Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

132 Dokter Gugur karena Covid-19 sejak Maret 2020

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 13:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 620 2290962 132-dokter-gugur-karena-covid-19-sejak-maret-2020-txJC7amu5q.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Covid-19 terus menelan korban jiwa, tidak hanya dari kalangan masyarakat, tetapi juga dokter. Sejak maret kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Jokowi, sudah ratusan dokter di Indonesia gugur dalam upaya penanganan Covid-19 hingga Oktober 2020.

Menurut laporan Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatakan Dokter Indonesia (PB IDI), sudah sebanyak 132 dokter meninggal dunia akibat Covid-19 hingga Jumat, 9 Oktober 2020. Secara spesifik, di minggu pertama Oktober, 5 dokter meninggal akibat Covid-19.

Dijelaskan juga dalam laporan tersebut, para dokter yang wafat itu terdiri dari 68 dokter umum (4 guru besar), dan 62 dokter spesialis (5 guru besar), serta 2 residen.

"Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI Wilayah (provinsi) dan 61 IDI Cabang (Kota atau Kabupaten), dengan jumlah dokter meninggal akibat Covid-19 paling banyak ada di Jawa Timur yaitu 31 dokter yang meninggal," tulis laporan yang diterima Okezone, Jumat (9/10/2020).

Dokter

Berikut ini data lengkapnya; Jawa Timur (31 dokter), Sumatra Utara (22 dokter), DKI Jakarta (19 dokter), Jawa Barat (11 dokter), Jawa Tengah (9 dokter), Sulawesi Selatan (6 dokter), Bali (5 dokter), Sumatra Selatan (4 dokter), Kalimantan Selatan (4 dokter), DI Aceh (4 dokter), Kalimantan Timur (3 dokter), Riau (4 dokter), Kepulauan Riau (2 dokter), DI Yogyakarta (2 dokter), Nusa Tenggara Barat (2 dokter), Sulawesi Utara (2 dokter), Banten (1 dokter), dan Papua Barat (1 dokter).

Baca Juga : IDI: Klaster Demo Akan Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Hal ini bisa terjadi dikarenakan lonjakan pasien Covid-19 terutama Orang Tanpa Gejala (OTG) terutama yang mengabaikan perilaku protokol kesehatan di berbagai daerah yang meningkat. Bahkan, klaster-klaster baru penularan Covid terus bermunculan dalam beberapa minggu terakhir, karena sejumlah wilayah di Indonesia mulai melepas PSBB dan membuka wilayahnya kembali untuk pendatang yang berarti lebih banyak orang yang menjalani aktivitas di luar rumah.

"Salah satunya adalah peristiwa demonstrasi yang terjadi beberapa hari belakangan ini,- yang merupakan salah satu penularan yang potensial," tulis laporan PB IDI tersebut.

Abai protokol kesehatan

Sebelumnya, Wakil Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Ari Kusuma merasa prihatin karena masih banyak masyarakat yang abai akan protokol kesehatan.

"Kita tahu angka kematian yang cepat ini membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya abai dengan protokol kesehatan, namun juga tidak peduli terhadap keselamatan tenaga kesehatan," ujar Ari dalam keterangan video, Minggu (4/10/2020).

Tingginya angka kematian dokter, kata Ari, merupakan kerugian yang amat besar bagi Indonesia. Pasalnya, sebelum pandemi pun, jumlah dokter Indonesia salah satu yang terkecil di dunia.

"Kehilangan tenaga kesehatan merupakan kehilangan yang besar bagi suatu bangsa, terutama dalam mempertahankan dan mengembangkan aspek kesehatan, Sebelum pandemi Covid-19 ini sudah merupakan salah satu yang terendah di dunia. Jumlah satu dokter (di Indonesia) diestimasi melayani 3.000 masyarakat," tuturnya.

New Normal

Jika pemahaman akan protokol kesehatan belum juga dipahami dengan baik, maka layanan kesehatan akan terganggu. Dia pun meminta masyarakat tidak menganggap remeh pandemi Covid-19. Semakin masyarakat abai terhadap protokol kesehatan, maka Indonesia akan sulit melewati masa pandemi.

"Banyaknya korban dari pihak tenaga kesehatan saat ini, maka ke depannya layanan kesehatan baik Covid-19 maupun non-Covid-19 jelas akan terganggu karena kurangnya tenaga medis,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini