Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peneliti Ungkap Berapa Lama Virus Corona Bertahan di Kulit Manusia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 13 Oktober 2020 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 13 620 2292834 peneliti-ungkap-berapa-lama-virus-corona-bertahan-di-kulit-manusia-CPS5ghBtSa.jpg (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

Pandemi virus corona mengharuskan setiap orang untuk rajin mencuci tangan, menggunakan masker serta menjaga protokol kesehatan. Dengan memperhatikan kebersihan, maka diharapkan seseorang akan terhindar dari Covid-19.

Berdasarkan penelitian, virus corona bisa bertahan di kulit manusia hingga 9 jam. Penelitian tersebut dilakukan oleh peneliti asal Jepang.

Peneliti mempelajari kemungkinan virus SARS-CoV2 bertahan hidup pada kulit manusia. Studi dengan judul 'Survival of SARS-CoV-2 and Influenza virus on the human skin: Importance of hand hygiene in Covid-19' itu diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya para peneliti dari Kyoto Prefectural University of Medicine di Jepang untuk mempelajari stabilitas SARS-CoV-2 pada kulit manusia.

Keluarnya penelitian ini pun membenarkan pentingnya mencuci tangan dengan benar. Selain itu, saran agar tidak memegang mulut, hidung, dan telinga dengan tangan kotor pun memberi dampak yang baik untuk upaya pencegahan terpapar Covid-19.

"Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu cara terbaik mencegah penularan virus adalah dengan mencuci tangan berulang kali dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik dan membersihkan tangan dengan pembersih berbasis alkohol setidaknya 70 persen," tulis laporan tersebut, dikutip dari News Medical.

 Pandemi virus corona mengharuskan setiap orang untuk rajin mencuci tangan, menggunakan masker serta menjaga protokol kesehatan.

Baca juga: Peneliti Indonesia Temukan Solusi Hentikan Wabah DBD

Peneliti menggunakan kulit yang didapatkan dari sampel otopsi forensik kulit manusia sebagai medium penelitian. Ini dilakukan karena bagi peneliti sangat tidak etis dan berbahaya ketika percobaan ini dilakukan ke tangan manusia hidup.

"Jadi tim mengumpulkan sampel otopsi forensik kulit manusia yang diperoleh dari Departemen Kedokteran Forensik, Universitas Kedokteran Prefektur Kyoto," tulis laporan.

Para peneliti melanjutkan, kulit manusia yang sudah meninggal, terutama epidermisnya, mengalami kerusakan perlahan setelah kematian dibandingkan organ lain dan ini dapat digunakan untuk pencangkokan bahkan 24 jam setelah kematian.

Sampel diambil dari kulit perut orang yang meninggal berusia antara 20 hingga 70 tahun. Durasi post mortem dalam waktu 24 jam dan sampel kulit ini dipotong menjadi persegi panjang yang ukurannya sekitar 4x8 cm persegi.

 Pandemi virus corona mengharuskan setiap orang untuk rajin mencuci tangan, menggunakan masker serta menjaga protokol kesehatan.

Pada proses penelitiannya, para ilmuwan menyiapkan campuran SARS-CoV2 dan virus influenza A (IAV) dengan media kultur atau lendir pernapasan bagian atas. Campuran tersebut kemudian dioleskan ke permukaan kulit manusia.

Setelah itu, peneliti mendisinfeksi permukaan dengan etanol 80 persen dan memeriksa apakah virus bertahan atau tidak. Uji coba ini dilakukan tidak hanya di kulit manusia, tapi juga pada benda mati seperti permukaan baja tahan karat, permukaan kaca borosilikat, dan permukaan polistiren.

Tim pertama kali memvalidasi model eksperimental mereka menggunakan sampel IAV pada kulit. Peneliti pun menilai stabilitas SARS-CoV2 dan IAV yang dicampur dalam media kultur sel.

Diketahui bahwa virus SARS-CoV2 kira-kira 8 kali lipat dari waktu bertahan IAV pada permukaan uji. Namun, ketika diuji pada kulit manusia, virus tersebut dengan cepat dinonaktifkan dibandingkan dengan baja tahan karat, kaca borosilikat, dan permukaan polistiren.

Jadi, dapat dikatakan bahwa SARS-CoV2 lebih stabil pada permukaan kulit manusia dibandingkan dengan IAV. "Waktu rata-ratanya itu 9,04 jam dibandingkan dengan SARS-CoV2 dan IAV yaitu 1,82 jam. Lalu, waktu paruh virusnya masing-masing adalah 3,53 jam dan 0,80 untuk SARS-CoV dan IAV," tulis hasil laporan itu.

Kesimpulannya ialah studi ini menunjukkan bahwa SARS-CoV2 dapat bertahan hidup di kulit manusia hingga 9 jam, sehingga terdapat risiko penularan melalui kontak langsung. Setelah itu, daya tahan virus SARS-CoV2 di kulit jauh lebih lama dibandingkan virus flu, sehingga penyebarannya menjadi masalah kesehatan yang lebih signifikan.

"Kebersihan tangan yang benar penting untuk mencegah penyebaran infeksi SARS-CoV2. Hanya perlu 15 detik untuk pengobatan etanol 80 persen untuk membunuh salah satu virus pada kulit manusia," tulis peneliti di akhir laporannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini