Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Godspeed Style dengan Rapid Test Corona

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 20 Maret 2020 14:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 20 620 2186419 godspeed-style-dengan-rapid-test-corona-Ak4ZyEE5dX.jpg Rapid Test Corona (Foto: Shutterstock)

Corona Virus Disease (COVID-19) bikin orang Indonesia yang sebagian awalnya hobi rebahan dan guyonan mulai panik.

Setelah badai panic buying berlalu muncul jenis kepanikan lainnya karena setiap wajah Juru Bicara Penanggulanggan COVID-19 Achmad Yurianto muncul di televisi, orang berstatus positif COVID-19 bertambah. Per tanggal 19 Maret 2020 jumlahnya mencapai 308 orang.

Nggak ingin kebobolan banyak, Presiden RI Joko Widodo menginstruksikan pelaksanaan rapid test corona untuk mendeteksi COVID-19 secara massal di Indonesia. Konon, rapid test corona mampu mendeteksi dini atas indikasi awal seseorang menderita COVID-19.

Vaksin Corona Diujicoba di Lab

(Baca Juga: Panic Buying Dampak Corona, Wanita Ini Menimbun Tisu Toilet untuk Setahun)

Yurianto menjelaskan adanya perbedaan antara tes swab yang sebelumnya digunakan rumah sakit rujukan dengan rapid test corona. Obyek observasi rapid test menggunakan spesimen darah dari pasien, bukan lagi tenggorokan atau kerongkongan.

Keputusan menggunakan rapid test ini diambil berdasarkan penelitian terbaru dari Universitas Oxford, Inggris. Salah satu pimpinan dari para peneliti di Departemen Ilmu Teknik Universitas Oxford dan Pusat Penelitian Lanjut Oxford (OSCAR), Prof Wei Huang menyebutkan, rapid test corona merupakan metode tes baru yang dapat mendeteksi virus secara khusus dan dapat mengenali fragmen RNA dan RNA SARS-CoV-2 atau Covid-19. Rapid test corona memiliki pemeriksaan bawaan untuk mencegah hasil tes positif atau negatif yang palsu dan memang memiliki akurasi yang sangat tinggi.

Tim Medis Corona

(Baca Juga: Kenali Rapid Test, Tes Corona COVID-19 yang Hanya 15 Menit)

Rapid test corona diperkirakan membutuhkan reaksi dari imunoglobin pasien yang terinfeksi sekira tujuh hari. Meski relatif cepat, para peneliti mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait rapid test, yakni perlu ada kewaspadaan dan ketelitian terhadap tes yang dilakukan.

Hasil rapid test corona ternyata masih belum terlalu sensitif terhadap varian coronavirus. Tak ayal, dipastikan bakal ada potensi memunculkan hasil negatif palsu atau hasil positif palsu. Hasil positif palsu (false positive) muncul karena sifat alami coronavirus yang berkembang menjadi beberapa klasifikasi, mulai dari Human Pathogenic Cov (HCoV), SARS-CoV, MERS-CoV, dan pathogenik coronavirus lainnya.

rapid test penyakit corona

(Baca Juga: Pasien yang Ingin Tes Corona Tak Bisa Langsung Datang)

Kemunculan COVID-19 sejak akhir tahun lalu seolah sebuah kejutan di tengah masyarakat global yang mengagungkan ketiadaan batas. Entah batas jarak, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Semua negara, baik yang maju seperti Amerika Serikat, China, Italia hingga negara ber-flower seperti Iran dan Indonesia tergagap. Kecepatan mengambil sebuah keputusan penting benar-benar diuji.

Padahal sejarah banyak mengajarkan hal-hal penting tentang epidemi penyakit. Pada abad ke-14, wabah Kematian Hitam akibat cacar yang menyebar dari Asia Timur ke Eropa Barat dalam satu dekade lebih. Peristiwa ini menewaskan antara 75 juta hingga 200 juta orang.

Pasien wabah mematikan

(Baca Juga: Jubir COVID-19 Sebut Virus Corona Lama-Lama Jadi Penyakit Flu Biasa)

Keterbatasan ilmu saat itu menyebabkan kegagapan yang mirip ketika Covid-19 melanda. Saat itu mereka menyalahkan penyakit akibat dari dewa yang marah, setan jahat ataupun udara buruk. Tidak ada yang mengira wabah penyakit akibat perbuatan bakteri dan virus.

Pada zaman kegelapan, manusia percaya pada malaikat dan peri. Tak ayal, hal terbaik yang dapat dipikirkan oleh pihak berwenang adalah mengorganisir doa-doa massal untuk berbagai dewa dan orang suci yang berakibat tambah fatal.

Selama abad terakhir, para ilmuwan, dokter, dan perawat di seluruh dunia mengumpulkan informasi dan bersama-sama berhasil memahami mekanisme di balik epidemi dan cara melawannya. Teori evolusi menjelaskan mengapa dan bagaimana penyakit baru meletus dan penyakit lama menjadi lebih ganas.

Riset ilmuwan penyakit mematikan

(Baca Juga: 4 Wabah Penyakit Mematikan di Dunia selain Virus Corona)

Genetika memungkinkan para ilmuwan memata-matai instruksi manual patogen itu sendiri. Sementara orang abad pertengahan tidak pernah menemukan apa yang menyebabkan Kematian Hitam, hanya butuh waktu dua minggu bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi virus corona baru, mengurutkan genomnya dan mengembangkan tes yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi.

Para ilmuwan kian memahami apa yang menyebabkan epidemi, menjadi lebih mudah untuk melawannya. Vaksinasi, antibiotik, peningkatan kebersihan, dan infrastruktur medis yang jauh lebih baik telah memungkinkan umat manusia untuk unggul dari predator yang tidak terlihat.

(Baca Juga: Daftar 12 Politisi dan Pejabat yang Positif COVID-19)

Pada tahun 1967, cacar masih menginfeksi 15 juta orang dan membunuh 2 juta orang di antaranya. Dekade berikutnya, kampanye global vaksinasi cacar sangat berhasil, sehingga pada tahun 1979 Organisasi Kesehatan Dunia, WHO menyatakan bahwa manusia telah menang, dan cacar telah sepenuhnya diberantas. Pada tahun 2019 tidak ada satu orang pun yang terinfeksi atau dibunuh oleh cacar.

Nah, temuan rapid test corona (COVID-19) bisa jadi merupakan proses yang sama seperti wabah global cacar tadi. Para ilmuwan seluruh dunia mencoba memahami kemudian membantu para pemimpin dunia dalam mengambil keputusan tepat bagi rakyatnya. Selebihnya hanya Tuhan yang merestui usaha manusia. Godspeed Indonesia!

(ful)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini