Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Positif Covid-19 Menurun, Jubir Pemerintah: Hasil Kerja Keras Masyarakat

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 22 September 2021 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 620 2474926 kasus-positif-covid-19-menurun-jubir-pemerintah-hasil-kerja-keras-masyarakat-SJ2j2uhmGP.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

INDONESIA sempat mengalami lonjakan kasus Covid-19, dengan jumlah pasien positif Covid-19 mencapai 50 ribu orang dalam sehari. Pemerintah pun bergerak cepat, mempersempit ruang gerak masyarakat serta mengadakan tracing untuk meminimalisir persebaran Covid-19.

Indonesia pun berhasil menurunkan jumlah pasien positif Covid-19 hingga 58 persen dalam dua minggu. Hasilnya, kasus positif harian pun hanya berkisar 1.000 kasus dengan kasus aktif hanya 1 persen. Lalu faktor apa yang menjadi penyumbang terbesar, turunnya angka kasus positif Covid19 sejak awal September 2021?

Prof. Wiku selaku Koordinator Pakar dan Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menyebutkan, meski instrumen pengendalian jumlahnya banyak dan harus dilakukan bersamaan. Tapi kontributor terbesar, adalah kerja keras semua masyarakat, baik itu menyangkut protokol kesehatan 5M, 3T, dan vaksinasi.

“Pandemi Covid-19 adalah hal yangb kompleks, sehingga intervensi pengendalian tidak bisa dilakukan tunggal bahkan harus dilakukan bersamaan. Penurunan kasus yang konsisten, semenjak terjadi puncak kasus 15 Juli adalah hasil kerja keras elemen masyarakat,” ucap Prof Wiku di akun chanel Youtube Sekretariat Presiden.

Ke depannya, dalam mempertahankan tren baik ini, pemerintah akan terus fokus berkonsentrasi pada 3T (testing, tracing, treatment) dan vaksinasi dari hulu ke hilir.

“Seperti yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo, ke depannya kita harus memprioritaskan 3T, protokol kesehatan 3M, vaksinasi di hulu penularan dan memfokuskan perawatan pasien positif di hilir. Agar dapat menekan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan,” jelas dia.

Tapi, perlu dipahami bahwa lonjakan kasus yang terjadi di Indonesia pada Juli lalu tidak disebabkan oleh kenaikan kasus dunia global atau datang dari negara-negara lain, melainkan dari Indonesia sendiri. Wiku mengatakan, faktor internal yakni perilaku masyarakat Indonesia sendiri lah yang menjadi penyebab terbesar terjadinya lonjakan kasus.

“Meningkatkatnya mobilitas dan aktivitas sosial masyarakat yang terjadi bersamaan, dengan periode mudik Idul Fitri dan sikap abai terhadap protokol kesehatan. Mobilitas penduduk dan aktivitas masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan menjadi penyumbang tersebsar terjadinya lonjakan kasus, apa pun mutasi virus yang ada,” tegasnya.

Belajar dari hantaman gelombang pertama dan gelombang kedua, Prof Wiku mengingatkan potensi hantaman gelombang ketiga yang bisa saja terjadi.

“Pada pola second wave, ada jeda tiga bulan perlu kita antisipasi. Mengingat tiga bulan ke depan kita akan memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022, yang artinya potensi kenaikan kasus semakin meningkat,” tutup Prof Wiku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini