Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada, Nyeri Otot Gejala Corona yang Baru

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Rabu 08 April 2020 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 08 620 2195897 waspada-nyeri-otot-gejala-corona-yang-baru-pXIBdSsn0j.jpg Nyeri Otot Gejala Baru Corona

Sejak merebak pada akhir 2019, para ahli medis telah menetapkan gejala paling umum yang ditunjukkan pasien positif COVID-19 adalah demam di atas 38 derajat celcius. Sekiranya dari 55.924 kasus COVID-19 di China per Februari 2020, 87,9 persen pasien positif COVID-19 menunjukkan gejala tersebut.

Namun, pada akhir bulan Maret 2020 WHO merilis beberapa gejala tambahan yang dialami pasien COVID-19. Gejala tambahan tersebut adalah napas pendek-pendek (18.6%), nyeri otot atau nyeri sendi (14.8%), sakit tenggorokan (13,8%), sakit kepala (13,6%), menggigil kedinginan (11,4%), mual atau muntah (5%), hidung tersumbat (4,8%), dan diare (3,7%).

Namun, baru-baru ini para ahli mengungkap fakta baru yang mengejutkan. Memasuki bulan April 2020, para ahli menyebut virus corona yang terus bermutasi telah memasuki fase jinak.

Bentuk virus corona

(Baca Juga : Terinfeksi Corona COVID-19, Tung Desem Waringin Awalnya Rasakan Gejala Menggigil)

Hal tersebut menyebabkan COVID-19 tidak lagi menyebabkan batuk kering, sesak napas dan demam, tetapi gejalanya menjadi nyeri otot. Megan Coffee dari Universitas New York yang merupakan pemimpin penelitian mengatakan, mereka menemukan hubungan antara nyeri otot dan kasus COVID-19 selama analisis terhadap 53 pasien di Wenzhou, Tiongkok.

Namun, Prof Coffe akan bertanya kepada pasien tentang sesak napas sebelum gejala lain yang kurang serius. "Harapan kami adalah untuk membantu dokter pada tahap pertama untuk dapat mengidentifikasi siapa yang mungkin sakit karena banyak kasus ringan," ujarnya yang dikutip Business Insider.

(Baca Juga : Orang Tanpa Gejala Corona COVID-19 Semakin Banyak)

Sementara menurut Thesun, nyeri disebabkan oleh sitokin yang dilepaskan ke dalam tubuh sebagai respons terhadap infeksi.

cuci tangan efektif cegah corona

Sementara itu, ribuan urutan genetik virus telah diunggah ke database terbuka NextStrain yang menunjukkan bagaimana virus bermigrasi dan membelah menjadi subtipe baru. Para peneliti mengatakan data menunjukkan virus corona bermutasi rata-rata setiap 15 hari, menurut National Geographic.

(Baca Juga : Cara Membedakan Batuk Biasa dan Gejala Corona)

Sedangkan, salah satu pendiri NextStrain, Trevor Bedford, mengatakan bahwa mutasi sangat kecil sehingga tidak ada satu strain yang lebih mematikan daripada yang lain. Para peneliti juga percaya strain tidak akan tumbuh lebih mematikan ketika berevolusi.

(Baca Juga : Awas! Mata Merah dan Berair Bisa Gejala Virus Corona)

"Mutasi ini benar-benar jinak dan berguna sebagai potongan teka-teki untuk mengungkap bagaimana virus menyebar," tutur Bedford kepada National Geographic yang dikutip The Sun Minggu 5 April 2020.

Dia menambahkan berbagai jenis virus memungkinkan untuk melacak penularannya dan seberapa luas penyebarannya, yang mengindikasikan apakah kebijakan isolasi sendiri berdampak.

(Baca Juga : Kisah Haru Krisnen, Bocah yang Kelaparan karena Lockdown Corona COVID-19)

“Kita akan dapat mengetahui seberapa jauh transmisi yang kita lihat dan menjawab pertanyaan,‘ Bisakah kita melepaskan kaki kita dari gas? ” kata Bedford.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini