Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lacak Corona, WHO Percaya Hasil Rapid Test Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 29 September 2020 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 29 620 2285477 lacak-corona-who-percaya-hasil-rapid-test-covid-19-hBKUZjXmnJ.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Pemeriksaan Rapid Test Covid-19 diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tes antigen tersebut dinilai lebih cepat dan murah dalam melacak keberadaan virus corona yang mana ini sangat diperlukan negara dalam mengatasi pandemi.

Dijelaskan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rapid Test sangat penting untuk mencari keberadaan virus di tengah masyarakat. Dengan pelacakan yang cepat, diharapkan tindakan isolasi kontak dekat bisa segera dilakukan dan penyebaran virus bisa dihentikan.

"Rapid Test berkualitas tinggi menunjukkan kepada kita di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk melacak dan mengisolasi kontak dekat dengan cepat, serta memutus rantai penularan. Test ini pun penting bagi pemerintah yang ingin ekonominya membaik, sejalan juga dengan upaya menyelamatkan nyawa manusia," kata Dr Tedros, dikutip dari laman resmi WHO.

Rapid Test

Dalam laporan tersebut, WHO pun diketahui siap menyalurkan 120 Rapid Test ke negara-negara berpenghasilan rendah hingga sedang. Harga per unitnya sekitar Rp74 ribuan dan akan disebarkan dalam periode 6 bulan ini.

Rapid Test yang 'dijual' WHO tersebut diklaim bisa mengeluarkan hasil test hanya dalam waktu 15 menit, jauh lebih baik dari apa yang sudah ada di pasaran. Ya, kita tahu bersama, hasil Rapid Test bisa memakan waktu setengah atau bahkan sejam.

Tujuan WHO jelas, supaya pelacakan virus corona di masyarakat bisa diperluas sehingga pengendalian penyakit bisa dilakukan dengan benar. Rapid Test tersebut pun dinilai tidak membenani negara berpenghasilan rendah hingga sedang, karena harganya yang sangat murah.

Sementara itu, para pakar dan ahli kesehatan di seluruh dunia dengan tegas mengatakan bahwa tidak bisa hasil Rapid Test dipercaya. Sebab, tingkat kesalahan hasil Rapid Test cukup tinggi, sehingga bisa memberikan hasil negatif atau positif palsu.

Tes Covid-19

Seperti dijelaskan Direktur Laboratorium Mikrobiologi Klinis di Vanderbilt University Medical Center, dr. Romney Humphries, Ph.D, pada Fox News, Rapid Test memiliki akurasi deteksi 75-80 persen, sedangkan PCR Test, akurasinya bisa mencapai 90-95 persen. Ini yang menjadi kekurangan dari Rapid Test Covid-19.

Karena itu, menjadi sebuah fakta ketika hasil Rapid Test Covid-19 menyatakan non-reaktif tetapi sejatinya di dalam tubuh pasien terdapat virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.

"Kemampuan Rapid Test untuk mengidentifikasi dengan benar mungkin tidak selalu relevan secara klinis. Ini bisa terjadi karena tingkat virus di dalam tubuh seseorang sangat rendah, sehingga tak 'terbaca' Rapid Test," paparnya dikutip dari New York Post.

Tingkat virus yang rendah ini maksudnya adalah kondisi saat pasien baru mulai terpapar virus sehingga infeksi yang terjadi belum begitu parah. "Saat virus sudah mereplikasi menjadi semakin banyak, di situlah dikatakan tingkat viral load tinggi," terang dia.

Baca Juga : Cantiknya Amanda Manopo Pakai Dress Kupu-Kupu, Bang Billy: Baby I Like It

Dengan fakta tersebut, dr Humphries pun mengkhawatirkan potensi terjadinya penyebaran virus yang lebih masif karena status 'bebas corona' yang tak valid dari Rapid Test Covid-19.

Keraguan hasil Rapid Test pun disampaikan The Infectious Disease Society of America (IDSA) dalam makalah ekstensif tentang pengujian serologis Covid-19. Dalam laporan tersebut, para peneliti di organisasi itu menemukan fakta bahwa pengujian antibodi tidak cukup baik untuk menentukan kekebalan atau risiko infeksi ulang. Ada anggapan juga bahwa antibodi bisa larut dalam darah dan karena itu, pengujian antibodi dinilai tak penting.

"Tes antibodi ini tidak dapat menginformasikan keputusan untuk menghentikan jarak fisik antar orang atau mengurangi seseorang untuk menggunakan alat pelindung diri," tulis laporan IDSA, menurut New York Post.

Dari penjelasan tersebut, bisa dimaknai bahwa Anda kurang beruntung jika Anda mencoba untuk menentukan apakah penyakit flu pada Februari lalu itu benar-benar Covid-19. Terlebih, implikasi lainnya adalah bahwa apa yang disebut 'kekebalan' itu tidak ada.

Jika pengujian antibodi saat ini tidak cukup baik untuk membuktikan seseorang mengidap Covid-19, maka Rapid Test tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan dokumentasi apapun yang bisa menjelaskan hal lanjutannya.

"Faktanya, Rapid Test dipilih banyak rumah sakit untuk dapat cepat memeriksa kekebalan Covid-19 sekarang ini," tulis peneliti. Terkait itu semua, PCR Test masih jadi pengujian yang efektif menentukan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Hal yang menjadi kekurangan dari Rapid Test adalah kekhawatiran tes hanya mampu mengenali antibodi dari virus yang baru terdeteksi, tetapi melewati pasien lama yang sudah terinfeksi paru-parunya. Oleh karena itu, penelitian semacam itu akan selalu menghasilkan persentase imunitas yang lebih rendah dalam komunitas.

Rapid Test

Meski negitu, Rapid Test tetap memiliki kegunaan potensial dalam penelitian. Salah satunya melibatkan evaluasi pasien individu dengan kecurigaan klinis yang sangat mengarah pada Covid-19. Rapid Test juga dilakukan apabila pasien atau unit fasilitas kesehatan tidak memiliki akses tes PCR.

Menjadi informasi yang perlu diketahui masyarakat bahwa Rapid Test itu melihat adanya IgM, IgG, dan IgA yang semuanya itu merupakan jenis imunoglobulin berbentuk Y atau antibodi sederhananya.

Nah, Antibodi IgM itu muncul belakangan dari Covid-19 dibandingkan virus lainnya. Lalu, IgG itu dapat dideteksi dua minggu setelah infeksi terjadi. Sedangkan untuk IgA, ini tidak sebaik membedakan SARS-CoV2 dibandingkan virus corona lainnya.

Dr Angela Caliendo yang terlibat dalam pembuatan makalah ini menekankan bahwa sejauh ini alat Rapid Test yang ada di publik itu tidak ada yang mencapai angka sensitivitas setidaknya 96 persen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini