Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kabar Baik, Peneliti Yakin Bisa Kalahkan B-117 di Covid-19 Jenis Baru

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 19 Januari 2021 13:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 19 620 2346992 kabar-baik-peneliti-yakin-bisa-kalahkan-b-117-di-covid-19-jenis-baru-y2q0WDTUzR.jpg Ilustrasi pencegahan wabah covid-19. (Foto: Fernandozhiminaicela/Pixabay)

COVID-19 jenis baru jadi fokus isu di awal tahun 2021. Kekhawatiran banyak orang bahwa varian baru virus corona ini akan mewabah setelah persebarannya terjadi di banyak negara, termasuk di Singapura tetangga terdekat Indonesia.

Tapi Kevin Esvelt, asisten profesor di Massachusetts Institute of Technology's Medical Lab; serta Marc Lipsitch, profesor di Departement of Epidemiology and Immunology and Infectious Disease di Harvard TH Chan School of Public Health; meyakini covid-19 jenis baru tidak akan mewabah pada 2021.

Para peneliti itu mengungkapkan, virus SARS-CoV2 penyebab covid-19 dianggap mampu mengalahkan manusia karena tidak ada persiapan sebelumnya untuk melawan mereka. Maka itu, para peneliti pun mengakui kalah karenanya. Tapi untuk covid-19 jenis baru, termasuk B-117, para peneliti yakin bisa mengalahkannya pada 2021 ini.

"Kami sudah memahami bagaimana virus ini menyebar, strategi kesehatan masyarakat mana yang dapat membantu menahannya, dan bagaimana cara paling efektif untuk mengobati orang yang terinfeksi," kata penulis penelitian, seperti dikutip dari laman Stat News, Selasa (19/1/2021).

Baca juga: Penelitian Ungkap Gejala Covid-19 Bisa Diketahui dari Kuku dan Daun Telinga 

Tidak hanya itu, hal yang membuat para peneliti yakin bisa mengalahkan strain covid-19 adalah jutaan tes diagnostik setiap harinya yang dapat dengan spesifik mendeteksi patogen baru dan membedakannya dengan covid-19 generasi pertama sudah dilakukan.

"Siapa pun yang telah terjangkit covid-19 sangat resisten terhadap B-117, salah satu covid-19 jenis baru. Jadi karena covid-19 generasi lama, kita bisa melawan B-117," terang penulis.

"Vaksin yang sedang disuntikkan di banyak negara pun diyakini mampu melindungi seseorang dari covid-19 jenis baru. Dengan dua kekuatan itu, kami yakin juga mampu menahan covid-19 jenis baru jadi pandemi," tambah laporan tersebut.

Sementara serangan B-117 bisa tidak maksimal dicegah karena para tenaga kesehatan maupun ilmuwan kelelahan akibat ulah covid-19 generasi pertama yang sampai sekarang belum juga dapat diberantas. Selanjutnya, masyarakat juga kewalahan sekira setahun belakangan ini karena wabah covid-19.

Ancaman lainnya ialah covid-19 jenis baru dinilai lebih mudah menyebar dibandingkan covid-19 generasi pertama. Hal ini bisa dilihat pada kasus di Inggris, B-117 bahkan dikatakan sudah bermutasi 10 kali lipat setiap tiga minggu atau lebih. Pola yang sama juga terlihat di Denmark.

Baca juga: Catat! Ini 11 Gejala yang Muncul karena Covid-19 Jenis Baru 

Lantas, apa artinya fakta tersebut bagi setidaknya 32 negara di luar Inggris yang sudah mengonfirmasi adanya B-117?

Asumsikan bahwa komunitas Anda telah melakukan upaya pencegahan SARS-CoV2 dengan menggunakan masker pun menjaga jarak aman, tetapi ternyata ada satu orang yang terinfeksi B-117. Dalam tiga minggu, di komunitas Anda diperkirakan ada 10 kasus B-117 per harinya.

Dengan begitu, dalam 6 minggu, mungkin ada 100 kasus varian baru covid-19. Pada 9 bulan, kasus menjadi setengahnya, baik itu SARS-CoV2 maupun B-117, dan jumlahnya akan meningkat bahkan setelah persebaran kedua virus melambat karena vaksinasi yang membangun herd immunity.

"Perkiraan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan apa yang bisa terjadi, tetapi konsisten menjalankan protokol kesehatan dapat mencegah penyebaran virus meluas di masyarakat, baik itu pada kasus SARS-CoV2 maupun B-117 pun varian mutasi virus lainnya," terang penulis penelitian.

Upaya Mengalahkan Covid-19 Jenis Baru

Peneliti sadar betul bahwa belum banyak negara yang melakukan deteksi covid-19 jenis baru. Terlebih, kasus covid-19 generasi pertama masih menjadi prioritas utama karena angka kejadiannya masih terus naik.

Baca juga: Jepang Temukan Covid-19 Jenis Baru dari 4 Turis Brasil 

Namun, Thermo Fisher sudah mulai melakukan aksi nyata untuk mendeteksi keberadaan covid-19 jenis baru, termasuk B-117. Mereka membuat 20 juta alat uji TaqPath yang mampu mendeteksi B-117.

Alat tersebut setara dengan PCR Test pada SARS-CoV2. Bahkan, alat ini mampu mendeteksi lebih spesifik pada hasil tes PCR positif SARS-CoV2. Jadi si pasien bisa diketahui terinfeksi SARS-CoV2 atau B-117.

Covid-19. (Foto: Okezone)

Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi covid-19 jenis baru tentu saja tracing atau melacak kontak dekat pasien. Tapi, upaya ini menghadapi kendala yaitu bila terlalu banyak kasus terjadi di antara kontak dekat. Di sisi lain menguntungkan juga karena akan terlacak dua kasus sekaligus, baik itu covid-19 generasi pertama maupun jenis baru.

"Hal ini diartikan bahwa segera setelah orang pertama didiagnosis B-117 dalam suatu komunitas, pelacak kontak dekat harus membuat semua yang lain untuk memetakan rantai lengkap penularan strain baru menggunakan setiap sumber daya yang tersedia," kata penulis.

Baca juga: Kelompok Usia di Bawah 20 Tahun Paling Berisiko Kena Covid-19 Jenis Baru 

Pelacak juga dapat mengunjungi rumah kontak dekat untuk memberikan nasihat medis, mengambil sampel, pun menawarkan isolasi mandiri bila tidak ada gejala.

Langkah lain yang ditawarkan penulis untuk menghentikan persebaran covid-19 jenis baru adalah mengalihkan dosis vaksin covid-19 ke wilayah mana pun dengan kelompok kasus yang tinggi untuk kemudian dilakukan vaksinasi seluruh komunitas. Upaya ini perlu dilakukan karena semakin dini melakukan pemblokiran, maka semakin kecil kemungkinan virus berkembang biak.

"Ada baiknya melakukan pendekatan ini dengan cepat, memantau hasilnya, dan beradaptasi saat kami mempelajari seberapa baik kerjanya. Kami yakin ini mampu menghetikan penyebaran covid-19 jenis baru," terang penulis.

Lebih lanjutnya penulis menyatakan diperlukan dua langkah tambahan untuk memaksimalkan upaya tersebut. Dalam jangka pendek, diagnostik harus dikembangkan yang dapat mendeteksi varian SARS-CoV2 lainnya, seperti strain 501.V2 yang muncul di Afrika Selatan tetapi belum diketahui apakah sudah menyebar ke negara lain atau belum. Tapi, peneliti meyakini bahwa strain tersebut belum sebegitu menular dibandingkan strain B-117.

Lalu, mulai sekarang hingga selama beberapa tahun ke depan, setiap negara harus membangun sistem pemantauan genomik untuk mendeteksi perubahan evolusioner pada virus, bakteri, dan patogen lain yang memerlukan tindakan baru untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Baca juga: Ahli Epidemiologi Ungkap Gejala Covid-19 Jenis Baru, Apa Saja? 

"Pemantauan genom akan menjadi pilar utama dari proyek yang lebih besar untuk secara masif meningkatkan sistem informasi kesehatan yang gagal pada banyak tahap pandemi covid-19 saat ini," tegas penulis.

Terlepas dari itu semua, penulis menyampaikan bahwa secara biologis, covid-19 jenis baru memang SARS-CoV2 yang berevolusi. Secara epidemiologis, tampaknya musuh yang berbeda itu memang lebih tangguh, tapi pakar kesehatan siap melawannya.

Baca juga: Mampukah Vaksin Sinovac Mengatasi Covid-19 Jenis Baru? 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini