Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wisata Selam di Indonesia Harus Bangkit dari Corona

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 05 November 2020 05:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 04 620 2304230 wisata-selam-di-indonesia-harus-bangkit-dari-corona-SPT61UrXZH.jpg Ilustrasi menyelam atau diving (Foto Aqua-Sport)

PANDEMI Covid-19 berdampak serius pada geliat pariwisata, salah satunya adalah wisata selam atau diving. Sektor wisata ini sempat jadi primadona turis di Indonesia. Namun, sejak virus corona mewabah, diving jadi minim pemit.

Indonesia punya banyak surga buat diving yang tersebar mulai dari Sabang hingga Papua. Beberapa yang terkenal adalah Raja Ampat, Labuan Bajo, Pulau Weh Sabang, Wakatobi, Karimunjawa, Bali, Morotai, Bunaken dan lainnya. 

Baca juga:  6 Wisata Kebun Raya di Indonesia, Cocok Dikunjungi saat Pandemi Covid-19

Ketua Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) Ricky Soerapoetra mengatakan, jumlah wisatawan yang berminat pada wisata selam di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir turun drastis. Dampaknya adalah ada sejumlah pelaku usaha diving tak beroperasi.

“Berdasarkan survei per April 2020 ada 102 usaha yang tidak beroperasi, dan 44 persen pekerja dirumahkan dengan tanggungan, namun saya rasa angka ini akan bertambah atau mungkin sudah bertambah,” ujar Ricky seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (4/11/2020).

Ricky berharap para pelaku usaha wisata selam dapat bangkit dengan melakukan strategi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability) khusus wisata selam dengan disiplin. Sehingga hal ini dapat menimbulkan rasa aman wisatawan untuk kembali melakukan wisata selam.

Protokol CHSE sendiri merupakan turun dari program Indonesia Care besutan Kemenparekraf. Protokol ini berisikan peraturan dan kebijakan yang wajib dipatuhi para pelaku wisata maupun wisatawan, guna meminimalisir dan mencegah penyebaran Covid-19 di kawasan wisata.

Baca juga: Apa Itu CHSE Pariwisata dan Ekonomi Kreatif?

"Kami berharap dengan protokol CHSE ini bisa membuat kenyamanan wisatawan dan semoga Indonesia bisa membuka pintunya untuk wisatawan mancanegara di waktu yang tepat dan kondisi yang tepat," ujar Ricky.

Sementara itu Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan bahwa di bandara sendiri pun hingga saat ini masih dilakukan pembatasan dalam skala besar. Hal ini sebagai upaya memenuhi standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kami menerapkan imbauan pemerintah, intinya kami masih melakukan pembatasan turis dalam skala besar untuk wisata. Mereka yang boleh datang ke Indonesia yang memiliki kartu tinggal sementara atau kartu tinggal tetap saja, misalnya yang sedang bekerja di Indonesia," ujar Awaluddin

ilustrasi

Meski demikian, Angkasa Pura memberikan jaminan terhadap masyarakat Indonesia terkait penggunaan Bandara International Soekarno Hatta. Sebab, Bandara Soekarno Hatta telah dinyatakan sebagai bandara yang aman dan nyaman dari hasil survei 217 bandara di seluruh dunia.

"Kami bersyukur pada September 2020 bandara-bandara di dunia itu melakukan penilaian bandara, dan alhamdulillah Bandara Soekarno Hatta mendapat skor 4,9 dari skala 5. Bandara Soekarno Hatta dinyatakan sebagai bandara yang aman dan nyaman untuk hasil survei 217 bandara di seluruh dunia," ujar Awaluddin.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini