Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Abaikan Sakit Kepala, Bisa Jadi Gejala Covid-19!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 17 November 2020 13:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 17 620 2310953 jangan-abaikan-sakit-kepala-bisa-jadi-gejala-covid-19-1nXmLeF8ie.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Informasi mengenai Covid-19 terus berkembang setiap harinya. Salah satu kabar terbaru mengatakan bahwa sakit kepala dan migran bisa dikaitkan dengan gejala Covid-19. Tapi, apakah itu benar?

Huffpost melaporkan, sakit kepala dapat terjadi karena berbagai alasan, tetapi satu hal yang menjadi semakin jelas adalah banyak pasien Covid-19 yang ternyata mengeluhkan sakit kepala. Lantas, apakah kondisi tersebut benar-benar menandakan seseorang terserang virus SARS-CoV2?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan gejala Covid-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan kelelahan. Sementara itu, NHS mencatat bahwa gejala umum Covid-19 pun dikaitan dengan hilangnya kemampuan lidah untuk merasa dan hidung untuk menghirup aroma.

"Jika Anda memiliki salah satu dari gejala tersebut, maka Anda sangat disarankan untuk mengisolasi diri selama 14 hari," tulis WHO.

Namun, ada beberapa gejala yang dinilai WHO jarang terjadi namun banyak dilaporkan dalam beberapa kasus. Gejala tersebut antara lain nyeri tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, mata merah, diare, bahkan ruam di kulit.

Dokter David Strain, seorang akademisi klinis di University of Exeter Medical School, dinyatakan positif Covid-19 pada 10 November dan memberi tahu HuffPost bahwa gejala yang dia alami adalah kehilangan kemampuan indera penciuman dan sakit kepala.

"Sakit kepala yang terjadi kalau bisa digambarkan, sakit kepala terburuk dalam hidup saya," katanya.

Sakit Kepala

Dia pun menjelaskan bahwa sakit kepala adalah gejala umum yang dialami pada kebanyakan pasien Covid-19 yang dia temui dan gejala tersebut cenderung mereda setelah empat atau lima hari.

Terkait dengan penyebab munculnya gejala tersebut, dr Strain meyakini itu muncul berhubungan dengan peradangan di sekitar selaput otak yang dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab migran.

"Peradangan tersebut memungkinkan protein bocor keluar daripembuluh darah yang pada akhirnya memicu rasa sakit," terangnya. Covid-19 sendiri terbukti menyebabkan pembuluh darah bocor di organ lain.

Baca Juga : Intip Bulan Madu Kevin Aprilio-Vicy Melanie, Romantis di Kolam Renang!

Di sisi lain, sakit kepala yang banyak dikeluhkan berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi selama pandemi. Ahli saraf Dr Charisse Litchman yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan pada KDKA TV bahwa dia telah memperhatikan terjadinya peningkatan sebesar 20 persen pada keluhan sakit kepala sejak dimulainya pandemi.

Hal tersebut juga dihubungkan dengan berbagai alasan termasuk peningkatan stres, tidak berolahraga, dan waktu penggunaan ponsel atau elektronik lainnya yang semakin panjang.

Di Inggris juga kasusnya serupa. National Migraine Center melaporkan bahwa banyak penderita migran mengalami kekambuhan sejak pandemi dimulai dan ini dikaitkan dengan perubahan gaya hidup seperti kurang tidur, perubahan pola makan, dan berkegiatan hanya di rumah.

Lantas, apa yang membuat seseorang tahu itu sakit kepala biasa atau karena Covid-19?

Menurut aplikasi Covid Symptom Study, gejala awal virus yang paling umum dialami seseorang adalah sakit kepala (82%) dan kelelahan (72%). Kondisi tersebut terjadi di semua kelompok umur. Namun, hanya 9 persen orang dewasa positif Covid-19 yang melaporkan tidak mengalami sakit kepala atau kelelahan.

Perlu menjadi catatan bahwa sakit kepala saja tidak kemudian menandakan tubuh Anda sedang terinfeksi Covid-19. Sebab, di studi yang sama diketahui bahwa hanya 1 persen dari orang yang melaporkan kelelahan dan atau sakit kepala yang dinyatakan positif. "Jadi, sakit kepala saja tidak bisa jadi indikasi Anda terinfeksi Covid-19," terang laporan tersebut.

Tetapi di beberapa wilayah di Inggris menerapkan testing pada mereka yang mengeluhkan sakit kepala. Ya, meski Anda mungkin menyadari kalau itu sakit kepala biasa yang tidak berkaitan dengan Covid-19.

Sakit Kepala

Dokter Richard Harling, direktur kesehatan dan perawatan Dewan Wilayah Staffordshire baru-baru ini mendesak masyarakatnya untuk menjalani tes Covid-19 karena munculnya gejala seperti sakit kepala, pilek, kelelahan ekstrem, bersin-bersin, nyeri tubuh, dan sakit tenggorokan.

Upaya tersebut dia lakukan sebagai bentuk pencegahan yang masif supaya angka penyebaran Covid-19 di wilayahnya tidak membengkak.

"Kami belajar dari banyak hal bahwa pasien Covid-19 dapat menunjukkan gejala dalam bentuk apapun, jadi kami pikir masuk akal bagi siapa pun yang memiliki gejala untuk dites," kata dr Harling kepada Express and Star.

Bila Anda khawatir sakit kepala yang sekarang dihadapi adalah bentuk gejala Covid-19, maka yang bisa Anda lakukan untuk pertolongan pertama adalah mengonsumsi parasetamol. Saran ini disampaikan National Migrane Center.

"Selain mengonsumsi parasetamol, Anda wajib mengukur suhu tubuh jika merasa belum ada perbaikan kondisi setelah mengonsumsi obat tersebut," tulis laporan tersebut.

Saran tersebut pun dianggap membantu dr Strain dalam perbaikan sakit kepala yang ia alami di awal gejala muncul. Tidak hanya parasetamol, ia mengonsumsi juga buah jeruk dan menghidrasi tubuh dengan baik," tambah dr Strain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini