Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lawan Diskriminasi, Kampanye Positif Sawit Indonesia Digencarkan

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 09 Desember 2020 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 09 620 2324583 lawan-diskriminasi-kampanye-positif-sawit-indonesia-digencarkan-KzTziSBZWi.jpg Isu Negatif terhadap Kelapa Sawit Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Sawit Indonesia menjadi komoditas yang sangat strategis bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia.

Peran besar sawit Indonesia selama ini pun sering mendapatkan kampanye negatif di luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah terus berkampanye positif mengenai sawit.

Wamendag jerry Sambuaga mengatakan, sawit merupakan sektor padat karya (labor intensive) sehingga membantu menciptakan banyak lapangan kerja. Saat ini, industri sawit menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 5,3 juta orang atau sejumlah 21,2 juta anggota keluarga yang hidup dari Sawit.

Baca Juga: Sawit Indonesia Didiskriminasi, Persaingan Dagang Komoditas di Dunia

“Informasi mengenai sawit tidak berimbang, lebih banyak dibentuk oleh kampanye negatif. Ada beberapa hal yang tidak pas atau tidak mencerminkan realita dan peluang besar sawit itu sendiri. Karena itu, kami bertekad untuk terus lanjutkan kampanye positif agar informasi mengenai sawit lebih berimbang dan sawit tetap berperan sebagai industri strategis Indonesia,” katanya, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (36/11/2020).

Tak hanya lapangan kerja, dalam perspektif perdagangan luar negeri, sawit memberikan kontribusi signifikan bagi ekspor Indonesia.

Baca Juga: Ini Bukti Kelapa Sawit Topang Perekonomian Indonesia

Pada tahun 2019, ekspor Kelapa Sawit, Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya (USD 21,79 miliar) menyumbang sebesar 12,1% terhadap total ekspor non-migas atau sebesar 11,2% terhadap total ekspor Indonesia. Tahun ini, kontribusi sawit meningkat.

Sepanjang periode bulan Januari–September 2020, ekspor Kelapa Sawit, CPO dan turunannya mencapai USD14,05 miliar atau ber kontribusi terhadap ekspor non migas sebesar 12,63%.

Hanya saja, lanjut jerry, isu sentral yang sering dialamatkan ke industri sawit adalah isu lingkungan. Faktanya, sawit adalah industri minyak nabati yang paling efisien dibandingkan minyak nabati yang lain.

Sebagai perbandingan, dalam penggunaan lahan, satu hektar sawit sama dengan 5-6 hektar bunga matahari yang saat dimanfaatkan sebagai minyak nabati di Eropa. Selain itu, Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menjaga hutannya.

Banyak negara Eropa yang saat ini tinggal mempunyai tutupan hutan sebesar 11%, sementara Indonesia jauh lebih besar dari itu. Menurut Jerry, komitmen lingkungan Indonesia juga terus diperbaharui dalam industri sawit. Indonesia punya standarisasi ISPO dan RSPO. Indonesia juga terus memenuhi standarisasi lingkungan di negara-negara tujuan.

“Fakta-fakta itu harus diinformasikan secara baik ke publik sehingga perspektif publik menjadi makin positif. Dan itu harus dilakukan secara massif ke berbagai segmen, baik pembuat kebijakan, kelompok pejuang lingkungan dan dunia pendidikan,” tambah Jerry.

Dampak lingkungan kelapa sawit juga ada dalam peluang pengembangan energy hijau. Saat ini Indonesia tengah menjalankan program penggunaan biodiesel secara bertahap mulai dari B20, B30 hingga mencapai biodiesel secara keseluruhan. Dengan begitu diharapkan terjadi alih sumber energi secara massif dari energi tak terbarukan menjadi energi yang terbarukan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini