Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Penggali Kubur Jenazah Covid-19, Kerja Pagi Pulang Larut Malam

Hambali, Jurnalis · Senin 21 September 2020 17:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 21 620 2281374 cerita-penggali-kubur-jenazah-covid-19-kerja-pagi-pulang-larut-malam-8Gy1QOYKGQ.jpg Para penggali kubur di TPU Jombang, Ciputat, Tangsel. Foto: Hambali

TANGERANG SELATAN - TPU Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel) adalah lokasi pemakaman umum yang sekaligus juga disiapkan bagi jenazah pasien Covid-19. Di sana terdapat 10 pekerja penggali makam yang saban hari bergantian menggali lubang.

Seluruh penggali makam itu bekerja dibagi menjadi 2 tim. Sejak pagi hari mereka harus siaga di lokasi dan baru bisa pulang ke rumah menjelang larut malam. Bahkan pada situasi tertentu, pernah pula sampai dinihari masih harus bekerja.

Salah satu penggali makam, Aldi (20) menuturkan setiap hari masing-masing tim harus menyiapkan sekira 2 sampai 3 lubang kubur. Dengan kata lain, tiap hari totalnya telah disiapkan 5 sampai 6 lubang kubur bagi pasien Covid-19 yang meninggal.

"Tiap tim harus buat persiapan gali 2 atau 3 lubang untuk pasien Covid. Jadi buat jaga-jaga aja kalau ada peningkatan," katanya kepada Okezone di sela-sela istirahat menggali makam, Senin (21/9/2020).

Fisik Aldi sendiri memang terlihat masih gagah setara dengan usianya yang masih terbilang remaja. Sudah 3 tahun ini dia memilih bertahan bekerja sebagai tenaga lepas di TPU Jombang, Tangerang.

Tak ada gaji tetap, tak ada tunjangan yang diterimanya. Aldi dan rekan sesama penggali hanya diupah Rp1 juta dibagi 1 tim untuk setiap lubang kubur.

"Satu lubang upahnya Rp1 juta, nanti uangnya dibagi 5 orang. Lumayan sih, cukup buat sehari-hari. Cuma capeknya benar-benar terasa. Apalagi kalau hujan, itu galinya jadi berat banget," ungkapnya.

Baca Juga: 45 Jenazah Dimakamkan dalam Sehari, Gubernur Anies Tinjau TPU Pondok Ranggon

Dia mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir terdapat lonjakan jenazah pasien Covid-19 yang dikuburkan. Jika hari biasa hanya 2 jenazah, namun kini jumlah itu bertambah menjadi 4 hingga 5 jenazah.

Kata Aldi, upah yang diterima pasti otomatis bertambah namun rasa lelahnya kadang belum tentu hilang dalam sehari.

"Semingguan ini memang jumlahnya nambah, kan kalau biasanya paling 2 jenazah. Tapi sekarang-sekarang ini sudah 5 jenazah yang dikirim ke sini. Upahnya nambah, cuman kan kita pegalnya nggak hilang-hilang," sambungnya.

Dilanjutkannya, terdapat banyak perbedaan prosedur saat dia dan teman-temannya menguburkan jenazah pasien Covid-19. Paling berat adalah wajib memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Setelah mengubur, APD pun dilepas lalu dibakar. Kemudian tubuh mereka disemprot disinfektan satu-persatu.

"Pakai baju APD (Hazmat) itu kan panas ya, pakai masker, sarung tangan juga. Bisa kebayang dah gimana pengapnya kalau panas-panas pakai baju itu, sambil gali lubang juga. Abis itu disemprot disinfektan," terangnya.

Baca Juga: Sebanyak 180.797 Orang di Indonesia Berhasil Sembuh dari Covid-19

Bagi Aldi, tetap melakoni pekerjaan menggali makam adalah pilihan tepat saat ini, lantaran mencari kerja di luaran sana jauh lebih sulit akibat pengaruh pandemi. Kedua orangtua dan istrinya tak pernah melarang, mereka hanya mewanti-wanti agar Aldi selalu berhati-hati.

Kalau melarang sih enggak, tapi minta saya hati-hsti aja di lapangan," ucapnya.

Sementara itu Ketua TPU Jombang Tabroni menjelaskan bahwa total saat ini sudah ada sekira 214-an jenazah pasien Covid-19 yang dimakamkan di sana. Jika dilihat dari luas areanya, TPU Jombang masih sanggup menampung jenazah dalam jumlah besar.

"Kan luasnya ini tadinya sekira 3,6 hektare, tapi karena ada perluasan jalan tol, terpotong jadi sisanya 2,2 hektare. Kalau lahan untuk pasien Covid-19 disediakan area seluas sekira 1.000 meter, tapi nambah-nambah terus sekarang, pasien yang meninggal bertambah terus," katanya terpisah.

Masih kata Tabroni, jika dilihat dari penghasilan maka sebenarnya para penggali ini sangat berharap diberi perhatian lebih, misalnya honor bulanan. Namun karena sebagai pekerja teknis tanpa ikatan, maka mereka hanya menunggu kebijaksanaan atasan.

"Kalau kita sih kepengennya terjadi peningkatan kesejahteraan mereka. Cuma hal itu kan tergantung atasan (Dinas Permukiman," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini