta stabil. Tanpa melalui proses tampering, cokelat akan terasa bertekstur kasar (berasal dari lemak dan gula). Cokelat lalu dicetak atau dibentuk menjadi cokelat batangan, potongan kecil, serta beragam bentuk lainnya.

"Masyarakat mengonsumsi cokelat untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Untuk memanjakan diri sendiri, maupun mendapatkan rasa cokelat nan lembut yang digemari banyak orang," kata Executive Vice President dan President Asia, Middle East and Africa Mondelēz International Maurizio Brusadelli.

Baca Juga: Jajal Nasi Kuning Terenak di Bandung, Rasanya Worth It

Konsumen di Eropa lebih menyukai cokelat hitam. Sementara cokelat susu lebih digemari di wilayah Asia Tenggara, Australia dan New Zealand.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kakao menjadi bahan baku cokelat yang sangat penting. Indonesia jadi negara terbesar penghasil kakao, namun pertanian kakao harus lebih berkelanjutan.

 coklat

"Pada pertanian kakao sangat kompleks, seluruh pihak mata rantai harus terlibat agar petani kakao lebih inovatif," ucap Mentan Yasin saat Peresmian Pasuruan Cocoa Technical Centre (PCTC) secara virtual, baru-baru ini.

Untuk menambah hasil kakao, Mentan Yasin bahkan bersedia menanam banyak bibit kakao di berbagai daerah. Tak hanya dikelola untuk industri cokelat, melainkan bisa mendatangkan potensi wisata baru nantinya.

"Kami siap menanam kakao di semua provinsi, seperti Jawa, Sumatera, Papua, Bali, juga Maluku. Kebunnya banyak, menanam kakao butuh bibit baik dan harus tahan dengan hama," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini