Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini 3 Indikator PSBB Boleh Dilonggarkan, Salah Satunya RS Tak Boleh Tolak Pasien Covid-19

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 06 Juni 2020 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 06 620 2225518 ini-3-indikator-psbb-boleh-dilonggarkan-salah-satunya-rs-tak-boleh-tolak-pasien-covid-19-jyK3lA109f.jpg Ilustrasi. (Freepik)

BERSIAP menghadapi New Normal atau kenormalan baru, masyarakat harus bisa berdamai dengan virus corona. Saat ini Jakarta sudah memasuki masa PSBB Transisi menuju New Normal. Ini berarti, Anda sudah mulai bisa beraktivitas di luar rumah meski masih terbatas, dan harus tetap menjalani sederet aturan protokol kesehatan di setiap tempat.

Warga masih khawatir dengan ancaman Covid-19, tapi di sisi lain Anda harus beraktivitas normal seperti sediakala. Contohnya di DKI Jakarta perdebatan pelonggaran PSBB masih dibahas sejumlah pakar. Hal ini juga diikuti kota-kota lain yang juga menerapkan PSBB.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr Zoebairi Djoerban membeberkan sejumlah indikator yang bisa membuat suatu wilayah melonggarkan PSBB. Hal pertama yang dia sebutkan adalah PSBB bisa longgar bila peningkatan kasus makin sedikit dan melandai.

dokter

Baca Juga: Sulit Dapat SIKM, Ini Curhatan Dion Belum Bisa Balik Merantau ke Jakarta

"Tapi kurva kasus positif Covid-19 di Indonesia sebenarnya masih jauh dari kata landai. Kondisi saat ini kita tidak hanya mendeteksi yang terinfeksi, nah yang belum ketahuan positif Covid-19 juga banyak. Begitu pula masih banyak pasien meninggal," terang Prof Zoebairi saat Zoom Meeting membahas Strategi Menghadapi Era Normal Baru, Jumat 5 Juni 2020.

Prof Zoebairi melanjutkan, indikator kedua jika suatu wilayah di Indonesia boleh melonggarkan PSBB adalah rumah sakit tidak lagi beralasan menolak pasien. Ini berarti gedung-gedung rumah sakit yang menampung pasien positif Covid-19 tidak lagi penuh.

Tapi faktanya, menurut Prof Zoebairi, di beberapa kota besar masih banyak rumah sakit yang menolak pasien. Di Surabaya misalnya, angka kasus positif Covid-19 terus melonjak, namun rumah sakit di sana belum mampu menampung semua pasien yang membutuhkan pelayanan.

Kemudian, saat PSBB dilonggarkan syarat lainnya adalah Reproduksi realtime (Rt) virus corona harus di bawah 1. "Kalau ini tercapai, baru boleh dilonggarkan," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Prof Zoebairi juga membeberkan untung dan ruginya jika pemerintah melonggarkan PSBB. Menurutnya, dampak baik dari PSBB dilonggarkan, maka perputaran roda ekonomi kembali berjalan baik.

Baca Juga: 

GBK Senayan Buka Lagi, Anak Gaul Jakarta Kangen Berat dan Ini Curhatannya
GBK Senayan Buka Lagi, Anak Gaul Jakarta Kangen Berat dan Ini Curhatannya

"Dampak buruknya itu kasus positif bisa melonjak," bebernya.

Di sisi lain, jika PSBB ditiadakan, para pakar juga sangat mengkhawatirkan adanya gelombang kedua episentrum Covid-19, seperti halnya yang terjadi di Singapura.

"Sambil waspada gelombang ke-2, misalnya di Singapura, yang tadinya mulai amat baik malah sekarang (kasus positif) meningkat. Nah kita harus mengikuti pengalaman negara lain.”

Prof Zoebairi menegaskan, semua orang bisa tertular karena penyebarannya dari manusia ke manusia.Belum lagi kalau di luar rumah, di sekitar masyarakat ada Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19.

"Penularan jaraknya bisa 1,8 meter, dari droplet orang yang batuk, bersin bicara atau kalau misalnya sedang mengobrol. Hati-hati juga dengan orang tanpa gejala," bebernya.

Menanggapi Prof Zoebairi, Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said menjelaskan, ada banyak cara mengedukasi masyarakat agar menghindari Covid-19. Jusuf Kalla, Ketua PMI punya rumus segitiga, yaitu menghindar, menyerang dan mengobati.

"Menghindar adalah setiap masyarakat harus menjalani rutinitas Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Lalu ada menyerang, artinya virus dibasmi dengan menyemprot disinfektan dan mengobati secara disiplin kesehatan. Kami edukasi masyarakat dengan cara menghindar dan menyerang," terang Sudirman.

Untuk membantu melawan virus corona, sebut Sudirman, ada banyak relawan PMI yang diterjunkan ke daerah-daerah episentrum. Misalnya saja DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan sebagainya.

Jadi Zona Hitam Corona, Risma Banjir Dukungan dan Ini Curhatan Arek Suroboyo

Baca Juga: Jadi Zona Hitam Corona, Risma Banjir Dukungan dan Ini Curhatan Arek Suroboyo

Relawan tersebut bertugas mengajarkan masyarakat untuk ingat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), rajin cuci tangan pakai sabun, pakai masker, hingga menyediakan hygiene kit. Kemudian di beberapa daerah, virus corona juga dibasmi dengan mobil tangki semprot disinfektan.

"Mereka mengedukasi masyarakat terus-menerus. Ini lantaran kita memahami disiplin warga masih rendah. Maka harus cerewet, melakukan komunikasi harian terus-menerus dengan warga. Menghentikan penularan Covid-19 ini masalah serius," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini