Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Iwadh, Tradisi Lebaran di Kampung Arab Manado yang Hilang Imbas Covid-19

Subhan Sabu, Jurnalis · Minggu 24 Mei 2020 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 24 620 2218941 iwadh-tradisi-lebaran-di-kampung-arab-manado-yang-hilang-imbas-covid-19-NccCiWb22Z.jpg Tradisi Iwadh di Manado kini hilang karena Corona (Ist)

MANADO - Di Kota Manado ada sebuah kampung yang dihuni oleh penduduk yang mayoritas warganya merupakan keturunan Arab, namanya Kampung Arab.

Kampung yang berada di Kelurahan Istiqlal, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) ini punya tradisi yang dilaksanakan turun temurun setiap perayaan Idul Fitri.

Namanya Tradisi Iwadh. Tradisi yang sudah ada sejak 90 tahun silam itu digelar pada hari kedua di bulan syawal atau hari kedua Idul Fitri dan masih terus dipertahankan hingga kini serta terus dijaga kelestariannya.

"Iwadh merupakan tradisi yang sudah ada sejak jaman dahulu, masuk rumah keluar rumah saling mendoakan yang menjadi kebiasaan umat Islam di Manado, khususnya di kampung Arab," ujar tokoh agama setempat, Ayub Ali Albugis

Mulai pukul 07.00 Wita sampai pukul 16.00 wita tradisi ini dimulai dengan mengelilingi kampung diiringi musik rebana hadroh mengunjungi sekitar 450 rumah yang ada di Kampung Arab saling bersilaturahmi bersama tetangga saling maaf memaafkan serta iringan doa.

Selain silaturahmi antar tetangga, Tradisi Iwadh juga jadi ajang silaturahmi dengan pemerintah daerah, Gubernur Sulut, serta unsur Forkopimda.

"Biasanya hari kedua banyak petinggi-petinggi, kepala-kepala pemerintahan datang ketempat kita untuk mengikuti," jelas Ayub.

Kata Iwadh berasal dari Bahasa Arab, yaitu ada-yaudu-audan yang berarti kembali. Maksudnya adalah kembali suci. selain bermaksud memfitrahkan diri dengan cara saling bermaafan, Iwwadh juga menjadi media kembali bagi jamaah yang selama ini tidak pernah bertemu.

Iwadh tak digelar serampangan. Tradisi ini hanya dilakukan warga keturunan Arab setiap hari kedua Lebaran. Inti tradisi ini adalah menebalkan tali silaturahim antarsesama keturunan Arab.

Iwadh dirayakan dengan tradisi mengunjungi warga muslim keturunan Arab sambil membaca puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta memanjatkan doa bagi pemilik rumah.

Tradisi bersalam-salaman dan bermaafan yang sudah dilakukan turun temurun ini selalu meriah.

Namun sayangnya di tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang sekarang ini melanda dunia termasuk Indonesia, kemeriahannya akan hilang dan bakal tidak dilaksanakan pada Idul Fitri kali ini mengingat adanya larangan untuk tidak mengadakan kegiatan atau acara yang menyebabkan berkumpulnya massa, baik di tempat umum dan lingkungan sekitar.

"Buat kondisi demikian tidak memungkinkan untuk melaksanakan tradisi iwadh. Saya juga tidak open house," kata Ayub.

Tidak digelarnya tradisi tersebut menurutnya sudah disepakati bersama oleh warga yang ada di kampung Arab demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan mengikuti himbauan pemerintah untuk menjaga jarak atau social distancing maupun physical distancing.

"Kalau pak Imam umumkan sepakat," pungkasnya

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini