Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Unik Warga Jalani Isolasi Mandiri: Kemah di Pinggir Sungai hingga Menyepi di Kamar Horor

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Selasa 21 April 2020 17:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 21 620 2202702 kisah-unik-warga-jalani-isolasi-mandiri-kemah-di-pinggir-sungai-hingga-menyepi-di-kamar-horor-jO4ve7p94j.jpg Kemah di pinggir sungai (Foto: Freepik)

Sejak beberapa minggu lalu, berbagai kantor pemerintah dan beberapa perusahaan swasta telah memberlakukan work from home (WFH) bagi karyawannya. Hal ini membuat banyak karyawan maupun pekerja yang sudah mudik ke kampungnya masing-masing sebelum ada larangan mudik. Ternyata, saat tiba di kampung, mereka wajib melakukan isolasi mandiri demi mencegah penularan virus corona kepada keluarga dan warga di kampung.

Pemudik asal Dukuh Ngaran, Desa Mlese, Ceper, Klaten, Abdullah Almabrur, 42 tahun, salah satu warga yang wajib jalani isolasi mandiri. Ia memilih melakukan cara yang tak biasa untuk melakukan isolasi mandiri.

Almabrur tak melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Namun memilih berkemah di pinggir sungai untuk tempat isolasi mandirinya selama 14 hari.

Dia rela menunda pulang ke rumahnya, dan memilih berkemah selama 14 hari di pinggir sungai. Ia melakukan ini semua demi cintanya kepada istri dan keempat anaknya. Almabrur rela menahan rindu agar keluarga dan warga kampungnya tak terkena Covid-19.

Pria yang semula bekerja di Pekanbaru, Riau ini memutuskan segera mudik ke kampung halamannya karena khawatir tak ada lagi akses transportasi untuk pulang menemui anak dan istrinya.

Dia sadar semua pemudik dari daerah manapun yang pulang ke kampung halaman wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Almabrur lantas mencari lokasi untuk isolasi mandiri. Terlintas di benaknya untuk isolasi mandiri di bantaran Kali Kecu di tepi Dukuh Ngaran, Klaten.

“Sebelum pulang kampung, saya langsung meminta adik untuk mencarikan tenda. Saya juga pergi ke pelayanan kesehatan di Ceper untuk memastikan tak ada gejala dan tanda infeksi Covid-19," kisah Almabrur.

Setelah mendapat surat keterangan pemeriksaan dari puskesmas, Almabrur langsung menuju ke bantaran Kali Kecu dan mulai berkemah untuk isolasi mandiri. Ia juga menyempatkan diri melapor ke ketua RT.

“Saya langsung ke bantaran Kali Kecu, tidak mampir ke rumah. Ini sudah jalan empat hari,” jelas Almabrur.

Almbarur mendirikan tenda di bawah rimbunnya pohon bambu. Tenda itu menjadi tempat tidurnya. Seluruh aktivitas Almabrur hanya terbatas di bantaran sungai termasuk ketika mandi.

"Makanan saya setiap hari dikirimkan oleh adik saya. Untuk lampu, saya memasang lampu dengan sumber listrik dari rumah tetangga. Sesekali ada warga yang datang menjenguk saya," ujar Almabrur.

"Meski dikunjungi, saya menjaga jarak dengan setiap orang. Termasuk dengan istri dan anak-anak saya kalau berkunjung," katanya.

Meski berulang kali anak bungsunya yang berumur enam tahun merengek ingin memeluk, Almabrur tak mau memenuhi keinginan sang anak tercinta. Ia memilih membiarkan anaknya merengek demi melindunginya dari bahaya.

Almabrur sendiri mengisi kegiatan selama masa isolasi dengan membersihkan bantaran sungai. Dia memiliki target membersihkan bantaran sampah di belakang makam serta membikin anak tangga menuju sungai.

 kamar horor

“Saya melakukan ini juga agar masyarakat tenang ketika tahu saya pulang dari perantauan. Alhamdulillah ada warga yang respek dan datang sekadar memberikan makanan dan minuman,” terangnya.

Seperti dilansir dari Solopos, Istri Almabrur, Susanti, 37 tahun, mengaku berat dengan pilihan suaminya mengisolasi diri di pinggir sungai sendirian selama 14 hari.

“Sudah setahun ia tidak pulang, tentunya sangat kangen. Apalagi anak-anak sudah ingin memeluk. Namun, tidak apa-apa karena sudah menjadi pilihan dan aturan untuk isolasi mandiri,” kata Susanti.

Sebagai istri yang setia, Susanti setiap hari menyiapkan makanan, minuman, hingga camilan bagi suaminya yang melakukan isolasi mandiri. “Termasuk vitamin setiap hari saya kirimkan.”

Sementara itu, seorang pemudik dari Jakarta yang merupakan warga Kota Bandung, Lina mengatakan, ia dengan rela melakukan isolasi mandiri di kamar bernuansa horor di sebelah gudang di lantai dua rumah keluarganya.

Ia melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di kamar horor itu demi keselamatan keluarga dan warga di sekitar rumahnya. "Ya ini memang kamar kosong dan tak pernah ditempati, jadi tak heran kalau banyak makhluk halusnya," katanya.

Di kamar ini, ujar Lina, memang suasananya cukup seram karena di sebelah juga gudang yang gelap. Lalu banyak foto-foto di sini makanya sering membuat gelisah dan tak bisa tidur.

Lina mengaku mendapatkan gangguan saat awal-awal tidur di kamar yang horor tersebut. "Saya pernah merasa ada orang yang memeluk saya padahal di kamar itu saya hanya seorang diri saat tidur, eh ternyata bangun-bangun baru jam 2.30 pagi, saya hanya berdoa saja melawan rasa takut ini. Tak mungkin saya minta ditemani adik atau orang lain namanya juga isolasi mandiri."

Lalu suatu ketika, terang Lina, ia juga pernah bermimpi didatangi oleh seekor ular. "Ini merupakan pertanda bahwa saya mendapatkan gangguan jin."

"Saat saya merasa ketakutan saya biasanya hanya Sholat Tahajud. Membaca doa-doa dan terus berdzikir sebelum tidur," katanya kepada Okezone.

 Baca juga: Isolasi Diri, Ed Sheeran Nikmati Waktu dengan Berkebun

Untuk makanan, Lina menceritakan, saat lapar ia biasanya akan memesan makanan kepada adiknya via WhatsApp. Lalu adiknya akan mengantarkan makanannya ke kamar atas dengan memakai masker dan jaga jarak.

"Wah, rasanya saya sudah seperti tahanan yang dikirimi makanan saja. Tapi tak apa-apa, asalkan keluarga saya aman semua," ujarnya.

 Lalu bagaimana protokol isolasi mandiri yang benar?

 

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menjelaskan, terdapat beberapa protokol yang wajib dilakukan saat isolasi mandiri.

Pada dasarnya isolasi merupakan upaya untuk menjaga kontak fisik dekat supaya terhindar dari Covid-19. Oleh sebab itu, cara melakukannya jaga jarak sekiranya dua meter.

"Orang yang melakukan isolasi diri bisa berada di tengah keluarganya tetapi harus menjaga kontak fisiknya dua meter dengan seluruh anggota keluarganya yang ada di situ. Harus pakai masker agar droplet tertahan di masker," kata Yuri.

Isolasi mandiri, terang Yuri, bisa dilakukan individual bukan kelompok dengan ketentuan tidak melakukan kontak dekat. "Selalu menggunakan masker dan alat makan sendiri dan tidak makan bersama-sama dalam satu tempat dengan saudara yang lain."

“Jika tak memungkinkan untuk sendiri-sendiri. Inisiatif daerah bisa untuk mengumpulkan mereka (yang perlu diisolasi) pada suatu tempat. Namun tempat harus nyaman, bisa beristirahat dengan baik, bisa menjaga jarak dengan orang lain serta sarana dasar kebutuhan manusianya terpenuhi,” pungkas Yuri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini