Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lebaran di Tengah Pandemi, Tak Ada Nyaring Gamelan Sekaten di Keraton Kasepuhan

Fathnur Rohman, Jurnalis · Minggu 24 Mei 2020 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 24 620 2218935 lebaran-di-tengah-pandemi-tak-ada-nyaring-gamelan-sekaten-di-keraton-kasepuhan-6xxx0pc74K.jpg Keraton Kasepuhan tak tabuh gamelan sekaten di momen lebaran kali ini (Foto: Okezone/Fathnur)

CIREBON - Ada yang berbeda dalam suasana perayaan Idul Fitri 1441 Hijiriyah kali ini di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat. Yakni tidak ada kegiatan penabuhan 'gamelan sekaten'. Padahal kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun saat hari lebaran.

Sekedar diketahui, penabuhan gamelan sekaten merupakan tradisi Keraton Kasepuhan Cirebon yang diketahui sudah berusia sekitar 600 tahun. Dimana tradisi ini digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan Syiar Islam.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menjelaskan, pada zaman Sunan Gunung Jati dulu, gamelan sekaten berfungsi sebagai media dakwah. Gamelan sekaten akan dimainkan di alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon. Sehingga dapat menarik rasa penasaran masyarakat saat itu.

"Saat masyarakat berkerumun menyaksikannya, Sunan Gunung Jati meminta mereka menikmati gamelan sekaten dan juga harus membayar. Namun membayar tidak pakai uang melainkan membaca dua kalimat syahadat," kata Arief, dalam keterangan yang diterima Okezone, Minggu (24/5/2020).

Menurut Arief, alasan tidak adanya tradisi gamelan sekaten adalah, karena saat ini sedang pandemi virus corona. Selain itu, Arief mengaku dirinya mengikuti anjuran pemerintah dengan tidak menyelenggarakan tradisi tersebut. Mengingat dalam pelaksanaanya dapat mengundang massa dalam jumlah banyak.

"Masih ada wabah Covid-19, jadi Gamelan Sekaten tidak ditabuh tahun ini, karena mengundang banyak massa," tambahnya.

Diceritakan Arief, gamelan sekaten akan dimainkan setahun dua kali, yaitu di momen perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Biasanya gamelan sekaten bakal ditabuh setelah sultan dan keluarga keraton selesai melaksanakan salat id. Kemudian, lanjutnya, sultan ditemani keluarga dan kerabat dekat akan mengunjungi Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon, untuk mendengarkan syahdunya irama suara dari gamelan sekaten.

Seperangkat gamelan sekaten, sambungnya, merupakan benda yang sangat sakral. Oleh sebab itu, gamelan sekaten tidak akan dimainkan dalam kegiatan atau acara biasa. "Kalau momen pertunjukan biasa gamelan sekaten tidak kami keluarkan karena gamelan ini sangat sakral," ungkap Arief.

Masih disampaikannya, nama 'sekaten' dalam gamelan sekaten berasal dari kata Syahadatain. Hal ini mengacu pada permintaan Sunan Gunung Jati, yang mengharuskan masyarakat membayar dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat atau Syahadatain, ketika menyaksikan pertunjukan gamelan sekaten.

"Saat ini, perangkat gamelan sekaten tersimpan rapi di dalam Museum Pusaka Keraton Kesepuhan Cirebon," tutur dia.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini