Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investor Tunggu Kebijakan Bank Sentral Pasca Pilpers AS, Suku Bunga Turun?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 04 November 2020 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 04 620 2304001 investor-tunggu-kebijakan-bank-sentral-pasca-pilpers-as-suku-bunga-turun-LQC8aBD30I.jpg Investasi (Shutterstock)

JAKARTA - Para investor kini masih menunggu hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres) di Amerika Serikat. Mengingat saat ini ketidakpastian semakin besar menunggu siapa pemenang dari pemilahan presiden kali ini.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pasca pemilu nanti, para investor menunggu kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed). Di mana kebijakan baru dari The Fed baru akan turun pada kamis mendatang.

 Baca juga: Orang Tajir di Inggris Pasang Taruhan Rp18,7 Miliar untuk Hasil Pilpres AS

“Reserve Bank of Australia mempertahankan suku bunganya tidak berubah di 0,10% karena menurunkan kebijakannya pada hari sebelumnya, dan Bank of England akan menurunkan kebijakannya pada hari Kamis,” ujarnya kepada Okezone, Rabu (4/11/2020).

Jika Joe Biden pelaku pasar mempertimbangkan apa yang kemungkinan besar merupakan program stimulus COVID-19 yang substansial. Stimulus ini bisa melemahkan dolar dan meningkatkan nilai emas sebagai tanggapan.

 Baca juga: Pilpres AS Penuh Ketidakpastian, Investasi Apa Nih?

“Potensi Demokrat menguasai DPR, Kongres, dan kursi kepresidenan juga menciptakan skenario positif untuk harga emas,” kata Ibrahim

Meskipun, para investor ini masih akan memilih untuk jenis investasi yang safe heaven. Apalagi ketika Presiden Donald Trump di menyatakan akan menolak untuk menerima hasil pemungutan suara jika dia kalah.

“Presiden Donald Trump juga, di berbagai waktu berbeda, menyatakan bahwa dia akan menolak untuk menerima hasil pemungutan suara jika dia kalah. Ketidakpastian yang diciptakan oleh hal ini mendorong perpindahan ke aset safe haven,” jelasnya.

 Baca juga: Harapan Pelaku Pasar Modal untuk Pilpres AS

Di samping itu juga menunggu keseriusan dalam penanganan covid-19 yang belakangan memunculkan gelombang kedua. Akibat muncul laginya virus covid-19 ini juga membuat beberapa negara di Uni Eropa dan Amerika Serikat melakukan lockdown kembali.

“Namun, covid-19 utama muncul di seluruh Eropa dan AS. Bahkan negara-negara anggota Uni Eropa melakukan Lockdown selama 1 bulan yaitu di bulan November 2020 dan ini menimbulkan kekhawatiran atas tekanan ekonomi yang akan berdampak terhadap konsumsi masyarakat dan stagnasi investasi sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kuartal Keempat kembali kontraksi,” jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini