Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Bos Garuda: Bagaimana Kita Bisa Bertahan?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 09 Juli 2020 10:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 620 2243543 curhat-bos-garuda-bagaimana-kita-bisa-bertahan-S6gsdYor4g.jpg Garuda Indonesia (Okezone)

JAKARTA - Pandemi virus Corona membuat maskapai penerbangan di seluruh dunia mati-matian untuk bisa survive. Tak terkecuali pada maskapai penerbangan nasional seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, saat ini maskapai penerbangan terus memutar otak untuk bisa bertahan dari pandemi virus corona. Karena dunia penerbangan sendiri diprediksi baru bisa pulih pada 2022 mendatang.

 Baca juga: PSBB Transisi Diperpanjang sampai 14 Juli, Ini Fakta Aturan Ganjil Genap Pasar Dihapus

"Dan yang menjadi persoalan adalah bagaiamana kita bisa bertahan menghadapi pandemi ini. Sampai situasi bisa baik kembali seperti sebelum 2019. Yaitu diprediksi paling cepat recovery-nya akhir 2022. Jadi kembali bisa seperti sebelum tahun 2019," ujarnya dalam diskusi virtual, Rabu (8/7/2020) malam.

Menurut Irfan, mayoritas analis memprediksi industri penerbangan akan mulai 2023 mendatang. Hal ini tentunya menjadi tantangan yang sangat berat bagi maskapai penerbangan termasuk Garuda Indonesia.

"Walaupun mayoritas daripada analis mengatakan possibility-nya itu malah di 2023," ucapnya.

 Baca juga: Protokol Kesehatan Perjalanan Dalam Negeri di Bandara dan Pelabuhan, Cek di Sini

Oleh karena itu lanjut Irfan, pihaknya harus melakukan inovasi untuk mengatasi hal ini. Sebab jika menunggu hingga 2023 mendatang, maskapai berlambang burung Garuda ini tidak akan kuat lagi untuk menjalankan bisnisnya.

Apalagi perseroan juga harus tetap membayar biaya leasing pesawatnya hingga gaji pegawainya. Padahal, pesawat tersebut Hanya di parkir saja di bandara.

"Persoalan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup sampai waktu itu karena alat produksi, seperti yang juga diketahui bapak-ibu, majority alat produksi kita adalah pesawat. Sekarang pesawat kita itu sebagian besar leasing, dan kalau pun tidak terbang leasing-nya harus tetap dibayar. Sehingga itu kita punya bottom line, kita punya casflow dan sebagainya," jelasnya.

Prediksi dirinya berbeda dengan mayoritas analis tersebut. Hal ini dikarenakan kemampuan akan Garuda Indonesia.

 Baca juga: Mendag Sebut Mal Ditutup Dua Bulan Bisa Kehilangan Rp13 Triliun

Pihaknya tidak akan mampu jika harus menunggu pada 2023 mendatang. Oleh karena itu, pihaknya dituntut untuk bisa cepat beradaptasi dan recovery agar bisnisnya bisa tetap berjalan.

"Kalau kami sederhana. Kita bisa tahan enggak sampai situ (2023). Jawaban kita enggak bisa. Jadi kita perlu cepat untuk recovery," ujarnya.

Irfan juga berharap agar kasus virus Corona di tanah air agar cepat turun. Sehingga, situasinya sudah kembali normal, bahkan dirinya sangat berharap jika akhir tahun nanti situasinya sudah mulai kondusif.

"Kalau kita menunggu liburan masyarakat akhir tahun ini. Kalau akhir tahun ini 30-40% (masyarakat yang berlibur dan belum reda) is very disaster," kata Irfan.

Irfan juga mengaku telah membuat rencana-rencana aksi yang akan dilakukan maskapai jika tahun depan kapasitas penumpangnya hanya terisi 50%. Rencana ini diharapkan bisa membuat keuangan Garuda kembali moncer sehingga dana talangan Rp8,5 triliun yang digelontorkan pemerintah tidak sia-sia.

"Rp8,5 triliun enggak ada nilainya. Oleh sebab itu kami ingin mendengar feedback dari msyarakat," kata Irfan.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini