Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cuaca Dingin Pengaruhi Jumlah Kasus Positif Covid-19?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 10 Oktober 2020 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 10 620 2291543 cuaca-dingin-pengaruhi-jumlah-kasus-positif-covid-19-NriLiQKonq.jpg (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

MEMASUKI pergantian cuaca dari musim kemarau menuju musim penghujan, kuman penyakit banyak mengintai kesehatan manusia, terlebih selama pandemi Covid-19. Meski belum ada penelitian lebih lanjut, namun cuaca harian sering dikaitkan dengan jumlah kasus positif Covid-19.

Berkaca pada kasus yang terjadi di Hong Kong, kasus baru 18 kali lebih tinggi pada suhu yang lebih rendah di bawah 24,6 derajat celcius daripada suhu yang lebih tinggi. Tinjauan baru-baru ini tentang infeksi saluran pernapasan musiman menggambarkan bagaimana cuaca musim dingin dan kering membuat manusia lebih rentan terhadap virus secara umum.

Dalam kondisi ini, selaput lendir di hidung manusia akan mengering, yang dapat merusak fungsi silia, bulu-bulu halus yang melapisi saluran hidung. Artinya silia mungkin gagal membersihkan virus dari hidung. Tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa kelembaban relatif antara 40-60 persen mungkin ideal untuk kesehatan pernapasan.

Melansir dari Medical News Today, Sabtu (10/10/2020), saat udara dingin dan kering bertemu udara hangat dari dalam ruangan, kelembapan udara di dalam akan berkurang hingga 20 persen. Selama musim dingin, tingkat kelembapan dalam ruangan adalah 10–40 persen dibandingkan dengan 40–60 persen pada musim gugur dan musim semi.

 Memasuki pergantian cuaca dari musim kemarau menuju musim penghujan, kuman penyakit banyak mengintai kesehatan manusia.

Baca juga: Khasiat Anggur Hitam, Cegah Kanker hingga Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Kelembapan yang lebih rendah membantu penyebaran virus secara aerosol dan membuat virus lebih stabil berada di udara. Studi laboratorium dan observasi kasus pasien Covid-19 menunjukkan dampak kelembaban pada virus SARS-CoV-2. Aerosol SARS-CoV-2 yang dihasilkan laboratorium stabil pada kelembaban relatif 53 persen pada suhu kamar, 23 derajat celcius.

Virus tidak banyak berkurang bahkan setelah 16 jam dan lebih kuat daripada MERS dan SARS-CoV. Hasil ini membantu menjelaskan tingkat infektivitas udara yang lebih tinggi. Studi laboratorium tidak serta merta memprediksi bagaimana virus akan berperilaku di dunia nyata.

Penelitian di 17 kota di China dengan lebih dari 50 kasus Covid-19 menemukan hubungan antara peningkatan kelembapan dan penurunan kasus Covid-19. Tim mengukur kelembapan sebagai kelembapan absolut, atau jumlah total air di udara.

Para ahli melaporkan hubungan serupa antara jumlah kasus dan kelembaban di Australia, Spanyol, dan di Timur Tengah. Cara suhu dan kelembaban berinteraksi memberikan pola cuaca yang berbeda, yang ditentukan oleh garis lintang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini