Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hati-Hati, Kaku Pada Leher Bisa Jadi Tanda Meningitis

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 29 Maret 2022 13:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 29 620 2569648 hati-hati-kaku-pada-leher-bisa-jadi-tanda-meningitis-pT7Qe29hBp.jpg Ilustrasi Sakit Leher. (Foto: Shutterstock)

INDONESIA memang saat ini tengah berjuang untuk mengatasi persebaran virus Covid-19. Memang, virus Covid-19 lebih mudah menular dibandingkan kuman lainnya, tapi bukan berarti kuman lain tidak berbahaya.

Kuman atau germpada sendiri adalah istilah umum untuk mendeskripsikan suatu organisme mikroskopis. Kuman bisa berupa virus, bakteri, jamur atau parasit dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit berbahaya, salah satunya adalah meningitis.

Meningitis disebut juga dengan radang selaput otak. Beberapa gejala umum dari meningitis adalah sakit kepala, demam, dan leher kaku (kaku kuduk). Penyakit ini paling sering disebabkan oleh infeksi virus, tapi bisa juga diakibatkan oleh infeksi bakteri, jamur atau parasit.

Virus, bakteri, jamur, atau parasit penyebab meningitis bisa masuk ke tubuh lewat kontak jarak dekat dengan pasien lain atau lingkungan yang tidak bersih. Ditambah dengan daya tahan tubuh yang lemah, semakin tinggi pula risiko penularan penyakit tersebut.

Virus dapat berpindah lewat batuk dan bersin, meski tidak berkontak. Sedangkan bakteri, ia hanya dapat berpindah apabila Anda sudah berkontak dekat dengan orang yang sakit terlebih dahulu. Makin cepat diobati, makin besar pula kesempatan Anda sembuh. Pengobatan yang diberikan dokter tentunya tergantung dari penyebabnya.

Nah, Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Vonny Ingkiriwang, Sp.A. menyebut kaku pada leher menjadi salah satu tanda khas kala seseorang termasuk pada anak mengalami meningitis.

Sakit leher

"Yang khas karena ini menyerang ke selaput otak, kita bisa lihat adanya kaku pada leher. Kalau kita menekukkan kepala sambil dia rebah, tidak bisa, karena terjadi kekakuan. Di sini kita bisa menduga anak sudah mengalami meningitis dan ini sangat berat," kata dia seperti dilansir dari Antara.

Gejala meningitis juga bisa terlihat dari sulitnya pasien melihat sinar dan merasa silau, terlihat seperti bingung karena infeksi di kepalanya menyebabkan sakit kepala berat dan terkena demam tinggi. "Untuk memastikannya biasanya kami melakukan pemeriksaan cairan sumsum tulang," tutur Vonny.

Meningitis merupakan peradangan pada cairan dan selaput (meninges) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang Anda, salah satu penyebabnya bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) yang juga bisa menyebabkan pneumonia bila menyerang paru.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan pulmonologi dr. Herikurniawan Sp.PD, KP, FINASIM mengatakan, bakteri Streptococcus pneumoniae normalnya berada di hidung dan tenggorokan. Tetapi saat dia keluar misalnya teraspirasi masuk ke dalam paru-paru maka menyebabkan terjadinya pneumonia.

"Kalau bakteri masuk ke darah mampir ke selaput otak menyebabkan meningitis. Kalau masuk ke telinga menyebakan infeksi pada telinga," kata dia yang yang berpraktik di RSCM-FKUI itu.

Dari sisi penularan, bakteri bisa ditularkan dari orang yang terinfeksi pada orang lain melalui droplet misalnya saat dia batuk dan bersin seperti Covid-19 dan TB paru.

"Makanya pentingnya orang dianjurkan pakai masker ketika sakit. Ketika dia berbicara atau batuk, kuman dapat tertampung di masker sehingga tidak menyebar di udara," ujar Herikurniawan.

Berbicara kelompok berisiko terinfeksi bakteri Streptococcus pneumoniae sebagai salah satu penyebab pneumonia, maka anak kurang dari usia 2 tahun termasuk salah satunya. Alasannya karena, antibodi yang didapatkan sejak seorang anak lahir dari ibu mereka, ditambah pemberian ASI pada usia mendekati 2 tahun umumnya sudah semakin habis.

Selain itu, ada juga pengaruh faktor lain yakni sistem kekebalan bayi masih belum matang sehingga bayi rentan terhadap penyakit infeksi akibat bakteri itu. Lansia dan orang dengan kondisi komorbid walaupun bukan usia lanjut seperti pasien HIV, tidak mempunyai limpa sehingga imun kurang baik, orang dengan gangguan gagal ginjal, gagal hati, pasien diabetes dan cuci darah juga berada dalam kelompok berisiko.

Imunisasi dikatakan dapat melindungi tubuh dari risiko terkena penyakit infeksi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin pneumokokus atau PCV untuk melindungi anak dari penyakit pneumokokus atau pneumonia.

Imunisasi PCV lengkap bisa diberikan pada bayi usia 2,4,6,12-15 bulan. Apabila terlambat dari jadwal, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan imunisasi PCV.

Pada usia dewasa, terdapat dua jenis vakin pneumokokus yakni PCV13 dan PPSV23. PCV13 diberikan pada usia di atas 50 tahun sementara PPSV23 untuk orang berusia lebih dari 60 tahun dengan masing-masing 1 dosis.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini