Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bicara Covid-19, Ma'ruf Amin Paparkan Kisah Umar Bin Khattab

Fahreza Rizky, Jurnalis · Jum'at 16 Oktober 2020 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 16 620 2294855 bicara-covid-19-ma-ruf-amin-paparkan-kisah-umar-bin-khattab-ZQVc5n81wt.jpg Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Foto: Okezone

JAKARTA - Indonesia dan 215 negara lainnya sedang dilanda pandemi Covid-19. Selain mengancam kesehatan, wabah ini juga berdampak sistematis kepada ekonomi. Fenomena ini rupanya bukanlah hal baru sebab, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal tersebut pernah terjadi.

Demikian dikatakan Wakil Presiden RI yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif, KH Ma'ruf Amin saat berbincang dengan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro secara virtual.

"Pandemi ini memang sudah sejak zaman Nabi sendiri ada ya. Malah ada hadist yang dikeluarkan oleh Rasulullah itu yang artinya, jika kamu mendengar ada suatu wabah di suatu tempat, kamu jangan masuk ke dalam tempat itu. Kalau mereka yang berada di tempat di mana terjadi pandemi, jangan keluar. Supaya tidak terjadi penularan," papar Ma'ruf.

Ma'ruf mengisahkan khalifah Umar bin Khattab ketika akan masuk ke Kota Syam. Namun di tengah jalan di dekat pintu masuk kota itu, ia berhenti karena diberikan informasi bahwa di permukiman penduduk sedang terjadi wabah.

"Oleh karena itu di situ terjadilah diskusi yang panjang. Ada yang menghendaki balik lagi, ada yang menghendaki terus saja masuk rombongannya itu. Tapi Sayyidina Umar karena ada hadist, tahu ada hadist tadi, larangannya tadi, memilih pulang," ungkapnya.

Sementara itu, kata Ma'ruf, dalam kitab Badzlu al Maun Fi Fadhli al Thaun yang ditulis oleh ulama terkemuka Ibnu Hajar al Asqalani disebutkan bahwa cara mencegah wabah ialah dengan melakukan isolasi dan mencuci tangan.

"Di sana ketika terjadi wabah itu, pentingnya adalah mencuci tangan, juga menjaga jarak, juga isolasi. Jadi sebenarnya sudah sejak zaman dulu pola itu sudah ada," jelas Ma'ruf.

Baca Juga: Satgas Covid-19: Kesadaran Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan Masih Rendah 

Ma'ruf mengamini bahwa memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan di era corona seperti ini merupakan bagian dari ibadah. Pasalnya, dalam Maqashid al-Syariah disebutkan tujuan syariat Islam salah satunya adalah menjaga jiwa.

"Di dalam salah satu tujuan dari pada disyariatkannya ajaran Islam, istilahnya disebut Maqashid al-Syariah, itu ada lima hal, menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga keturunan, kemudian menjaga akal. Dari lima ini, di dalam kondisi normal, menjaga agama nomor satu, nomor dua baru menjaga menjaga jiwa, hifdzun nafs, yakni keselamatan jiwa itu nomor dua," tuturnya.

"Tapi dalam keadaan yang tidak normal, seperti masalah pandemi itu. Menjaga keselamatan jiwa, menurut syariat nomor satu. Karena apa, karena menjaga jiwa itu tidak ada alternatifnya. Ngga bisa diganti dengan yang lain. Maka dia harus diutamakan. Kalau dalam agama, mengerjakan sholat, dan lain-lain itu ada kemudahan-kemudahan. Oleh karena itu menjaga itu sesuatu perbuatan yang ibadah," pungkasnya.

Baca Juga: Jakarta Kembali Juara Kasus Harian Covid-19

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini