Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masyarakat Lebih Memilih Beli Multivitamin, Belanja Ramadhan Tahun Ini Turun 32%

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 12 Mei 2020 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 12 620 2213099 masyarakat-lebih-memilih-beli-multivitamin-belanja-ramadhan-tahun-ini-turun-32-MWaYQ806Jy.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BULAN Ramadhan tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu perbedaan yang mendasar adalah dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga orang-orang tidak boleh berkumpul.

Nah, bagi yang biasanya menghabiskan waktu dengan ngabuburit, kali ini pun tidak bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman mereka. Biasanya, hidangan yang paling nikmat ketika berbuka adalah gorengan dan minuman manis.

Terlebih lagi, tahun ini konsumen lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sehingga konsumsi makanan tradisional Indonesia dan makanan pokok buatan sendiri pun meningkat. Hal ini tentu saja berdampak pada pengeluaran masyarakat, yang biasa menggunakan uangnya untuk jajan di luar.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh SurveySensum, tercatat 67 persen responden menekan pengeluaran hingga 43 persen dibanding Ramadhan tahun lalu, karena adanya COVID-19. Di antara kelas menengah yang diwawancara melalui platform SurveySensum, 73 persennya mengencangkan ikat pinggang di Ramadhan tahun ini.

Baca Juga: Tauhid dalam Perspektif Metafisika


Di sisi lain, 20 persen konsumen berbelanja dalam besaran yang sama seperti Ramadhan tahun lalu bahkan 13 persen konsumen lain justru lebih besar.

“Apabila keseluruhan angka ini kita himpun, secara keseluruhan belanja masyarakat Ramadhan tahun ini turun 32 persen dibanding tahun lalu. Kalau kita bagi lagi menurut kelas sosial-ekonominya, kelas ekonomi atas menghemat 23 persen pengeluaran dan kelas menengah 35 persen,” tutur SurveySensum CEO Rajiv Lamba.

“Sebagai ilustrasi, misalnya tahun lalu konsumen mengeluarkan Rp10 juta rupiah selama bulan Ramadhan. Belanja kelas ekonomi atas turun hingga Rp7,7 juta rupiah dan kelas menengah hanya berbelanja Rp6,8 juta rupiah.” tambah dia.

Dan juga yang tidak kalah menarik adalah ketika konsumen diminta mengingat kembali makanan dan minuman Ramadhan tahun lalu selama sahur dan Buka Puasa.

Menurut 40 persen konsumen, mereka lebih banyak mengonsumsi vitamin, suplemen makanan, dan minuman kesehatan di Ramadhan ini. Mereka juga lebih banyak mengonsumsi penambah imunitas, permen vitamin C, suplemen kalsium, sayur, dan buah-buahan.

Baca Juga: Puasa Ramadhan Rukun Islam Ketiga, Bagaimana Status Keislaman Orang yang Meninggalkannya?

Rajiv menuturkan, sejak pandemi ini lebih banyak konsumen membeli suplemen kesehatan dan kebutuhan sehari-hari termasuk sembako, sayur, makanan jadi, dan buah secara online.

"Sekira 33 persen konsumen membeli vitamin melalui platform online seperti e-commerce, media sosial, dan sebagainya. Padahal sebelum pandemi COVID-19, platform belanja online lebih banyak digunakan untk membeli produk-produk fesyen dan elektronik," jelas dia.

Meski demikian kekhawatiran konsumen masih tertangkap di gelombang ketiga riset SurveySensum COVID-19 Consumer Behaviour Track ini. Rajiv menuturkan, dalam dua minggu terakhir kekhawatiran konsumen cenderung stabil, tidak terlalu berlebihan. "Namun jika kita bandingkan dengan situasi sebulan lalu, kekhawatiran konsumen meningkat karena dampak virus Corona," katanya.

Namun begitu, data SurveySensum menunjukkan bahwa konsumen sangat optimistis akhir Mei ini situasi akan normal. Rata-rata konsumen pun memperkirakan situasi akan normal dalam 3 bulan mendatang atau sekitar pertengahan Agustus 2020.

Sebagai perbandingan, SurveySensum mengajukan pertanyaan yang sama kepada pelaku bisnis tanah air. Lebih dari separuh pebisnis memperkirakan dampak COVID-19 kembali normal setidaknya dalam 5 bulan atau lebih. Bagi para pelaku bisnis, pandemi ini akan berlangsung cukup lama hingga bulan September atau Oktober.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini