Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Satgas IDI: GeNose Tak Bisa Gantikan Tes Swab PCR

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 06 Februari 2021 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 06 620 2357711 satgas-idi-genose-tak-bisa-gantikan-tes-swab-pcr-jFm00poZXi.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PEMERINTAH sudah mulai menggunakan GeNose sebagai alternatif skrining Covid-19 di tempat umum. Sejauh ini, sudah empat stasiun kereta menyediakan layanan tes tersebut.

Bahkan, rencananya pemerintah akan meluaskan jangkauan penggunaan GeNose tersebut ke seluruh fasilitas kesehatan. Saran tersebut disampaikan Komisi IX saat rapat kerja dengan Kementerian Kesehatan.

"Komisi IX DPR RI mendesak Kemenkes mengakselerasi perluasan penggunaan GeNose C 19 dalam testing dan tracing Covid-19 dengan dukungan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN dan Universitas Gadjah Mada untuk peningkatan produksi massal," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh dalam laporan singkat yang diterima MNC Media.

Sementara itu, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menerangkan bahwa GeNose tak dapat menggantikan penegakan diagnosis swab PCR.

"Inovasi tak salah dilakukan. Tapi, untuk diterapkan masif, ya, harus lewat clinical trial dulu dan GeNose ini belum teruji keilmuannya. Jadi, tak bisa menggantikan PCR," kata Prof Zubairi Djoerban, belum lama ini.

Hal serupa juga diungkapkan Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, alat GeNose itu belum matang secara keilmuan, sehingga masih panjang rangkaian perjalanannya sampai bisa dipakai untuk masyarakat luas.

"Alat ini masih tahap uji klinis, belum final. Jadi, perjalanannya masih panjang. Artinya ada banyak hal yang harus di-review dalam pelaksanaan atau keputusan alat ini dipergunakan untuk masyarakat," terangnya.

Dicky pun menjelaskan bahwa sampai saat ini penegakan diagnosis Covid-19 paling akurat adalah PCR. Tes Rapid Antigen juga bisa. "Dua tes tersebut sudah disetujui juga oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi, menurut hemat saya, pemerintah lakuin saja tes yang sudah jelas basis ilmiahnya," tambah Dicky.

Dia pun menyinggung soal lokasi pengambilan sampel GeNose yang dinilai sangat rentan. "Jika dilihat dari beberapa foto yang tersebar di media, sampel GeNose diambil di ruangan terbuka. Ini sangat berbahaya," katanya.

Ia menjelaskan, saat pengambilan sampel dilakukan, orang mesti membuka masker di tempat terbuka dan jika dilihat, banyak orang lain yang ada di sekitarnya saat masker tak menutupi hidung dan mulut. Sedangkan, kita tahu bersama bahwa Covid-19 menyebar lewat udara.

"Covid-19 kan menyebar lewat udara, sedangkan sampel napas GeNose diambil di ruang terbuka banyak orang di sekitarnya, yang ada malah kemungkinan risiko terpapar Covid-19," terangnya.

Untuk itu, Dicky coba menyarankan agar pengambilan tes GeNose tidak dilakukan di tempat terbuka seperti yang banyak diperlihatkan. Namun, disediakan ruangan khusus.

"Jika berkaca pada apa yang dilakukan di Eropa, mereka yang menggunakan tes napas sebagai skrining Covid-19 membangun ruangan lab kecil khusus dengan tekanan negatif, sehingga udara tidak ke mana-mana. Nah, tempat seperti itu saya rasa lebih aman dan steril," ujarnya.

Perlu diperhatikan juga jika memang tetap di ruangan terbuka, bagaimana memastikan disinfeksi ruangan sebelum dan sesudah pengambilan sampel dilakukan. Kemudian, bagaimana menjamin cup yang ada di ujung kantung pengambilan sampel itu steril dari patogen berbahaya yang mungkin saja menempel di sana.

"Hal-hal semacam itu yang belum bisa dipastikan. Karena itu, saya pribadi belum merekomendasikan GeNose dipakai untuk masyarakat umum. Lagipula, alat tersebut masih dalam perjalanan uji klinis, belum sampai final. Dan alat itu sejatinya bukan diperuntukan untuk populasi umum," tambah Dicky.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini