Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dokter Reisa: Remaja Indonesia Harus Tahu Cara Cegah Stunting

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 16:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 620 2267865 dokter-reisa-remaja-indonesia-harus-tahu-cara-cegah-stunting-SDHoUC9PmH.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

INDONESIA termasuk negara darurat stunting. Peran remaja menjadi hal penting mencegah stunting. Apa kaitannya?

Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.

Global Health survei 2015 menunjukkan, penyebabnya antara lain remaja jarang sarapan, 93 persen kurang makan serat sayur buah. Ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia tinggi, padahal hal ini berkontribusi pada kejadian stunting.

Baca Juga: Kabar Baik, Penambahan Kasus Covid-19 di Indonesia Cenderung Menurun!

Remaja belum aware pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat. Pengetahuan mereka sangat terbatas tapi mereka harus menikah, hamil dan jadi ibu.

remaja

Diungkapkan Pakar Kesehatan Dokter Reisa Broto Asmoro, remaja Indonesia harus dapat ilmu basic mencegah stunting untuk mempersiapkan masa depannya. Kalau belum dapat ilmunya, mereka akan kesulitan dalam membangun keluarga di masa depan.

"Indonesia termasuk negara emergency thdp stunting maka harus berubah. Kalau terlanjur stunting, enggak bisa dikembalikan pada kondisi awal," ucap Dokter Reisa saat webinar Tanoto Foundation “Saatnya Remaja Cegah Stunting”, Rabu (26/8/2020).

Kenapa butuh peran remaja? Disebutkan Dokter Reisa, remaja adalah calon orangtua di masa depan. Sayangnya, di sekolah mereka tidak pernah mendapatkan ilmu parenting.

"Ilmu parenting bisa dimasukkan dalam pelajaran remaja. Kenapa? ilmu enggak bisa sekali dikasih, langsung tahu dan dijadikan kebiasaan. Kalau enggak dijadikan kebiasaan tentu akan sangat sulit," ungkapnya.

Sementara itu, stunting berhubungan erat dengan 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Paling utama berkaitan dengan gizi, persiapan kehamilan dan mental untuk memiliki keturunan.

Dokter Reisa menyebut, usia remaja 10-19 tahun itu masa krusial mencegah stunting. Para remaja harus tahu transisi tubuhnya saat menjadi dewasa. Karena menuju dewasa, para remaja mengalami perubahan fisik secara psikis, hingga kehidupan sosialnya juga berubah.

Baca Juga: Liburan ke Labuan Bajo, Asyiknya Salmafina Sunan Berjemur Pakai Bikini

stunting

"Masa ini harus benar-benar diperhatikan. Tapi Indonesia juga negara dengan 1000 mitos tapi malah dipercaya, nah info ini kurang tepat dan dibawa terus sampai punya anak," bebernya.

Menurut Dokter Reisa, pola makan hingga pola asuh yang tepat sejak remaja, bisa menjadi acuan dalam mencegah stunting. Tak ada salahnya, orangtua pun harus membiasakan sejak dini.

"Kalau remaja dikasih tahu hal ini, tentu sangat bisa menurunkan stunting dengan efektif," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini