Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelaku Pemberi Stigma pada ODP, PDP dan Jenazah COVID-19 Alami Gangguan Mental, Jangan Ditiru!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 14 April 2020 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 14 620 2198852 pelaku-pemberi-stigma-pada-odp-pdp-dan-jenazah-covid-19-alami-gangguan-mental-jangan-ditiru-yZ4cSAgW9i.jpg Ilustrasi. Foto: Okezone

Masyarakat Indonesia tak boleh stres, harus tetap bahagia di tengah pandemi COVID-19. Mental yang sehat bantu perkuat imunitas. Ini pesan yang selalu digaungkan Achmad Yurianto, Jubir COVID-19.

Namun, realita hidup tak selamanya indah. Tetap saja ada cobaan. Itu mungkin yang kini tengah dialami korban stigma COVID-19. Para tenaga medis banyak ditolak pulang ke kediamannya, pasien ODP dan PDP diasingkan dari lingkungan, pun jenazah pasien COVID-19 ditolak dikuburkan. Apa yang terjadi dengan rasa kemanusiaan dan hati nurani kita?

Kasus Perawat Nuria Kurniasih menjadi pukulan keras semua pihak. Kejadian ini juga contoh nyata bagaimana sebagian warga Sewakul, Bandarho, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang seperti hilang hati nurani. Jenazah perawat itu ditolak dikebumikan. Warga pun angkat suara. Mereka mengatakan belum ada sosialisasi terkait penguburan jenazah COVID-19 di kampungnya.

Padahal, sudah dengan tegas dikatakan Direktur Utama RSI Jakarta Sukapura - Muhammadiyah COVID-19 Command Center dr Umi Sjarqiah, SpKFR, MKM, jenazah pasien COVID-19 tidak berbahaya. Virus yang membunuh jasad tersebut tak akan menyebar dan menularkan ke manusia.

"Jenazah pasien COVID-19 tidak menularkan virus. Petugas perawat jenazah pun pastinya sudah menjalankan protokol WHO pada jenazah. Fakta lain, setelah jenazah dikuburkan, virus tak akan bisa hidup karena sifat virus hanya dapat bertahan hidup di sel yang hidup," tutur dr Umi, 5 April 2020.

Baca Juga: Jangan Pernah Beri Stigma Negatif untuk Pasien Covid-19 

Lalu, kenapa penolakan itu tetap dilakukan? Stigma jawabannya. Perilaku ini yang kemudian menjadi sumbu dari segala masalah yang terjadi di luar keterbatasan APD untuk tenaga medis atau belum begitu disiplinnya masyarakat menjalani physical distancing karena angka kasus positif terus bertambah.

Psikolog Siti Suminarti Fasikhah menjelaskan, stigma yang muncul di tengah pandemi COVID-19 ini buah hasil dari pemikiran negatif dan misinformasi. Ketidakcukupan literasi menjadi penyebab terbesar masih terjadinya stigma di tengah masyarakat.

Stigma sendiri merupakan tanda atau ciri yang menandakan pemiliknya membawa sesuatu yang buruk dan oleh karena itu dinilai lebih rendah dibandingkan dengan orang normal (Goffman, 1963: Heatherton, Kleck, Hebl, dan Hull, 2003).

Definisi lain menjelaskan bahwa stigma ialah tipe kontrol sosial yang tak membedakan antara seseorang yang diberi stigma dan mereka yang berperilaku menyimpang, itu menyebabkan mereka disingkirkan dari hubungan sosial dan masyarakat (Djiker dan Koomen, 2007).

Baca Juga: Saat Stigma dan Dampak Sosial Lebih Berbahaya dari Corona, Bagaimana Menghadapinya? 

Stigma ini sekarang menempel erat di tubuh ODP, PDP, pun jenazah COVID-19. Bahkan, perantau pun mulai mendapatkan hal buruk ini. Ya, mereka dianggap membawa 'kesialan' ke kampung halaman dan karena itu tak sedikit menolaknya.

"Tapi, mungkin sebagian dari Anda tak sadar kalau perilaku memberikan stigma ke mereka itu memberi dampak buruk. Korban merasa direndahkan, tertolak, tidak dihargai, teraniaya, sehingga merasa terancam kesejahteraan psikologisnya," papar Suminarti yang juga merupakan Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, melalui meeting Zoom, Senin (13/4/2020).

Ia melanjutkan, stigam terjadi bukan keisengan semata. Stigma terbentuk melalui proses panjang yang mana mungkin ini tak Anda sadari dalam bersosial.

Baca Juga: Bertaruh Nyawa di Tengah Stigma Corona

Jadi, proses terbentuknya stigma itu dimulai dari informasi yang diketahui masyarakat mengenai status si korban stigma. Ketika masyarakat tahu kalau misalnya korban membawa embel-embel COVID-19, maka masyarakat mulai memberikan cap 'pembawa masalah'.

Setelah itu, tanda tersebut diyakini dengan misalnya korban memiliki kondisi kesehatan yang terus memburuk sehingga pelaku menganggapnya berbahaya. Stereotipe pun diberlakukan, korban semakin disudutkan.

Situasi bisa saja semakin buruk ketika tahu korban stigma ternyata diketahui menularkan virus tersebut ke orang lain. Tak ayal, masyarakat akan merespons pemberian prasangka. Pada akhirnya, korban mendapat perlakukan masyarakat.

"Menolaknya, mengasingkannya dari lingkungan sosial, dianggap aneh, bahkan untuk jenazah ditolak dikebumikan di tanah tempat masyarakat itu menginjakkan kaki," sambung Suminarti.

Tapi, sayangnya penolakan itu tak disadari masyarakat telah memberi dampak buruk ke si korban. Masyarakat hanya bersikap benar menurut mereka: menjauhkan si korban dari lingkungan sosialnya.

Dampak buruk itu sebut saja kecemasan luar biasa. Kalau kondisi ini sudah terjadi, maka akan sangat mudah bagi korban kehilangan kesehatan tubuhnya. Imunitasnya dirusak oleh perasaan tidak tenang, ketakutan, dan merasa dijauhi lingkungan.

"Kondisi itu akan menghambat metabolisme tubuh, menghambat peredaran darah, menghambat detak jantung dan ini semua yang akan menimbulkan penyakit fisik lain si korban. Jadi, muncul penyakit baru yang awalnya situasinya sangat psikologis, bisa berubah pada penyakit psikis," papar Suminarti.

#Pelaku pemberi stigma alami gangguan mental

Fakta mengejutkan disampaikan dalam meeting Zoom Covid Talk MCCC dengan tema 'Stigma ODP, PDP, Perantau, Tenaga Medis, dan Jenazah (Terduga COVID-19) tersebut. Dikatakan di sana, pemberi stigma berkaitan erat dengan masalah gangguan mental.

Itu terjadi karena pelaku memberikan stimulus negatif pada otaknya dan perilaku korban. Sehingga tidak tercipta kesejahteraan psikologis di sana yang mana menurut WHO, ada empat indikator yang bisa menjelaskan Anda sehat mental. Kriteria sehat mental itu antara lain mengenali potensi dirinya, mampu menghadapi stres sehari-hari, produktif, dan bermanfaat untuk orang lain.

Dijelaskan pula oleh Psikolog Ratna Yunita, Setiyani Subardjo M.Si., stigma itu sebetulnya merupakan kontrol sosial atas penyimpangan yang terjadi. Penyimpangan itu perilakunya, hanya saja kemudian stigma berkembang menjadi label negatif karena kita seringkali tidak bisa membedakan mana label tindakannya dan mana individu atau kelompoknya.

"Kondisi ini yang kemudian membuat label itu melekat pada diri individu. Nah label yang melekat ini tentu sangat mempengaruhi bagaimana perilaku orang lain terhadap orang yang mendapatkan stigma. Situasi ini memunculkan yang namanya diskriminasi berujung viktimisasi," paparnya.

Lalu, bagaimana kemudian bisa dikatakan pelaku pemberi stigma mengalami masalah dalam kesehatan mentalnya?

"Jika kita lihat konteks pelaku, mungkin fisiknya baik yang artinya sehat. Tapi, psikisnya? Mungkin saja ada trauma masa lalu yang dia alami atau ada emosi yang tidak mampu ditahan. Kemungkinan juga ada kepanikan sampai dia berani melakukan perilaku mengusir, menolak, dan mengintimidasi korban stigma," ungkapnya.

Dosen Psikologi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta ini pun melanjutkan, lalu dari segi sosial, para pelaku ini memiliki tingkat pengetahuan yang tak menyeluruh sehingga menimbulkan perilaku yang 'menyimpang'. Ini juga bisa saja ada campur tangan hoaks yang memang masih ada di tengah masyarakat kita.

Tidak hanya itu, menurutnya, ada aegosentris dan arogansi kelompok tertentu di tengah masyarakat yang merasa paling benar. Kemudian, bicara mengenai spiritualnya, apakah para pelaku ini betul-betul sudah menjalankan perintah Tuhan dengan baik? Ya, bisa saja spiritualnya hanya sebatas label karena mereka memperlakukan manusia lain dengan tidak manusiawi. Memperlakukan manusia lain secara tidak terhormat. "Padahal, itu kan bagian dr sprititualisme," tegasnya.

"Masalah personal yang dimiliki si pelaku pemberi stigma sangat berpengaruh dalam sikapnya bertindak demikian. Mereka yang melabeli orang lain dengan label tertentu justru memperlihatkan bahwa orang tersebut selain mungkin bermasalah, juga memiliki pengetahuan yg terbatas," papar Ratna.

Selain itu, ia merasa setiap manusia dianugerahi empati, bukan begitu? Tapi, yang terjadi pada para pemberi stigma ini apa? Seperti menjelaskan hal sebaliknya, ya.

Ini harusnya menjadi pertanyaan bagi kita semua, terkhusus bagi pelaku pemberi stigma. "Jika memang kita punya empati, tidak akan terjadi penolakan apalagi dengan perilaku kasar dan emosional," lanjut Koordinator Layanan Dukungan Psikososial (LDP) MCCC PP Muhammadiyah tersebut.

Sebab, dengan meniadakan empati dalam diri, ini bisa mengarah pada gangguan cemas, panik, hingga depresi, baik bagi yang mendapat stigma maupun lingkungan sekitarnya. Toh, bukankah kita hidup harusnya saling mengasihi, peduli dengan sesama, dan tolong menolong, bukan begitu?

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini