Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah akan Bentuk Herd Immunity Tangani Covid-19, Apa Itu?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 14:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 620 2286166 pemerintah-berencana-bentuk-herd-immunity-tangani-covid-19-apa-itu-X5UHQZ24SK.jpg Patuhi protokol kesehatan kunci putus penularan Covid-19 (Foto : Okezone)

Kata herd immunity kembali menjadi perbincangan hangat. Hal ini karena herd immunity disinyalir akan menjadi strategi pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19.

Kabar yang beredar, pemerintah tengah merancang bagaimana herd immunity itu terlaksana di Indonesia. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam pernyataannya di kuliah umum virtual untuk Universitas Muhammadiyah Malang, Senin 28 September 2020. Langkah yang akan dilakukan adalah dengan menciptakan Herd Immunity lewat pemberian vaksin Covid-19.

"Untuk membangun apa? Membangun herd immunity. Jadi apa itu herd immunity? Itu imunitas kawanan, imunitas kawanan atau mereka yang sudah tidak mempan oleh Covid-19," ujarnya.

Muhadjir Effendy

(Foto : Instagram/@muhadjir_effendy)

Muhadjir pun menjelaskan, skema herd immunity tahap pertama akan dilakukan dengan menargetkan terbentuk herd immunity pada 70 persen penduduk. Mereka itu terdiri dari warga yang telah lolos uji vaksin dan yang pernah terpapar Covid-19, karena di tubuhnya sudah punya daya tahan imunitas.

Dengan herd immunity yang sudah dibentuk dari 70 persen penduduk, itu akan menyelamatkan 30 persen penduduk lain. Ya, mereka secara alami terpagari karena telah memiliki imunitasnya.

"Itu targetnya sekitar 70 persen penduduk Indonesia. Kalau mereka sudah diimunisasi termasuk mereka yang kena, sudah terkena covid itu punya daya tahan imunitas yang sudah terbentuk," jelasnya.

Muhadjir berharap rencana penerapan Herd Immunity akan dimulai akhir tahun 2020 dan pada 2021, Indonesia aman dari ancaman Covid-19.

Sikap Muhadjir Effendy ini bertolak belakang sekali dengan pernyataan pemerintah di awal pandemi muncul. Dengan tegas pemerintah menolak akan menerapkan Herd Immunity untuk menangani pandemi Covid-19.

Prof Wiku

(Foto : Instagram/@wikuadisasmito)

Pada Mei 2020, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 yang sekarang bertugas sebagai Jubir Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dengan tegasnya membantah kalau pemerintah akan menggunakan Herd Immunity sebagai strategi penanganan pandemi.

Pernyataan tersebut keluar saat pemerintah akan melakukan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Di momen itu, Wiku pun berharap agar masyarakat tetap tidak berkumpul meski PSBB dilonggarkan.

"Tetapi masyarakat juga harus mengikuti protokol kesehatan secara konsisten di dalam aktivitasnya, sehingga kasus positif Covid-19 baru tidak terus bertambah," kata Wiku.

Baca Juga : Adu Gaya Marion Jola Vs Brisia Jodie, Siapa Paling Gemas?

Sementara itu, Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, pernah mengatakan bahwa memang benar Herd Immunity bisa tercipta dengan pemberian vaksin. Jadi, dengan imunisasi, akan terbentuk secara alami imunitas masyarakat.

"Herd immunity merupakan keadaan 80 persen penduduk di suatu tempat memiliki kekebalan penyakit. Sehingga mereka bisa melindungi penduduk lain yang rentan terhadap penyakit tersebut," terangnya.

Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa penyakit yang dihadapi masyarakat ini bukan rubella, yang mana ketika terjangkit dan sembuh, maka akan memiliki kekebalan permanen. "(Sementara) untuk (penyakit) Covid-19 ini enggak ada (kebal) bisa kena tiga kali empat kali (setelah sembuh)," jelasnya.

Syahrizal menekankan, menerapkan Herd Immunity itu risiko terbesarnya adalah akan banyak orang kehilangan nyawa. "Dengan menerapkan Herd Immunity, penduduknya habis. Kita mau berapa banyak penduduk yang meninggal? Bisa jutaan yang meninggal," kata Syahrizal, di saat vaksin belum ditemukan.

Apa itu herd immunity?

Pada Maret lalu Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, bahkan menyerukan warganya untuk menjaga imunitas dengan herd immunity. Rutte mengatakan herd immunity bisa meringankan gejala seseorang apabila terinfeksi Covid-19.

“Dengan mengambil pendekatan ini, kebanyakan orang hanya akan mengalami gejala ringan. Kita bisa membangun kekebalan serta memastikan bahwa sistem perawatan dan kesehatan kita mampu mengatasinya," kata Ruttte.

Meski demikian masih banyak masyarakat yang bingung dengan istilah herd immunity. Mengutip dari Business Insider, Rabu (30/9/2020), herd immunity adalah kondisi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap patogen, sehingga penularan tidak terjadi secara luas.

New Normal

Contohnya, untuk membatasi penyebaran campak, para ahli memperkirakan bahwa 93% hingga 95% dari populasi harus kebal. Campak sendiri dianggap lebih menular bila dibandingkan dengan COVID-19. Para ahli memperkirakan 40% hingga 70% populasi harus kebal untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Di samping itu, herd immunity juga dapat dicapai melalui penggunaan vaksin, seperti dalam kasus cacar dan campak. Sayangnya, sejumlah ahli mengatakan dibutuhkan waktu selama kurang lebih 18 bulan untuk mengembangkan vaksin corona.

Kekebalan kelompok disinyalir bisa dilakukan secara alami, bila orang-orang yang terbukti positif corona pulih kembali dan menjadi kebal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini