Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisakah Vaksin Covid-19 Cegah Pasien Terkena Long Covid?

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 04 Maret 2022 01:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 04 620 2555992 bisakah-vaksin-covid-19-cegah-pasien-terkena-long-covid-FY2UK5CgbP.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

PEMERINTAH memang terus mendorong pemberian vaksin booster Covid-19 bagi masyarakat. Memang, vaksin booster tidak bisa mencegah seseorang terpapar Covid-19.

Meski demikian, vaksin Covid-19 terbukti bisa mengurangi tingkat keparahan, risiko rawat inap dan bahkan risiko fatal seperti kematian akibat infeksi Covid-19. Termasuk yang disebabkan oleh varian Omicron yang saat ini mendominasi 90 persen kasus positif secara global.

Tapi, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah vaksin ini juga bisa bekerja untuk mencegah Long Covid yang dialami oleh para penyintas alias orang yang sudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19?

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menyebutkan, jika dilihat dari penelitian hasil awalnya memang memperlihatkan vaksin Covid-19 ini bisa mencegah terjadinya Long Covid atau Post Covid Syndrome.

“Penelitian memberi bukti awal bahwa vaksin dapat mencegah Long Covid atau setidaknya mengurangi tingkat keparahan,” jelas Prof. Zubairi, melalui akun Twitternya.

Memang, para penyintas Covid-19 mengalami dampak panjang dari penyakit yang diakibatkan oleh virus Corona. Bahkan, dari data yang disampaikan dokter spesialis paru, hampir 30 persen penyintas di Indonesia mengalami gejala Long Covid-19.

Dia melanjutkan, meski studi awal menunjukkan vaksin Covid-19 juga bekerja dengan baik untuk mencegah Long Covid atau paling tidak mengurangi level kesakitan. Tetap masih dibutuhkan data dan bukti ilmiah yang lebih banyak. “Butuh penelitian lebih banyak lagi,” imbuh Prof. Zubairi

Sebelumnya, Prof. Zubairi juga menuturkan mengapa gejala Long Covid yang dialami para penyintas bisa bertahan lebih dari satu bulan. Menurutnya, hal tersebut terjadi bukan dari cara kerja virusnya secara langsung.

“Ternyata penyebab keluhan-keluhan itu bukan virusnya langsung, ada beberapa teori, misalnya timbul reaksi autoimun. Virus ini memacu kekebalan tubuh untuk salah bekerja. Teori lain, SARS-CoV-2 mengaktivasi virus lain," kata dia.

"Seperti Epstein–Barr (EBV), aktivasi EBV ini menyebabkan gejala-gejala pada penyintas dan mungkin sekali SARS-CoV-2 juga membuat reaksi inflamasi yang kemudian berlanjut,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini