Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masker Scuba Dilarang, Cuma Nyaman tapi Tak Mampu Halau Corona

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 28 September 2020 13:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 620 2284848 masker-scuba-dilarang-cuma-nyaman-tapi-tak-mampu-halau-corona-eeegZI01fD.jpg Masker scuba dilarang karena terlalu tipis (Foto : Okezone/Putra RA)

Belum laman ini pemerintah melarang masyarakat Indonesia untuk menggunakan jenis masker scuba saat beraktivitas di luar rumah. Jenis masker ini dinilai tidak memiliki efektivitas yang sangat rendah dalam menangkal debu, virus dan bakteri yang bisa mempermudah penularan virus corona Covid-19.

Larangan penggunaan masker scuba pun dilarang saat menggunakan kendaraan umum seperti Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Melalui laman Instagram resmi Commuter line @commuterline, mereka menjelaskan mengenai tingkat efektivitas beberapa masker dalam menahan debu, virus dan bakteri.

Masker N95 memiliki tingkat, efektivitas yang paling besar yakni sekira 95-100%, disusul dengan masker bedah dan masker FFP1 yang memiliki tingkat efektifitas 80-95%, masker tiga lapis memiliki efektivitas sebesar 50-70%, sementara masker scuba atau buff hanya memiliki efektivitas mulai dari 0-5% saja.

Masker

Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani menyebut masker jenis scuba dan buff kurang efektif dalam mencegah penularan Covid-19. Menurut dia, banyak warga yang menggunakan masker tipis yang terbuat dari kain tersebut lantaran nyaman saat digunakan.

"Makser scuba kurang efektif walaupun nyaman dipakai," kata Laura kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Hal tersebut juga didukung penjelasan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Ia ikut berpendapat terkait dengan larangan penggunaan masker scuba atau buff di KRL.

Prof Wiku

“Jadi, memakai masker ini adalah salah satu cara pencegahan penularan Covid-19. Kita sudah paham ini semua dengan baik. Dan semua masyarakat terutama yang ada di daerah publik, berinteraksi dengan orang lain, harus menggunakan masker,” katanya saat konferensi pers di Kantor Presiden, beberapa waktu lalu.

Baca Juga : 5 Langkah Penting untuk Cegah Penularan Klaster dalam Keluarga

Menurut Wiku, masker scuba atau buff adalah masker yang sangat tipis. Sehingga kemungkinan virus menembus masker tersebut lebih besar.

“Sedangkan masker scuba atau buff, ini adalah masker dengan satu lapis saja dan terlalu tipis. Sehingga kemungkinan untuk tembus, tidak bisa menyaring lebih besar. Maka disarankan menggunakan masker yang berkualitas untuk menjaga,” ujarnya.

Di sisi lain, Wiku juga menambahkan bahwa menggunakan masker scuba yang tidak mematuhi aturan standar dapat membuat fungsi masker tersebut menjadi hilang. Mengingat bahan yang digunakan untuk membuat masker scuba mudah melar.

“Selain itu, masker scuba sering mudah untuk ditarik ke bawah, ke dagu, sehingga fungsi masker jadi hilang. Maka dari itu, gunakan masker dengan cara yang tepat untuk melindungi dan menutup area batang hidung, hidung, sampai mulut dagu dan rapat di pipi,” tandasnya.

Masker yang direkomendasikan pemerintah

Selain persoalan masker scuba, Epidemiolog Laura Navika menilai pemerintah juga penting melakukan penelitian di dalam negeri. Tujuan mengetahui tipe masker yang efektif dan murah untuk menjadi rekomendasi kepada masyarakat.

"Ataupun bisa mengikuti data penelitian yang sudah dilakukan global. Yang penting juga memang masker kain menjadi sangat penting digunakan sebagai langkah pencegahan penularan," jelasnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun akhirnya mengeluarkan pedoman menentukan jenis masker apa yang direkomendasikan untuk masyarakat. Ini menjadi hal penting agar masyarakat benar-benar mendapatkan fungsi perlindungan dari masker yang dikenakan.

Achmad Yuri

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr Achmad Yurianto mengimbau masyarakat untuk memakai tiga jenis masker ini agar terhindar dari paparan virus corona saat berada di luar rumah. Ketiga jenis itu adalah masker N95, masker bedah, dan masker kain.

"Saya sering mengatakan masker itu ada tiga, pertama masker N95, ini memang sudah standar yang tinggi karena dipakai petugas kesehatan yang berhadapan langsung dengan virus di laboratorium. Kemudian, masker bedah yang biasa dipakai tenaga medis, dan ketiga masker kain," kata Yuri dalam keterangan resminya di laman Kemenkes.

Bicara soal masker kain, Yuri pun memberi penekanan bahwa masyarakat jangan asal pakai masker kain. Satu hal yang harus diperhatikan adalah melihat kain apa yang digunakan di masker tersebut. "Penggunaan masker kain itu setidaknya dua lapis," sambungnya.

Jadi, lapisan kain bagian dalam masker dapat menyerap cairan dari mulut. Yuri pun mengimbau agar masker kain dipakai hanya 3 jam, setelah itu ganti dengan yang bersih.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini