Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pejelasan Ilmiah Virus Corona Bukan Hasil Rekayasa Manusia

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Selasa 24 Maret 2020 17:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 24 620 2188388 pejelasan-ilmiah-virus-corona-bukan-hasil-rekayasa-manusia-87gyB0SQlW.jpg

Kemunculan virus Corona yang kini menjadi pandemi global masih menjadi misteri. Baik peneliti maupun ilmuwan belum menemukan secara pasti sumber virus muncul.

Alhasil timbul banyak dugaan atau teori konspirasi mengenai kemunculan virus corona. Seperti diketahui, Iran dan China sebagai negara yang termasuk paling terdampak, menuding Amerika Serikat menciptakan virus corona sebagai senjata biologis, tetapi benarkah?

Sebelum kamu mempercayainya, penelitian terbaru jurnal Nature Medicine yang menganalisis susunan genetik virus corona menyebutkan tidak ada bukti bahwa COVID-19 adalah buatan manusia atau direkayasa.

Ratusan warga Indonesia positif corona

(Baca Juga: Trump Salahkan China Atas Pandemi Covid-19)

Peneliti pun membandingkan dengan jenis virus corona lain yang dikenal, termasuk penyebab Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) 2003 dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) 2012.

Dilansir dari Thesun, salah satu peneliti Dr Kristian Andersen, seorang Profesor Imunologi dan Mikrobiologi di Scripps Research, mengatakan, dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus ini memperkuat uji penelitian. "Kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal melalui proses alami," terangnya.

Ilmuwan masih mencari vaksin corona

(Baca Juga: Komandan Garda Revolusi Iran Tuding Covid-19 Senjata Biologis Amerika Serikat)

Sebelumnya, sebuah Jurnal Ilmiah Nature yang diterbitkan 2017 tentang sekelompok ilmuan China membangun laboratorium tingkat keamanan hayati baru 4. Ahli biologi molekuler Richard Ebright dari Rutgers University, Piscataway, mengungkapkan, kekhawatiran akan penyakit infeksi yang tidak disengaja, berulang kali terjadi dengan pekerja laboratorium yang menangani SARS di Beijing.

(Baca Juga: China Klaim Militer AS Bawa Virus Korona ke Wuhan)

Pemahaman tentang virus corona

Ebright sendiri seorang ilmuan yang memiliki sejarah panjang mengibarkan bendera merah tentang studi dengan patogen berbahaya. Bahkan dirinya pada 2015 mengkritik percobaan modifikasi dibuat untuk virus mirip SARS, yang beredar di kelelawar China, agar bisa melihat apakah berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

(Baca Juga: 3 Teori Konspirasi di Balik Virus Corona)

Ebright mempertanyakan keakuratan perhitungan Bedford bahwa setidaknya ada 25 tahun jarak evolusi antara RaTG13 dan virus yang disimpan di lembaga virologi Wuhan, yang mulai meneror pada 2019 itu jenis nCoV. Dengan alasan bahwa tingkat mutasi mungkin berbeda, ketika dilewatkan melalui host yang berbeda sebelum manusia.

"Data Virus Corona 2019-nCoV adalah konsisten dengan masuk ke populasi manusia, baik sebagai kecelakaan alami atau kecelakaan laboratorium," tutur Ebright kepada ScienceInsider.

Bahkan Ebright menuding tim peneliti dari Institut Virologi Wuhan dan Aliansi EcoHealth telah menjebak kelelawar di gua-gua di seluruh China, seperti yang ada di Guangdong, untuk mengambil sampel virus corona.

"Kelompok ini selama 8 tahun telah menjebak kelelawar di gua-gua di sekitar China untuk mencicipi kotoran dan darah mereka dari virus. 10.000 kelelawar dan 2000 spesies lainnya," tambahnya.

Corona dituding berasal dari kelelawar

Ebright menambahkan, mereka telah menemukan sekira 500 virus corona baru, 50 di antaranya jatuh relatif dekat dengan virus SARS pada silsilah keluarga, termasuk RaTG13.

(Baca Juga: Bukti Bahwa Virus Corona Bukan Ciptaan Manusia)

Kemudian, kelompok ini juga mengambil sampel kotoran kelelawar, yang mereka kumpulkan pada 2013 dari sebuah gua di Moglang di provinsi Yunnan," tegas Ebright.

Jika teori virus corona merupakan ciptaan manusia sebagai senjata biologis sudah terpatahkan, bagaimana dengan ini : Virus Corona Berasal dari Luar Angkasa.

Panspermia adalah teori bahwa kehidupan dapat menghuni planet asing di bawah kondisi yang tepat dan tiba melalui meteorit. Profesor Chandra Wickramasinghe dari Buckingham Centre for Astrobiology mengklaim awal tahun ini bahwa bola api yang terbakar di China Utara pada Oktober 2019 adalah sumber yang paling mungkin dari SARS-CoV-2.

hampir seluruh negara terjangkit corona

(Baca Juga: Penelitian Terbaru: Penderita Corona COVID-19 Kehilangan Rasa di Lidah)

Sayangnya tidak ada laporan tentang meteorit yang ditemukan di China. Kesamaan dari SARS-CoV-2 dengan SARS dan MERS adalah bukti lain bahwa teori ini tidak memiliki kaki, karena sangat tidak mungkin bahwa virus ekstraterestrial akan berevolusi dengan cara yang persis sama dengan patogen yang berada di bumi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak beberapa waktu lalu telah menetapkan coroba sebagai wabah pandemi global. Hingga Selasa (24/3/2020) pagi website worldometers mencatat sebanyak 381.744 orang dari 195 negara positif corona, meninggal dunia 16.558 orang dan berhasil sembuh 102.429.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini